Hanya untuk Warga Kabupaten Tasik
SIAPA BUPATI & WAKIL BUPATI PILIHAN ANDA?

4%

19.6%

8.1%

68.3%

Asep: RKB Covid-19 Kabupaten Tasik Berantakan

788
1
Asep Muslim Anggota Badan Anggaran DPRD Kabupaten Tasikmalaya

SINGAPARNA – Anggota Badan Anggaran DPRD Kabupaten Tasikmalaya Asep Muslim menilai rencana kebutuhan belanja (RKB) yang dibuat SKPD dalam penanganan dan pencegahan Covid-19 berantakan.

Bahkan hasil analisisnya banyak terjadi tumpang tindih kegiatan dan harga pengadaan tak rasional.

Baca juga : Menggila, DBD di Kota Tasik 850 Kasus, 17 Meninggal, Kawalu Paling Tinggi

“Kalau saya melihat pembuatan RKB ini tidak ada koordinasi satu sama lain. Misalnya untuk pengadaan alat pengukur suhu tubuh yang ada di semua RKB SKPD dengan harga berbeda-beda. Termasuk juga pengadaan masker yang cukup signifikan perbedaan harganya,” ujarnya kepada Radar, Senin (13/7).

Selain itu, kata dia, jika mengacu kepada Peraturan Pemerintah (PP) No 12 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Keuangan pada Pasal 3 yang menjelaskan bahwa pengelolaan keuangan daerah harus dilaksanakan dengan tertib, efisien, ekonomis, efektif, transparan dan bertanggung jawab dengan memperhatikan rasa keadilan, kepatutan, manfaat untuk masyarakat serta taat pada peraturan perundang-undangan.

“Kalau melihat RKB ini, dari prinsip kepatutan saja jelas tidak tertib, apalagi efisien. Karena kalau kita cek dalam RKB ini banyak yang tidak efisien seperti pengadaan barang dan kegiatan yang jauh dirasakan manfaatnya bagi masyarakat,” katanya.

Kata dia, dirinya merangkum data anggaran untuk makan minum atau jamuan dalam rapat di semua SKPD yang melaksanakan dana Covid-19 mencapai Rp 498 juta.

Kemudian ada pengadaan nasi kotak sebanyak 94.000 di Dinas Perhubungan dan 37.000 di Satuan Polisi Pamong Praja dan Pemadam Kebakaran. “Artinya untuk pengadaan makanan siapa saji yang katanya dibagikan ke masyarakat ini mencapai sekitar Rp 1,3 miliar,” katanya.

“Kemudian ada yang fantastis lagi pengadaan dengan judul makan minum rapat untuk 1.000 dus dengan harga satuan Rp 50.000 dan total anggarannya Rp 50 juta di Dinkes. Ini tidak jelas untuk apa dengan harga yang cukup fantastis,” katanya, menambahkan.

Lanjut dia, dirinya melihat RKB yang diberikan ke DPRD terdapat alokasi anggaran honor Satpol PP di Satuan Polisi Pamong Praja dan Pemadam Kebakaran. Padahal di Dinas Perhubungan pun juga ada alokasinya.

“Lalu soal kepatutan lagi, di tengah pandemi masyarakat membutuhkan bantuan dan kesusahan ekonomi. Tapi di sisi lain para pejabat gugus tugas mendapatkan operasional sebesar Rp 7 juta, 6 juta, 5 juta,” terangnya.

Lanjut dia, hasil analisis banyak angka yang tidak rasional dan selisih harga RKB dengan realita di lapangan. Seperti cetak amplop per Rp 650 padahal cek lapangan sekitar Rp 500. Cetak amplop 125.000 x Rp 650. “Jadi acuan-acuan harganya ini ke mana,” katanya.

Kata dia, kemudian ada pengadaan barang yang sama di Dinas Kesehatan dan RSUD SMC, tapi dalam RKB harganya berbeda. “Contoh di RSUD SMC ajuan pengadaan sepatu bot Rp 250.000 sedangkan di Dinkes Rp 330.000 dan sepatu bot di lapangan setelah dicek sekitar Rp 80.000. Berarti ada selisih harga.

