AWAS! La Nina Ancam Kota Tasik Hingga April

159
0
H Ucu Anwar Surahman
Loading...

KOTA TASIK – La Nina adalah fenomena suhu permukaan laut di Samudera Pasifik garis khatulistiwa yang mengalami penurunan suhu.

Fenomena La Nina ini diprediksi akan terus terjadi di Kota Tasik hingga Maret-April tahun ini.

Hal itu diungkapkan Kepala Pelaksana (Kalak) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tasikmalaya, Ucu Anwar.

Kata dia, dari Januari-Desember 2020 terjadi kejadian bencana alam sebanyak 137 kebencanaan yang didominasi bencana hidrometeorologi.

“Tahun lalu didominasi bencana hidrometeorologi, yaitu bencana yang diakibatkan oleh perubahaan iklim dan cuaca. Di tahun lalu tak ada korban jiwa akibat bencana ini,” ujar Ucu kepada radartasikmalaya.com, Selasa (05/01) siang.

Loading...

“Tapi ada korban meninggal itu karena bencana kebakaran. Yang kemarin akhir tahun di Sukamaju Kidul, Indihiang, 3 orang korban kebakaran diduga dari kebocoran tabung gas. Tapi domainnya ini Damkar,” sambung Ucu yang ditemui di ruang kerjanya.

Terang dia, untuk kebencanaan hidrometeorologi ini akibat dari fenomena La Nina.

Fenomena anomali cuaca mengakibatkan tak terprediksinya kejadian kebencanaan karena iklim, khususnya di Kota Tasik.

“Nah untuk tahun ini diperkirakan sampai Maret-April masih terjadi fenomena La Nina, iklim yang anomali. Sehingga diharapkan masyarakat tetap waspada dan tageline kita kenali bahayanya untuk mengurangi resikonya,” terangnya.

Ucu menambahkan, jika dibandingkan dengan 2019, kebencanaan di Kota Tasik banyak didominasi bencana kekeringan.

Sedangkan di 2020 didominasi bencana hidrometeorologi karena faktor La Nina.

Usu berpesan kepada masyarakat agar mengenali bahaya dari berbagai bencana untuk mengurangi resikonya.

Sebab beberapa kebencanaan hidrometeorologi bisa diidentifikasi.

Contohnya rumah ambruk akibat bangunanya lapuk terkena guyuran hujan, pergeseran tanah mengakibatkan longsor, pohon tumbang serta sambaran petir. Itu adalah fenomena bencana terjadi di Kota Tasik.

“Kewaspadaannya diharapkan masyarakat bisa menjadi pengamat. Jadi ketika masyarakat ada di bantaran sungai, maka amati permukaan air dan tingkat kekeruhannya. Maka, diasumsikan jika air keruh dan ketinggiannya meningkat harus segera mengevakuasi diri,” pesannya.

Kemudian, jelas Ucu, ketika berada di wilayah yang topografinya berbukit-bukit, maka perhatikan pergeseran tanahnya karena bisa mengakibatkan longsor.

“Atau untuk masyarakat di perkotaan yang berada di beberapa wilayah memiliki pohon tinggi, besar, tapi sudah lapuk dan tua, maka amati kondisinya. Sehingga pohon itu tak menjadi penyebab terjadinya kerugian jiwa maupun materi,” jelasnya.

(rezza rizaldi)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.