Bagasi Berbayar Matikan Sektor UKM

19

JAKARTA – Penerapan bagasi berbayar berdampak pada sektor UKM maupun pariwisata. Sejak diberlakukan bagasi berbayar pada Januari 2019, sejumlah pelaku usaha di daerah mengeluhkan penurunan omzet hingga 70 persen, begitupun turunnya jumlah wisatawan lokal maupun mancanegara.

Pengamat ekonomi Bhima Yudhistira menjelaskan, selain bagasi berbayar penurunan penurunan omzet UKM dan wisatawan juga disebabkan harta tiket yang terlalu mahal.

“Sektor UMKM yang terpukul salah satunya bisnis oleh-oleh atau souvenir di tempat pariwisata, penginapan kelas homestay, sewa mobil dan travel wisata, serta bisnis makanan minuman skala kecil,” kata Bhima Minggu (10/2).

Menurut Bhima, dengan turunnya jumlah wisatawan tentu saja akan berdampak pada omzet UMKM. Jika kondisi ini terus terjadi, tidak menutup kemungkinan akan terjadi banyak PHK di sektor UMKM.

“Jika dibiarkan, ini akan berdampak PHK di sektor UMKM yang tergantung pada pariwisata,” ujar Bhima.

Memang Peraturan mengenai bagasi berbayar tertuang dalam Pasal 22 Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) Nomor 185 Tahun 2015 tentang Standar Pelayanan Penumpang Kela Ekonomi Angkutan Udara Niaga Berjadwal Dalam Negeri.

Dalam aturan tersebut, kelompok penerbangan full service tak adakan dikenakan biaya bagasi maksimal 20 kg, kelompok medium service maksimal 15 kg. Pemberlakukan bagasi berbayar hanya khusus penerbangan berbiaya murah (LCC).

Maskapai Lion Air dan Wings Air telah menerapkan bagasi berbayar bagi penumpang sejak 22 Januari 2019. Selanjutnya Citilink Indonesia akan menyusul.

“Tidak harus murah, tapi kalaupun ada kenaikan ya secara gradual. Sekarang pariwisata itu bisa jadi tulang punggung perekonomian,” tutur Bhima. (din/fin)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.