Bahaya, Defisit Transaksi Berjalan 3,04 Persen

25
0

JAKARTA – Bank Indonesia (BI) mencatat defisit neraca transaksi berjalan pada kuartal II 2019 sebesar 8,4 miliar dolar AS atau setara 3,04 persen dari produk domestik bruto (PDB). Ekonom menilai hal itu sudah masuk kategori berbahaya.

Ekonom Institute for Development of Economic and Finance (Indef) Tauhid Ahmad mengatakan, defisit neraca transaksi berjalan 3,04 persen harus menjadi perhatian pemerintah untuk melakukan tindakan agar defisit di posisi rendah atau batas aman.

“Saya kira ini menjadi pengingat batas aman defisit transaksi berjalan sebesar 2,8 persen terhadap PDB,” ujar dia kepada Fajar Indonesia Network (FIN), Jumat (9/8).

Menurut dia, penyebab utama defisit transaksi berjalan adalah turunnya ekspor non migas yang sebesar 37,2 miliar dolar AS atau lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar 38,2 miliar dolar AS.

“Ini diperburuk pula dengan defisit neraca perdagangan migas juga meningkat menjadi 3,2 miliar dolar AS dari 2,2 miliar dolar AS pada triwulan sebelumnya,” papar Tauhid.

Upaya yang mesti dilakukan pemerintah, saran Tauhid, yakni mengurangi impor yang sifatnya barang konsumsi dan meningkatkan produktivitas agar produk-produk memiliki daya saing di pasar ekspor.

Karena menurut dia, jika kondisi tersebut dibiarkan maka perekonomian Indonesia akan mudah sakit. Artinya tidak memiliki kekuatan ketika menghadapi tidak stabilnya ekonomi dunia.

“Dampak bagi ekonomi tentu saja maka akan menguras ketahanan ekonomi kita. Karena semakin rentan terhadap guncangan, termasuk aliran modal asing yang sifatnya jangka pendek,” jelas dia.

Sementara Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core) Pieter Abdullah mengatakan, pemerintah akan sulit untuk menjaga neraca transaksi berjalan di kisaran 2,5 persen.

“Yang masih realistis adalah menjaganya di bawah 3 persen di kisaran 2.8 persen hingga 3 persen. Itu juga dengan upaya keras menahan kenaikan impor yang memperlambat defisit neraca perdagangan. Memacu pertumbuhan ekspor di tengah perlambatan ekonomi global dan rendahnya harga komoditas dapat dikatakan mission impossible,” ujarnya kepada Fajar Indonesia Network (FIN).

Lalu apa yang mesti dilakukan? Nah menurut Pieter, untuk menjaga impor agar volumenya tidak terlalu besar. “Tidak banyak pilihan. Jaga impor jaga impor. Kebijakan-kebijakan mengurangi impor seperti B20 perlu terus dikembangkan, termasuk juga menjaga pintu masuk impor. Misalnya dengan mengevaluasi kebijakan post border,” kata dia.

Mengenai defisit neraca transaksi berjalan pada kuartal II 2019 sebesar 8,4 miliar dolar, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyatakan masih sesuai dengan perkiraan BI. Rasio defisit tersebut menurut dia, karena masih lambatnya pertumbuhan ekonomi di kuartal II tahun ini.

“Mengapa CAD-nya (neraca transaksi berjalan) sedikit lebih tinggi dari biasanya 2,9 persen sekarang 3 persenan, itu karena memang realisasi PDB-nya rendah,” kata Perry di Jakarta.

BI optimistis akhir tahun defisit neraca transaksi berjalan ini bisa berada di kisaran 2,8 persen. Proyeksi tahunan CAD masih tetap sama yaitu 2,5 persen sampai 3 persen. “Kami optimis masih ada di titik tengah 2,8%,” sambung dia menjelaskan.(din/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.