Azies-Haris Bawa Semangat Baru di Kabupeten Tasik

90
0
istimewa AKRAB. Agustiana dan H Amir Mahpud menjadi garda terdepan pemenangan Azies-Haris di Pilkada Tasik.

TASIK – Berawal dari refleksi dan berbekal pengetahuan serta pengalaman berbeda, baik dalam keterlibatan sebagai tim sukses di level nasional pun di daerah.

Tokoh pengusaha H Amir Mahpud yang tercatat sebagai Dewan Pembina DPP Gerindra berupaya memperbaiki proses dan perbaikan demokrasi.

Ketua Tim Relawan Azies-Haris, Agustiana mengatakan keterlibatan Keluarga Mayasari untuk berkontestasi di daerah kelahiran orang tuanya, H Engkud Mahpud, ingin membangkitkan kembali kejayaan kemasyuran dan kebanggaan nama Tasikmalaya di pentas nasional.

Dimana, sejarah mencatat sejak era penjajahan sampai negeri merdeka, Tasikmalaya memiliki gaung tersendiri di berbagai bidang. “Mulai dari pembangunan ekonomi masyarakat dalam ber-Koperasi. Menjadi model usaha ekonomi yang menjadi salah satu karakter ideologi bangsa dan negara,” kata Agustiana melalui keterangan tertulis, kepada Radar, Selasa (17/11).

Tidak hanya itu, sisi membangun semangat perjuangan nasional Agustiana mengulas Tasikmalaya memiliki sejarah heroik KH Zainal Mustofa. Ketokohan dan gerilyanya sukses menginspirasi perjuangan bangsa dalam mengusir penjajah, sampai negara merdeka pun gaungnya masih dirasakan.

Baca juga : Azies-Haris Andalkan Silent Supporter di Pilbup Tasik

“Masyarakat Tasikmalaya dalam mempelopori penguasaan pasar nasional sampai internasional, di bidang konveksi, ekonomi kreatif serta pertanian peternakan. Tidak bisa dipungkiri, termasuk pejuang tukang kredit yang menyebar ke berbagai penjuru negeri dan juga batik kita yang dikenal artistik,” tuturnya.

Tokoh Aktivis Tasikmalaya itu mengatakan di bidang ketokohan pun, Tasikmalaya juga melahirkan pengusaha pribumi yang saat ini menjadi pengusaha transportasi berskala nasional. Tak pernah merugikan apalagi menggusur masyarakat, justru memberdayakan dan membuka lapangan kerja dengan luas.

“Yakni H Empud Mahpud dengan Perusahaan Mayasari Group,” ujar Agustiana.

Sementara di bidang pendidikan dan pembangunan sumber daya manusia berkarakter, Tasikmalaya telah dipelopori beberapa alim ulama besar yang tersohor ke antero bangsa. Mulai Pondok pesantren Suryalaya, Miftahul Huda, Cilendek, Sukamanah, Cipasung, Kudang, Cintawana, Sukahideng dan lain sebagainya.

Menjadikan Tasikmalaya sebagai pusat pesantren terbesar dan dikenal sebagai kota atau kabupaten seribu pesantren.

“Kemanfaatannya telah melahirkan pemimpin dan tokoh sosial yang membangun peradaban berbangsa serta bernegara, sesuai akhlakul karimah di seluruh negeri. Mewujudkan cita-cita dan tujuan. Maka, Tasikmalaya ke depan memerlukan pemimpin daerah yang berkapasitas dan kredibel,” kata dia.

“Mampu menggerakan potensi kekayaan yang dimiliki daerah, serta menyinergikan aparat pemerintahan, dipercaya dan akomodatif mendorong energi dari pihak supporting,” sambung Agustiana.

Menurutnya pemimpin seperti itu, bukan yang cuma mengelu-elukan diri. Bukan yang membawa Tasikmalaya berdasarkan keinginan dan tafsir kebaikan menurut diri sendiri, tetapi bertentangan dengan keinginan masyarakat.

“Dalam garis serta kerangka tujuan inilah kami meminta Azies-Haris berpartisipasi di Pilkada. Sehingga, tujuan utamanya bukan untuk menang, tetapi menyebarkan pengingat di atas, agar menjadi kesadaran serta semangat baru bagi masyarakat, tokoh maupun semua pasangan calon yang berkontestasi,” harapnya.

Ia meyakini apabila kesadaran dan semangat tersebut dipahami secara merata. Tentu dalam menentukan pasangan calon, akan lebih rasional. Di sisi lain, para kandidat difasilitasi untuk menggali dan menjelaskan seluas mungkin terhadap para pemilih atas kapasitas dan kapabilitas kandidat masing-masing.

“Kami bersama pimpinan partai pendukung, relawan dan timses, termasuk Azies-Haris sendiri sepakat. Pada kontestasi politik ini, konsisten bersikap. Apabila ada pasangan calon lain yang secara objektif dinilai memiliki kemampuan memimpin dengan catatan teruji dan ikhlas mengabdikan diri dalam mewujudkan cita-cita masyarakat. Azies-Haris akan menyerahkan seluruh pendukungnya untuk memilih pasangan lain yang lebih baik,” beber Agustiana.

Bahkan, kata dia, pasangan nomor urut satu mengajak kandidat lain bersikap serupa. Maka dari itu, ketika di acara debat publik Azies-Haris hanya banyak ingin melihat dan mendengar pemaparan kandidat lain daripada memotong pembicaraannya.

“Ketiga paslon lainnya, berlatar belakang satu kesatuan yakni aparatur Pemkab yang bersaing di pesta demokrasi ini. Sayangnya, niat dan tekad itu tidak dimaksimalkan penyelenggara,” katanya.

Menurutnya dari hal tersebut, akhirnya masyarakat banyak dijejali kehebatan paslon yang dijejalkan oleh paslon dan pendukungnya sendiri. Pihaknya menyayangkan sikap Bawaslu yang membiarkan petahana melalui istri dan aparatur pemerintah daerah, melakukan praktik yang menghalalkan segala cara.

Bertentangan dengan aturan, etika bahkan terindikasi melanggar hukum pidana. “Padahal kalau saya secara pribadi tak terikat dengan kesepakatan atas komitmen bersama dan terpancing dengan cara kampanye pasangan petahana,” ungkap Agustiana.

Sejatinya, kata dia, sejak awal ia sangat mampu memaksa secara yuridis mengeluarkan petahana dari kepesertaan di Pilkada. Tetapi, ia menimbang kembali pihak partai pendukung, pasangannya, serta orang dekat Agustiana yang menjadi tim sukses.

“Maka saya lebih bersabar dan mengutamakan untuk memperingatkan. Supaya menjalankan kontestasi, sebagai sarana menjadikan rakyat pemilih jujur, objektif serta rasional. Bukan lantaran dibeli, dipaksa apalagi menjadi korban kelicikan.

Kami tidak sebodoh yang bisa dibodohi oleh praktik kecurangan sehebat apa pun,” tegas dia.(igi/rls)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.