Saya tidak sedang menuduh ada korupsi, karena ini rencana belanja SKPD tapi ini mengacu standarnya ke mana,” katanya.

Kemudian, kata dia, ada juga pengadaan Mobile X-Ray ajuan dalam RKB Rp 1,3 miliar, kemudian dilihat di E-Katalog Rp 276 juta jadi ada selisih hampir 1 miliar.

“Kita tidak tahu acuannya dari mana bisa muncul RKB seperti ini. Kalau selisihnya tidak terlalu besar mungkin wajar, tapi ini fantastis,” katanya.

Tambah Asep, kemudian ada masker N95 di SMC dengan harga Rp 1,6 juta per buah dan jumlah pengadaan 34 serta total anggarannya Rp 55 juta. “Kalau yang ini saya butuh penjelasan masker seperti apa dengan seperti itu. Kalau satu box mungkin, tapi dalam RKB per buah. Sementara saya cari-cari belum ada yang mencapai Rp 1,6 juta,” ujarnya.

Sedangkan di Dinas Pertanian ada alokasi penyemprotan disinfektan di 700 pesantren dan 39 masjid selama tiga bulan dengan penyemprotan empat kali. Tapi pada kenyataannya di lapangan ada pesantren yang hanya satu kali, dua kali bahkan tidak sama sekali.

“Artinya ada alokasi yang tidak direalisasikan. Padahal sudah jelas petugasnya diberikan uang lelah,” katanya.

“Kalau saya melihat RKB ini memang sah-sah saja karena rencana, tapi ada standar juga yang patut. Saya berbaik sangka anggaran ini belum terealisasi semua. Artinya ada dua kemungkinan, kalau kegiatan dilaksanakan sesuai RKB Rp 50,6 miliar maka saya menilai ada potensi kerugian negara. Tapi kalau misalnya ada evaluasi dan pembenahan dalam RKB yang lebih rasional berarti ada sisa anggaran,” ujarnya, menjelaskan.

Kata dia, RKB tersebut menunjukkan pemkab gagal menentukan kegiatan prioritas untuk penanganan Covid-19. Itu terbukti tidak ada anggaran pembuatan infrastruktur pencegahan Covid-19 seperti tempat cuci tangan di pusat keramaian, misalnya pasar tradisional.

“Perbup No 35/2020 tentang Pedoman PSBB juga tidak ada artinya, dalam perbup tersebut diatur selama PSBB mini market buka jam 09.00 tutup 17.00, faktanya tetap seperti biasa dan tidak ada tindakan, padahal ada anggaran penegakan hukum dalam RKB,” katanya.

Asep pun merinci dari total anggaran Covid-19 sebesar Rp 50,6 miliar di antaranya untuk operasional saja Rp 15,5 miliar, pengadaan barang atau APD Rp 6,3 miliar, anggaran sosial Rp 28,7 miliar. “Mungkin yang jelas hanya Rp 24 miliar untuk BLT dan bisa diverifikasi. Sedangkan nasi kotak dan bantuan santri seperti apa verifikasinya atau sulit diverifikasi,” terangnya.

Baca juga : Hari Ini, Siswa di Kota dan Kabupaten Tasik Hanya Daftar Ulang, Proses Belajar Masih Sistem Daring

Kata dia, pihaknya menanyakan seperti apa realisasi secara keseluruhannya. “Ini bentuk pertanggung jawaban moral saya kepada masyarakat, bahwa pertama kali memunculkan transparansi anggara adalah saya, sekarang hasil kajian saya seperti ini dan saya kembalikan lagi kepada masyarakat seperti apa menilainya,” ujarnya.

“Sedangkan langkah politik di diserahkan sepenuhnya kepada pimpinan, karena kebijakan di DPRD kolektif kolegial dan tidak bisa saya berjalan sendiri,” katanya, menambahkan. (yfi)

loading...

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.