Atlet Peraih Emas Sea Games Filipina asal Puspahiang Tasik, Ngaku Tak Ditelantarkan KONI

181
0

KOTA TASIK – Peraih medali 1 emas dan 1 perunggu di Sea Games 2019 Filipina di cabang olahraga (Cabor) Pentathlon asal Puspahiang, Kabupaten Tasikmalaya, Muhamad Taufik, mengaku tak pernah diterlantarkan KONI dan Pemkab Tasikmalaya.

Hal itu ditegaskan dia saat berÄ·unjung ke Sekretariat KONI Kabupaten Tasik di Jalan Pemuda Kota Tasik, Rabu (11/12).

“Tak pernah saya diterlantarkan. Saya selalu komunikasi dengan KONI mulai dari berangkat, dan pas di Filipina,” ujarnya kepada radartasikmalaya.com.

Terang dia, hanya saja memang saat dia pulang ke kampungnya, Senin (9/12) lalu, memang dia sengaja tak memberitahukan ke pihak KONI Kabupaten Tasik karena tak mau merepotkan.

Jadi, dia menegaskan tidak benar soal kabar ditelantarkan.

“Walaupun saya pulang naik kendaraan umum, saya tak mau merepotkan orang tua saya di KONI dan Pemkab Tasik. Jadi suport dari KONI dan pemerintah daerah itu sebenarnya sangat maksimal. Saya mohon maaf terkait ada berita-berita soal lainnya. Saya memang selonong boy orangnya,” terangnya.

“Jadi saya ingin pulang karena sakit saya makin parah ditenggorokan. Karena di sana (Filipina) sempat terjadi peradangan di dalam tenggorokan saya. Jadi sempat minum air banyak dan minum es. Tidak benar bahwa saya ditelantarkan. Ini hanya kurang komunikasi saja,” sambungnya.

Beber dia, yang pasti raihan ini menjadi salah satu cita-citanya yang terwujud. “Alhamdulillah ini (raihan 1 emas dan 1 perunggu) untuk keluarga, kampung halaman saya dan Indonesia umumnya. Pokoknya soal kepulangan saya itu karena murni saya sakit,” bebernya.

Dia pun sempat menceritakan kronologi ke pulangannya ke Tasik. Jadi, pada Senin itu dirinya sampai di Jakarta jam 2.30 disambut Kemenpora.

“Kita diarahkan Kemenpora menginap di hotel khusus para atlet. Karena saya sakit dan kebetulan ada atlet dari Jabar lainnya, 5 orang atlet lainnya mau pulang jadi ikut pulang juga pakai bus diakomodasi Kemenpora,” tambahnya.

Kemudian, lanjut dia, sampai di Bandung subuh jam 05.00 WIB, lalu menjemput istrinya.

“Di Bandung juga saya tak menginformasikan ke siapapun mau pulang. Sampai sore saya merasa semakin sakit badan akhirnya cepat pulang ke Tasik. waktu itu perjalanan sekitar 1/2 jam dan menginformasikan ke kakak saya tolong jemput di terminal Singaparna,” lanjutnya.

Kebetulan pas dia menghubungi kakaknya itu, tutur dia, ada Kapolsek Puspahiang sedang menjenguk ke rumahnya.

“Akhirnya di tengah perjalanan saya mau dijemput di Polres Garut tapi karena sudah lewat jadinya berhenti di Polsek Cilawu,” tuturnya.

Dia kembali menegaskan, dirinya selalu intensif berkomunikasi dengan KONI dan Pemkab Tasik.

“Di sana selalu komunikasi dengan KONI dan sudah bilang akan menginformasikan KONI jika pulang. KONI tak pernah luput membantu saya walaupun saya yang selalu datang untuk meminta doa serta kadang meminta ongkos untuk saya. Saya menganggap KONI adalah orang tua saya,” tegasnya.

Selain karena sakit, tukas dia, dirinya juga sudah rindu kampung halaman dan pengen cepat-celat memberitahukan raihan membanggakan ini ke kampungnya.

“Apalagi daerah Puspahiang boro-boro emas Sea Games, emas Porda saja belum pernah. Ini karena saking semangatnya. Dan olahraga ini adalah cita-cita saya. Apalagi saya tak seperti atlet lain yang dibina. Tapi saya jadi atlet karena ingin ketemu ibu saya,” tukasnya.

(rezza rizaldi / radartasikmalaya.com)

Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.