B20 Dongkrak TBS Kelapa Sawit

10

Siapa Presiden Pilihan Mu ?

JAKARTA – Penerapan biodiesel 20% (B20) di semua sektor resmi berlaku sejak 1 September 2018. Kebijakan pencampuran solar dengan minyak kelapa sawit itu dinilai dapat menguntungkan petani serta pengusaha perkebunan kelapa sawit.

Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Mukti Sardjono mengatakan, B20 tentu meningkatkan konsumsi crude palm oil (CPO) dalam negeri. Dengan ini, menurutnya jelas dapat mendongkrak nilai jual harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit.

“Penerapan B20 juga dapat meningkatkan konsumsi CPO dalam negeri sehingga dapat mendorong harga TBS di tingkat petani,” ujar Mukti kepada Fajar Indonesia Network (FIN) di Jakarta Minggu (7/10).

Mukti menambahkan, B20 tidak hanya menguntungkan pengusaha perkebunan kelapa sawit. Namun, pemerintah juga untung lewat pengurangan devisa impor minyak bumi. “Selain itu untuk mengurangi devisa impor minyak bumi,” paparnya.

Kendati demikian, lantaran baru satu bulan diterapkan, Mukti memandang keuntungan kebijakan B20 belum terlihat. Sebab, rata-rata harga TBS inti sawit saat ini masih berkisar di angka Rp 4.831 per kilogram.

“Untuk itu tampaknya kebijakan tersebut saat ini belum mampu mendongkrak harga TBS petani,” ujarnya. Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution, menggelar rapat evaluasi penerapan biodiesel 20% (B20) di Kantor Kementerian Keuangan. Darmin memanggil Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto.

Ditemui seusai pertemuan, Airlangga mengatakan rapat membahas soal implementasi B20 yang telah bergulir selama sebulan belakangan ini. Pembahasan lebih mengarah pada sektor operasional penerapan B20.

“Ini kan laporan terkait implementasi dari B20, mulai dari logistik dan lain-lain” ujar Airlangga.

Airlangga mengatakan, sejauh ini belum ada keluhan dari agen tunggal pemegang merek terhadap penerapan B20. (riz/fin)

loading...