Siapa Calon bupati Tasikmalaya pilihan anda?
18%

82%

Bahasa Menjadi Kendala Penulisan Jurnal Ilmiah Internasional

84
0

JAKARTA – Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) masih mengevaluasi kebijakan terkait pemangkasan tunjangan guru besar yang tidak aktif menulis jurnal ilmiah sesuai peraturan yang ditetapkan pemerintah. Menteri Ristek dan Dikti M Nasir mengatakan bahasa menjadi kendala penulisan jurnal ilmiah Internasional.

Padahal, menurut Nasir, hal itu bisa saja disiasati dengan mengerjakan jurnal ilmiah secara tim yang salah satunya bisa memasukkan seorang penerjemah bahasa. ”Jepang juga banyak guru besarnya yang tidak bisa bahasa Inggris, tetapi publikasi mereka bagus. Ternyata dalam penyusunan jurnal ilmiahnya ada tenaga penerjemah, pengoreksi bahasa dan sebagainya,” ujar Mohamad Nasir di kantornya Selasa (27/2).

Nasir menjelaskan dari 5.366 orang guru besar yang ada di Indonesia rupanya masih ada sekitar 3.800 orang yang belum melakukan publikasi jurnal ilmiah internasional. Artinya, hanya ada sekitar 1.500 orang saja yang telah memenuhi kewajiban mereka sebagai profesor.

Tentu saja jumlah mereka yang belum melakukan publikasi jurnal ilmiah internasional masih sangat banyak. Makanya, Kemenristekdikti akan melakukan evaluasi untuk mendorong para guru besar untuk semakin rajin menulis jurnal ilmiah internasional yang menurut Nasir syaratnya tidak terlalu berat jika dibandingkan dengan negara-negara lain. ”Kalau dibandingkan dengan Taiwan, mereka diwajibkan mempublikasi­kan empat jurnal ilmiah internasional dalam satu tahun. Kalau di Indonesia hanya satu publikasi selama tiga tahun. Ringan,” katanya.

Ia mengatakan pemerintah akan mengeluarkan peraturan menteri (Permen) baru untuk perbaikan Permenristekdikti No. 20/2017 tentang Tunjangan Profesi Dosen dan Tunjangan Kehormatan Profesor. Sebab, kata Nasir, masih banyak komponen yang tidak mereka pahami yang akan lebih dijelaskan di Permen berikutnya.

Sementara itu, Anggota Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Arzeti Bilbina mengatakan sejak terbitnya Permenristekdikti No. 20/2017 tentang Tunjangan Profesi Dosen dan Tunjangan Kehormatan Profesor memang menuai pro dan kontra. Ia mengatakan sebagai negara besar, Indonesia semestinya malu jika saat ini jumlah publikasi internasionalnya masih berada jauh di bawah negara maju lainnya, bahkan Malaysia, Singapura dan Thailand.

”Padahal jumlah ilmuwan dan profesor di Tanah Air serta kualitas mereka tidak kalah dengan negara lain. Saya memahami peraturan menteri itu untuk meningkatkan publikasi ilmiah pada tingkat nasional dan internasional agar Indonesia mampu bersaing dengan bangsa lain,” kata Arzeti.

Namun, dewan pun memaklumi jika banyak dosen yang tidak sepakat dengan Permenristekdikti tersebut karena akan membuat mereka mengeluarkan biaya yang lebih mahal dibandingkan dengan tunjangan yang mereka peroleh. Bahkan disebutkan biaya untuk menerbitkan sebuah karya ilmiah bisa menelan uang sampai ratusan juta rupiah. Belum lagi tenaga dan waktu yang harus mereka alokasikan di sela-sela kewajiban mengajar di hadapan mahasiswa. ”Memang agak aneh ketika para professor kita mempublikasikan karya ilmiahnya tetapi harus bayar di jurnal internasional tersebut dan mereka orang luar itu menikmati hasilnya. Hak paten dari karya intelektual para peneliti kita kan harus kita jaga,” katanya. (nas/jpg)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.