Anus Sakit, Delapan Korban Sodomi Divisum

277
DIKI SETIAWAN / RADAR TASIKMALAYA DIVISUM. Anak-anak korban sodomi asal Desa Singasari Kecamatan Singaparna sedang menjalani visum di Poliklinik Anak RS SMC Singaparna kemarin.

Siapa Presiden Pilihan Mu ?

SINGAPARNA – Delapan anak laki-laki yang disodomi oleh Ek (16) yakni Ar (10), Riz (10), Dik (10), Gil (9), Ad (7), Kev (7), Fir (7) dan Dim (6) asal Desa Singasari Kecamatan Singaparna menjalani visum et repertum di Rumah Sakit Singaparna Medika Citrautama (RS SMC) kemarin (6/12).
Kasat Reskrim Polres Tasikmalaya AKP Pribadi Atma SPd MH menjelaskan visum dilakukan untuk mengetahui keluhan yang dialami oleh anak yang diduga menjadi korban sodomi. Hasil visum akan dijadikan alat bukti. “Hasil visum belum selesai dan kalau sudah selesai kita akan melakukan pengembangan,” ujar Pribadi kepada wartawan di Satreskrim Polres Tasikmalaya kemarin.
Menurut Pribadi, pihaknya juga sudah meminta keterangan dari para saksi dan calon tersangka atau pelaku. “Pelaku sudah diamankan di polres. Jadi ada penitipan dari orang tua pelaku ke polres. Dengan memuat pernyataan dan permohonan ke polres agar pelaku aman dari ancaman masyarakat dan psikisnya terjaga,” paparnya.
Pribadi meminta kepada masyarakat lain yang merasa anaknya mengeluhkan hal yang sama dengan kedelapan anak yang menjadi korban sodomi untuk melaporkan hal tersebut ke Polres Tasikmalaya. “Intinya kita terus mendalami kasus ini,” tambahnya.
Kanit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Tasikmalaya Aiptu Agus Kasdili menambahkan hasil visum bisa keluar kurang dari tiga hari. “PPA Satreskrim Polres Tasikmalaya akan terus koordinasi ke RS SMC supaya hasil visum bisa lebih cepat keluarnya,” terangnya.
Menurut Agus, kedelapan korban sodomi hampir semua mengeluhkan rasa sakit di bagian anusnya. Terutama saat mau buang air besar (BAB).
Orang tua korban Riz (10), Tin (28) mengaku kaget anaknya menjadi korban sodomi. Ia mengetahuinya ketika anaknya akan BAB mengeluh rasa sakit di bagian anus. “Saya minta pelaku dihukum seberat-beratnya,” ujarnya.
Orang tua korban Ad (7), Pong (45) juga menyebut anaknya merasakan sakit di bagian anus. “Kalau tidak bicara sakit di bagian anus ketika buang air besar, saya tidak akan tahu anak saya jadi korban sodomi,” paparnya.
Menurut Pong, delapan anak yang menjadi korban sodomi masih satu kampung. Usianya ada yang TK, kelas I SD, III dan IV SD. Usianya 7-10 tahun. “Minta kepada polisi pelakunya dihukum seberat-beratnya. Jangan ada di Kampung Panayagan lagi,” tutur dia.
Pong menuturkan sebelum kejadian anaknya sering diajak pelaku untuk bermain layang-layang. Kemungkinan besar pelaku melakukan sodomi saat bermain. “Bahkan kata anak saya, pernah dibawa ke WC dan rumah pelaku. Kemungkinan di situ,” tutur dia.
Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Kabupaten Tasikmalaya Ato Rinanto menambahkan pihaknya akan terus mendampingi para korban. “KPAI juga rencananya besok (hari ini) akan membawa pelaku ke psikolog untuk memeriksa kondisi kejiwaannya serta dipulihkan,” ungkapnya. (dik/yfi)

CALEG KITA

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.