Awas, Ada Gipsi!

219
0

SEORANG teman di Swedia menelepon dan mengingatkan saya agar berhati-hati terhadap para gipsi. Ia orang Indonesia, sudah lama menetap di sana setelah menikah dengan suami Swedia-nya, dan ia membaca apa yang saya ceritakan di sebuah situs web tentang perjumpaan dengan dua perempuan gipsi di depan stasiun. ”Mereka itu tukang tipu,” katanya.
Sudah lama saya menyukai orang-orang gipsi, setidaknya membangun gambar versi saya sendiri tentang gipsi. Mereka muncul dalam cerita-cerita Grimm Bersaudara dan dalam cerita Charles Dickens. Saya menyukai Esmeralda, penari jalanan berparas cantik dalam novel Victor Hugo Si Bongkok dari Notre Dame. Setelah itu, bertemu dengan gipsi lain bernama Rafael,anggota kelompok gerilyawan yang selalu memiliki niat baik, namun tidak berguna karena ceroboh dan pemalas, dalam novel Hemingway For Whom the Bell Tolls. Ia juga menjadi judul kumpulan puisi penyair Spanyol Federico Garcia Lorca Romancero Gitano atau Balada Orang-Orang Gipsi (diterjemahkan oleh Ramadhan K.H. dengan judul Romansa Kaum Gitana).
Terakhir, saya takluk kepada Melquiades, si pembawa sains dan pengetahuan serta berbagai atraksi ke Macondo dalam Seratus Tahun Kesunyian karya Garcia Marquez. Jika bisa bertemu dengan tokoh fiksional itu, saya akan senang hati mencium tangannya sambil mengucapkan: ”Godfather!” –seperti Bonasera kepada Vito Corleone.
Dalam karya-karya sastra terdahulu, sosok gipsi lekat dengan gambaran stereotipikal tentang manusia-manusia eksotik berkulit gelap, berpakaian kasar, dan bersorot mata jahat. Mereka berkelana dari satu kota ke kota berikutnya dengan arak-arakan karavan yang ditarik kuda, meramal nasib, menujum dengan menggunakan bola kristal, melakukan berbagai atraksi, menari, memainkan biolin yang terdengar merintih dengan nada-nada murung. Itu gambaran positif tentang mereka.
Gambaran negatifnya: suka menipu, anak-anak kecil mereka suka mencuri, dan liar. Para orang tua Eropa waktu itu menanamkan ke benak anak-anak mereka bahwa gipsi kurang lebih sama menakutkannya dengan naga atau kurcaci jahat, atau monster monster imajiner lainnya dalam mitologi dan fiksi abad pertengahan. Stephen King menggambarkan perempuan gipsi dalam novelnya, Thinner, sebagai pemilik kekuatan supranatural untuk menimpakan kutukan.
Sebutan gipsi datang dari kesalahan yang sama sebagaimana dilakukan oleh Colombus yang menyebut Indian untuk penduduk asli Benua Amerika. Orang-orang Eropa menganggap mereka berasal dari Mesir sehingga mereka menyebutnya gipsi –dari Egyptian.
Mereka datang dari India dan menyebut diri orang-orang Romani, atau Rom, atau Roma (tidak ada hubungannya dengan Negara Rumania atau Kota Roma). Mereka meninggalkan tanah asal mereka di India dan menyebar ke berbagai belahan dunia. Menurut catatan, sejak 15 abad lalu, selalu mendapatkan penolakan dari orang-orang di setiap tempat yang mereka datangi. Jalur pengembaraan mereka hanya bisa dilacak dari berbagai kosakata yang menyusup ke dalam bahasa mereka.
Studi terbaru menyebutkan bahwa orang-orang gipsi memiliki leluhur yang sama dengan masyarakat Dalit di India. Dalit adalah orang-orang di luar kasta, sebuah masyarakat yang untouchable dalam pengertian tidak ada orang yang boleh bersentuhan dengan mereka dan mereka tidak boleh menyentuh apa pun. Dengan kata lain, mereka lebih hina bahkan jika dibandingkan dengan hewan hewan. Sebab, mereka dianggap cemar sejak lahir. Mereka tidak berhak mendapatkan pendidikan, tidak bisa mendapatkan pekerjaan, tidak bisa bergaul –apalagi menikah– dengan orang orang lain di luar kelompok mereka.
Pekerjaan yang bisa mereka lakukan hanya menangani urusan urusan yang oleh ”masyarakat beradab” dianggap mencemari kehidupan spiritual: merawat jenazah, menyamak kulit, serta membasmi tikus dan hama. Orang-orang dari kasta yang lebih tinggi tidak mau berurusan dengan bangkai-bangkai hewan –dan manusia juga. Sebab, hal itu mencemari kesucian spritual.
Dalam buku Persia Shah-Nameh atau Kitab Raja-Raja, digambarkan ada sekelompok orang, 10–12 ribu pemusik dan entertainer beserta keluarga mereka, dipersembahkan kepada raja Persia pada tahun 439. Mereka kemudian diminta untuk menggelar pertunjukan di jalanan. Dan, sejak itulah, menurut buku tersebut, mereka terus di jalanan: menjadi pengembara, sulit mencari pekerjaan, bergabung dengan anjing-anjing dan serigala, mencuri pada siang dan malam hari.
Veijo Baltzar menulis di laman Facebook-nya: ”Kita tidak akan menjadi putih. Maka, tetaplah menjadi gipsi. Jika kau orang hitam, tidak ada apa pun yang perlu diubah. Saya orang hitam, dan orang hitam memiliki kultur yang kaya, kuat secara mental dan fisik, dan sanggup bertahan di belahan dunia mana pun.”
Ya, gipsi memiliki kultur yang kaya. Musik mereka memengaruhi komposisi Franz Liszt hingga B.B. King.
Viejo (75) adalah penulis dari kalangan gipsi dan ia gipsi Finlandia pertama yang menerbitkan novel. Judul novel pertamanya, Polttava tie (The Burning Road, 1968). Hingga sekarang, ia telah menerbitkan 72 karya, termasuk novel, kumpulan cerita pendek, naskah drama, scenario drama musikal dan sebagainya.
Pemilik rumah yang saya sewa, Alexandru, orang Rumania, mengatakan bahwa dirinya memiliki banyak teman gipsi sejak kecil. ”Secara individu, banyak di antara mereka orang baik dan banyak juga yang hebat,” katanya. ”Tetapi, saya setuju dengan peringatan temanmu. Kau harus hati-hati.” (*)

A.S. Laksana, cerpenis dan kolomnis, kini mengikuti program residensi kepenulisan di Finlandia

Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.