Banjir Bandang di 6 Kecamatan Garut Selatan, Ini Kata Perhutani..

103
0
JELASKAN. Administratur Perhutani KPH Garut Nugraha saat memberikan keterangan. yana taryana / rakyat garut

PAMEUNGPEUK – Perhutani KPH Garut mengklaim penyebab lonsor dan banjir bandang yang terjadi di enam kecamatan di wilayah selatan Garut bukan karena adanya alih fungsi lahan.

Tetapi, penyebab banjir bandang dan longsor ini akibat intensitas curah hujan yang tinggi.

Baca juga : 2 Sungai Meluap, 6 Kecamatan di Garut Banjir, Bupati kirim 10 Ton Beras

“Kalau kawasan hutan di hulu kondisinya masih baik belum ada alih fungsi. Banjir bandang ini penyebabnya karena intensitas hujan yang tinggi saja,” ujar Administratur Perhutani KPH Garut Nugraha saat memberi bantuan kepada warga korban banjir di Kecamatan Pameupeuk, Selasa (13/10).

Menurut dia, intensitas hujan tinggi membuat air yang turun tidak bisa terserap tanah seluruhnya. Akibatnya, air mengalir deras ke hilir. Begitu juga dengan kejadian banjir bandang di wilayah selatan Garut.

“Kalau kondisi hutan di hulu sungai baik itu di Cipalebuh dan Cikaso masih baik,” ujarnya.

Loading...

Nugraha mengatakan curah hujan bulan ini tinggi, bahkan hujan sudah terjadi sejak Agustus. Curah hujan yang tinggi bisa jadi bencana besar.

“Tahun kemarin kami tanam 6.000 hektare di Desember itu sulit air, sulit hujan. Sampai berdoa minta hujan,” ucapnya.

Terkait adanya kerusakan hutan, Nugraha dengan tegas menyatakan tak ada kerusakan. Curah hujan yang tinggi bisa tak terserap oleh tanaman.

“Kami nyatakan di sana (kawasan hutan) tak ada kerusakan. Curah hujan terlalu tinggi itu sama saja kayak hutan itu diseblok air besar sampai tak bisa menampung,” katanya.

Pihaknya pun telah melakukan pemeriksaan ke wilayah hulu sungai di Cisompet dan Sumadra. Nugraha juga membantah adanya alih fungsi lahan yang terjadi.

Baca juga : Begini Kepedulian Alumni & Mahasiswa ITB Asal Garut

Sebelumnya, Bupati Garut H Rudy Gunawan menyebut banjir bandang di tiga kecamatan di Garut selatan terjadi akibat kerusakan hutan di wilayah Cikajang dan Cisompet. Hutan di kedua wilayah itu merupakan lahan milik Perhutani.

“Itu kan lahannya Perhutani yang rusak. Kami tidak me­nyalahkan Perhutani. Kejadian ini (banjir) kan terus terjadi, maka perlu rekonstruksi hutan. Minimalisir agar tak terjadi banjir lagi,” paparnya. (yna)

Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.