Artefak Ganesha & Manusia Kerdil di Leuwisari Tasik Bukan Peninggalan Sejarah

751
0

KABUPATEN TASIK – Arkeolog Balai Arkeologi Jawa Barat (Jabar), Lutfi Yondri menilai, penemuan patung yang diduga artefak ganesha (gajah duduk) di kawasan wisata Batu Mahpar, Kampung Tegalmunding, Desa Linggawangi, Kecamatan Leuwisari, Kabupaten Tasikmalaya, bukan peninggalan sejarah yang penting.

Sebab, kata dia, penemuan itu dianggap janggal. Dan untuk mengetahui nilai sejarah sebuah benda harus dilihat dari bahan dan bentuk benda tersebut.

Secara sepintas terlihat patung itu terbuat dari batu cadas atau batu pasir. Jenis bebatuan itu sangat mudah untuk diubah bentuknya.

Berita terkait : 1 Batu Ganesha, Manusia Kerdil dan 22 Patung Ditemukan Warga Sariwangi Tasikmalaya
Berita terkait : Selain Artefak Ganesha & Manusia Kerdil, Ada Tapak Kaki di Objek Wisata Batu Mahpar Tasik

“Ini cukup menarik. Saya sudah mendapat berita itu tadi malam foto-foto itu. Tapi kalau lihat bahannya, itu mudah sekali diubah bentuknya,” katanya kepada wartawan melalui ponselnya, Selasa (11/2) sore.

Ia menerangkan, patung-patung yang ditemukan dalam satu lokasi itu juga memiliki bentuk manusia dan gajah (ganesha).

Namun, dalam ilmu arkeologi, patung berbentuk manusia itu berbeda zaman dengan patung ganesha.

Baca juga : Hubungan Ridwan Kamil & Prabowo Kembali Terbina, Masa Depan Lebih Penting dari Masa Lalu

Menurut Lutfi, dalam kepercayaan masa lalu, patung manusia itu digunakan untuk pemujaan arwah leluhur.

Sementara patung ganesha sudah termasuk pemujaan dalam konsep agama Hindu.

Jika ditemukan patung-patung itu dalam satu lokasi yang berdekatan, ia menilai telah terjadi sebuah kesalahan.

“Tidak sesuai dengan pakem arkeologi, baik dalam waktu maupun masa budaya,” terangnya.

Secara arkeologi, tambah dia, patung-patung peninggalan masa lalu itu harus jelas kontekstualnya. Konteks itu dapat dikaitkan dengan kebudayaan, sejarah, atau asosiasinya dengan benda-benda lain, di lokasi tersebut.

Ia menegaskan, patung-patung yang ditemukan itu itu tidak akan berada dalam lokasi ketika berbeda zaman.

“Dan itu ternyata, setelah saya verifikasi merupakan barang-barang yang belum lama dibuat untuk kepentingan pariwisata. Bukan benda lama,” tegasnya.

Lutfi mengakui, dalam lintas sejarah Tatar Sunda, memang terdapat benda-benda peninggalan seperti patung-patung.

Namun, penempatan dan lokasi penemuannya tidak seperti yang ada di kawasan wisata Batu Mahpar.

Meski lokasi penemuan patung-patung itu berdekatan dengan peradaban Galunggung, yang masuk dalam sejarah Sunda, bentuk benda-benda peninggalannya tidak seperti itu.

“Atau jika dikaitkan dengan Kerajaan Galuh tidak sama. Kalau kerajaan Sunda dan Galuh itu sudah membuat konsep kepercayaan yang tidak seperti itu lagi,” jelasnya.

Kendati demikian, informasi yang sudah beredar di media akan menjadi dasar untuk tim arkeologi pergi ke Batu Mahpar. Sebab, pembuktian akan sejarah harus dilakukan dengan nalar, bukan berdasarkan berita viral.

(rezza rizaldi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.