Bejat, Ayah Cabuli Anak Kandung Hingga Melahirkan

459
0
EKSPOSE. Kapolres Garut AKBP Budi Satria Wiguna menghadirkan pelaku pencabulan terhadap anak kandung saat ekspose di Mapolres Garut Selasa (2/7).

KARANGPAWITAN – UR (42), seorang pedagang bubur kacang mencabuli anak kandungnya yang masih berusia 15 tahun. Perbuatan itu dilakukan pelaku berkali-kali. Bahkan bulan Juni 2019, anaknya melahirkan.

Kapolres Garut AKBP Budi Satria Wiguna menerangkan aksi persetubuhan pelaku terhadap anak kandungnya dilakukan sejak tahun 2015. Saat korban berusia 12 tahun. “Pelaku menggauli putrinya itu sebagai pelampiasan hasrat birahinya, karena sudah lama menduda,” ujarnya saat press rilis kasus pencabulan di Mapolres Garut Selasa (2/7). Dia menambahkan pelaku bercerai dengan istrinya tahun 2010. Sejak saat itu, korban diasuh pelaku.

Aksi bejat pelaku, lanjut kapolres, dilakukan berkali-kali. Hingga korban mengandung dan melahirkan seorang bayi pada Juni 2019.

Perbuatan pelaku pun terbongkar ketika korban melahirkan. Korban menceritakan kepada ibunya bahwa anak yang dilahirkan merupakan hasil perbuatan bejat ayahnya. “Setelah diselidiki dan dimintai keterangan baru diketahui jika ayah bayi tersebut adalah ayahnya sendiri,” ujarnya.

Mendapat pengakuan itu, ibu korban melaporkan kasus tersebut ke Polsek Malangbong. Pelaku langsung diringkus di rumahnya tanpa perlawanan. “Aduannya masuk melalui ibu kandung korban. Setelah dilaporkan, pelaku langsung kami amankan,” ujar kapolres.

Atas perbuatan tersangka dijerat pasal 76 D Jo Pasal 81 ayat (3) UU RI No. 35 tahun 2014 tentang perubahan atas UU RI No.23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Jo pasal 64 KUHP. “Ancamannya 5 hingga 15, plus ditambah sepertiga tahanan sebab dilakukan bapaknya sendiri,” ujarnya.

Sementara itu, UR mengakui seluruh perbuatannya. Dia berdalih hal itu dilakukan semata-mata karena anaknya sendiri. “Kan itu anak saya dan boleh dilakukan,” kelitnya. Bahkan dia berdalih aksinya yang dilakukannya tanpa paksaan.

Pelaku justru meminta untuk dinikahkan dengan anaknya tersebut. “Kalau keinginan saya, ingin dinikahkan sama anak saya,” kelakarnya.

P2TP2A Siapkan Pendampingan

Pusat Pelayanan Terpadu Pem­berdayaan Pe­rempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Garut me­nyiapkan bantuan rumah aman untuk me­lindungi korban. “Jadi kita bisa me­lindungi dia di tempat itu,” ujar Sekretaris P2TP2A Rahmat Wibawa kepada wartawan kemarin.

Setelah mendapat laporan kasus itu, pihaknya langsung mem­be­rikan pen­­­dam­pingan, ter­masuk me­nyiapkan psikolog untuk pemulihan mental korban. “Nanti ki­ta assessment, kita harus ta­hu dulu dam­pak­nya be­rat atau gimana, meski kasus berat, tapi belum tentu traumanya berat juga,” ujarnya.

Di mencatat hingga Juni 2019, terdapat sekitar 33 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Garut. Rinciannya, sebanyak 18 kasus terjadi kepada perempuan, sisanya sebanyak 16 menimpa anak sepanjang 2019.

Meskipun kasus kepada anak lebih rendah, jumlah korban anak lebih banyak dibandingkan perempuam dewasa. Tercatat sekitar 52 korban anak-anak dari 16 kasus yang tercatat. “70 persen itu masalah kekerasan seksual,” ujarnya.

Pihaknya bahkan meyakini masih banyak kasus yang tak terdeteksi. “Masih banyak warga yang enggan melapor terkait kasus kekerasan, apalagi kekerasan seksual,” katanya.

Menurut dia, masyarakat cenderung masih tabu untuk melaporkan kasus berbau seksual terhadap aparat. Kekhawatiran ancaman persoalan martabat dan kehormatan keluarga menjadi salah satu penyebab minimnya laporan warga.

”Selain itu, banyak warga menganggap untuk mengurus kasus diperlukan biaya yang besar,” katanya.

Untuk itu pihaknya terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat, pentingnya kesadaran mereka terhadap ancaman kekerasan kepada perempuan dan anak. “Ada dampaknya, kesadaran masyarakat mulai terbentuk dan banyak yang berani melapor,” paparnya. (yna)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.