Ayo Bahagia

204

Saya banyak belajar untuk mencari bahagia. Ternyata asyik sekali. Kuncinya menjaga pikiran tetap positif. Soal menjaga pikiran, saya suka sekali dengan nasihat Syekh Ibnu Qoyyim Al Jauziyah:
Jagalah pikiranmu, karena ia akan menjadi ucapanmu. Jagalah ucapanmu, karena ia akan menjadi tindakanmu. Jagalah tindakanmu, karena ia akan menjadi kebiasaanmu.Jagalah kebiasaanmu, karena ia akan menjadi karaktermu.Jagalah karaktermu, karena ia akan menjadi nasibmu.
Syekh Ibnu Qoyyim Al Jauziyah, sudah wafat ratusan tahun silam. Tapi tetap nasihatnya relevan untuk setiap masa. Saya sendiri membuktikan kedahsyatan menjaga pikiran tetap baik. Walaupun saat itu saya belum pernah membaca nasihat yang indah itu. Hasilnya benar, nasib saya jadi lebih baik.
Saya bagikan pengalamannya ini ya.
**
Tiga tahun lalu, mengantar anak ke dokter mata. Saya iseng-iseng minta diperiksa. Sebab pandangan mata terasa agak buram. Dokter Kunti, dokter spesialis mata senior tak banyak bicara. Usai memeriksa, beliau menulis surat rekomendasi. “Bapak sekarang juga ke dokter spesialis bedah saraf. Semoga tidak ada apa-apa. Bapak masih muda. Semoga sehat lagi ya,” ujarnya dengan tatapan mata tajam.
Saya santai saja. Langsung pergi menemui dokter Andre. Spesialis bedah saraf yang dirujuk. Ternyata, setelah menjalani computerized tomography (CT) scan, di bagian bawah otak saya ada tumor. Waduh. Saya stres sekali. Sebab dokter Andre, spesialis bedah saraf yang memeriksa saya, meminta segera jalani operasi. Kalau dibiarkan bisa terancam kebutaan. Atau kalau tor pecah, bisa pendarahan di otak!
“Kalau di sini lengkap fasilitasnya, saya kerjakan sendiri,” suara dokter Andre masih terngiang. Sebab saat itu, saya disarankan harus operasi ke rumah sakit besar di Bandung. Atau ke rumah sakit swasta ternama di kawasan Tangerang. Ada profesor ternama spesialis untuk tumor otak. Bisa operasi endoscopy. Operasinya bisa via lubang hidung. Sehingga tak berbekas dan peluang suksesnya besar.
**
Aduh, jangankan operasi. Sama jarum suntik saja saya takut. Dalam seminggu, berat badan susut drastis. Pikiran saya fokus dengan ketakutan dioperasi kepala. Perasaan saya terteror proses mengangkat tumor di bawah otak: batok kepala dibuka. Seram! Kalau operasi gagal bagaimana. Kalau cacat bagaimana. Kalau mati bagaimana. Anak-anak masih kecil-kecil. Wah, kacau sekali pikiran saat itu.
Umumnya manusia. Ketika terpuruk mendekat kepada Tuhannya. Begitu juga saya. Sebagai muslim, dari yang salatnya biasa-biasa saja menjadi luar biasa serius. Doanya juga khusyuk. Sampai berlinang-linang air mata. Selama tiga mingguan sejak diketahui ada tumor, mendekat kepada Tuhan ketat sekali. Tiap malam hari bangun. Ditemani istri, salat malam. Membaca kitab suci. Berdoa lagi. Berurai air mata lagi. Minta tolong. Mengiba-iba. Berharap keajaiban…tiba-tiba tumornya hilang. Atau kempis sendiri. Uh, maunya!
Saya lupa lagi tepatnya. Tapi di Minggu ketiga, usai salat malam dan berdoa sambil berurai air mata, saya diam. Menenangkan diri. Saya mulai berpikir, lelah juga ya, tiap malam merengek berdoa. Apalagi berharap keajaiban.
Saya makin tenang. Lalu mengingat lagi perjalanan diketahui tumor sampai ke malam itu. Eh perasaan jadi adem. Pikiran jernih. Tidak kalut dan sumpek. Rada takut pun sirna. Saya tiba-tiba merasa malu sendiri. Kok merengek-rengek kepada Tuhan, hanya karena ada tumor di bawah otak. Selama ini berpuluh-puluh tahun sudah menjalani hidup sehat, kan jarang berterima kasih kepada Sang Pencipta. Malah asyik-asyik saja dengan aktivitas rutin pekerjaan, hobi dan kesenangan lainnya.
“Terima kasih ya Allah. Engkau tempelkan tumor di bawah otak hamba. Kini hamba bisa tahu nikmatnya dekat dan mengadu kepada-Mu. Tahu betapa nikmatnya anugerah sehat itu,” bisik saya malam itu. Sambil tangan kanan memegang jidat. Area tumor bersemayam.
Ya, malam itu pikiran saya berubah positif. Tumor bukan lagi dipikirkan sebagai teror menakutkan. Pikiran positif itu membuat saya bahagia sekalipun ada tumor di bawah otak. Pikiran positif itu memacu saya fokus ke solusi. Alhamdulillah, tidak sampai satu bulan sejak diketahui, ada solusi. Via bantuan Dr dr Purwati, saya jalani operasi di RS Dr Sutomo Surabaya. Tanpa harus bedah kepala. Dokter Jhoni, spesialis bedah saraf di rumah sakit itu, bersama timnya mengoperasi dengan teknologi endoscopy. Tumor di dasar otak itu dikeluarkan via lubang hidung. Agar mencapai lokasi tumor, ada sedikit pembobokan di bagian dalam di belakang rongga hidung. Operasi lancar.
Terima kasih istriku Melly Hastuti, juga Kang Agustiana, yang mengantar dan mengurus selama di rumah sakit. Terima kasih juga untuk orang tua dan mertua serta keluarga, para guru, sahabat dan keluarga besar Radar Tasikmalaya Group atas support dan doanya. Sampai hari ini saya sehat.
**
Begitulah dahsyatnya menjaga pikiran. Tetap berpikir positif. Fokusnya akan ke mencari solusi. Selama proses mencapai solusi itu ada bahagia. Apalagi saat solusi diperoleh. Bahagia sekali. Saya masih ingat, dalam proses pemulihan, terjadi krisis ekonomi (dampaknya di dunia usaha masih terasa sampai sekarang). Perusahaan mengalami kesulitan finansial. Berkat menjaga pikiran positif, saya dan tim di perusahaan bisa menemukan banyak solusi. Bahagia sekali rasanya.
Jadi, siapa-apa-bagaimana pun kita, teruslah menjaga pikiran tetap positif. Juga berterima kasih kepada siapa saja. Terlebih kepada Sang Maha Kuasa. Tuhan kita semua. Ada bahagia di sana. Ayo! (*)

loading...
BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.