Arab Saudi Selasa, Indonesia Rabu

225

JAKARTA – Pemerintah Indonesia menetapkan Idul Adha (10 Dzulhijjah) jatuh pada 22 Agustus. Penetapan ini ternyata berbeda dengan keputusan Arab Saudi yang memutuskan Idul Adha jatuh pada 21 Agustus. Dengan demikian saat masyarakat Indonesia menjalankan puasa Arafah (21 Agustus), jamaah haji sudah merayakan Idul Adha.

Perbedaan penetapan Idul Adha antara Indonesia dan Arab Saudi itu diungkapkan oleh Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Thomas Djamaluddin. Dia menjelaskan umat Islam di Indonesia sebaiknya tetap menghormati dan menghargai keputusan Arab Saudi. ’’Keputusan Arab Saudi itu didasari pada hasil rukyat,’’ katanya belum lama ini.

Ketika digelar rukyat pada Sabtu (11/8) lalu, tim rukyatul hilal Arab Saudi dikabarkan berhasil melihat hilal. Sebab pada saat itu tinggi hilal di Arab Saudi mencapai 2 derajat lebih. Sehingga sangat memungkinkan untuk terlihat. Thomas mengatakan pada posisi 2 derajat, penampakan hilal sangat tipis.

Sementara di Indonesia, saat rukyat 11 Agustus, tinggi hilal di Indonesia masih minus atau di bawah ufuk. Sehingga sidang isbat Kementerian Agama (Kemenag) memutuskan Idul Adha diputuskan jatuh pada 22 Agustus.

Terkait adanya perbedaan tersebut, Thomas mengatakan di Indonesia telah disepakati ketentuan bahwa pelaksanaan Idul Adha tidak merujuk keputusan Arab Saudi. ’’Tetapi merujuk pada ketetapan awal Dzulhijjah yang didasarkan pada hisab dan rukyat di Indonesia,’’ jelasnya.

Dengan demikian pelaksanaan puasa Arafah di Indonesia tetap merujuk keputusan Kemenag yakni pada Selasa, 21 Agustus. Terlepas dengan kondisi di Arab Saudi bahwa jamaah haji menjalani wukuf di Arafah pada 20 Agustus.

Apakah sah berpuasa Arafah saat Arab Saudi merayakan Idul Adha? Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah Kemenag A Juraidi mengimbau masyarakat tak perlu bimbang dalam melaksanakan puasa sunnah Tarwiyah (8 Dzulhijjah) dan puasa Arafah (9 Dzulhijjah). Acuannya tetap sesuai dengan hasil sidang isbat Kemenag. ’’Sebab waktu pelaksanaan salat dan puasa ditetapkan secara lokal berdasarkan kondisi negara masing-masing,’’ katanya.

Berbeda dengan biasanya, sidang isbat (11/8) tidak dipimpin Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin. Sebab Lukman sudah terbang ke Saudi memimpin rombongan Amirul Hajj. Sidang isbat penetapan awal Dzulhijjah 1439 ini dipimpin oleh Dirjen Bimas Islam Kemenag Muhammadiyah Amin.

Usai sidang tertutup yang berlangsung sekitar 30 menit, Amin menyampaikan hasilnya. Dia mengatakan dari 92 titik pemantauan hilal, ada 29 orang yang menyampaikan laporan ke Jakarta. “Hasil laporannya seluruhnya tidak berhasil melihat atau mengamati hilal,” katanya.

Pemicunya hilal masih di bawah ufuk. Sesuai dengan perhitungan metode hisab, posisi hilal di Indonesia berada di -1 derajat sampai kurang dari 0 derajat di bawah ufuk. Dengan demikian sidang isbat secara bulat memutuskan bahwa bulan zulqadah disempurnakan (Istimal) menjadi 30 hari.

“Maka 1 Dzulhijjah jatuh pada Senin 13 Agustus,” tutur Amin. Sehingga Idul Adha (10 Dzulhijjah) jatuh pada Rabu 22 Agustus. Dia bersyukur saat ini tahun ini tidak ada perbedaan penetapan awal puasa, Idul Fitri, maupun Idul Adha.

Namun Amin menjelaskan potensi kompak berlangsung sampai 2020. Berikutnya pada 2021 bakal terjadi potensi penetapan hari besar. Untuk itu Kemenag terus berupaya menerapkan kalender Hijriyah tunggal. Dia berharap kriteria dalam kalender Hijriyah tunggal itu disepakati oleh ormas-ormas keagamaan di Indonesia.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Basri Barmanda bersyukur karena semua ormas keagamaan Islam menerima hasil sidang isbat. Dia menghimbau umat Islam untuk menjalankan salat Idul Adha dan berkurban. Selain itu terus menjaga persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.

LEBIH DULU
Sementara itu, hari raya Idul Adha tahun ini diselenggarakan cukup berwarna dan berbeda di beberapa wilayah Indonesia. Meski pemerintah telah menetapkan Idul Adha jatuh pada Rabu (22/8), ada pula sebagian masyarakat yang melaksanakan hari raya lebih dulu.

Salah satunya di Balikpapan, Masjid Namirah, Balikpapan Baru akan mengadakan salat Idul Adha pada Selasa (21/8). Ketua Yayasan Namirah, Gatot Subandono menyebutkan pihaknya tidak bermaksud ingin berbeda dan tidak ada pengaruh dari kelompok tertentu.

Menurutnya, ibadah ini semata-mata soal keyakinan dan bukan ikut-ikutan. Namun, aturan penetapan hari raya Idul Adha ini menyesuaikan Alquran dan hadis serta ahli sunah. “Penetapan Selasa semata-mata mengikuti waktu aktivitas wukuf dalam ibadah haji. Bukan juga mengikuti kebijakan Arab Saudi, tapi aktivitas kegiatan haji di sana,” ucapnya dikutip dari Kaltim Post (Jawa Pos Group), Minggu (19/8).

Dia berharap perbedaan ini dapat ditanggapi secara positif sebagai sebuah khasanah untuk umat muslim. Apalagi masing-masing memiliki dalil. “Kami harap ini bisa diterima oleh kaum muslimin sebagai sesuatu yang lumrah. Hal yang penting persatuan umat tetap terjaga,” ujarnya.

Konsultan Yayasan Namirah Ari Prabowo mengungkapkan, perbedaan perayaan Idul Adha adalah hal yang biasa. Tidak terjadi kali ini saja, beberapa waktu lalu juga pernah.
Dia berpendapat, semua keputusan baik dan mempunyai dasar serta rujukan. “Namun Pengurus Masjid Namirah sendiri murni memiliki alasan karena mengikuti waktu wukuf di Arafah. Kondisi ibadah kaum muslimin yang melakukan wukuf,” jelasnya. (wan/tom/jpg)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.