Bantuan Air Datang, Butuh Kasur Lantai

134
0
DIKI SETIAWAN / RADAR TASIKMALAYA ANGKUT. Pengungsi pergerakan tanah di Kampung Babakan Sarongge Desa Sukarasa bersama polisi mengangkut bantuan toren dari Polres Tasikmalaya kemarin.

SALAWU – Polres Tasikmalaya memberikan bantuan berupa toren, selang, air mineral dan mi instan kepada para pengungsi korban pergerakan tanah di Kampung Babakan Sarongge Desa Sukarasa kemarin (29/11).
Kasat Lantas Polres Tasikmalaya AKP Dies Ratmono mengatakan bantuan yang diberikan seperti toren dan selang diharapkan bisa dimanfaatkan oleh pengungsi untuk menyimpan air bersih dari sumur serapan warga untuk keperluan minum, mandi dan lainnya. “Kami dapat informasi dari warga bahwa perlu bantuan alat penampungan air. Jadi kami beri bantuan toren, selang termasuk air mineral dan mi instan,” ujar Dies kepada wartawan di Kampung Babakan Sarongge, Desa Sukarasa, kemarin (29/11).
Kepala Desa Sukarasa Kecamatan Salawu Tete Abdul Manap menjelaskan kondisi masyarakat yang tinggal di pengungsian sehat dan aman. Namun ada sedikit kekurangan seperti lauk pauk, alas tidur dan sarana air bersih. “Yang kami butuhkan kasur lantai. Kasihan kepada orang tua dan anak tidur di tikar,” ungkapnya.
Menurut Tete, kekurangan air bersih diakibatkan karena sumur serapan di Kampung Babakan Sarongge hanya sedikit. Sehingga desa memanfaatkan sumur di Kampung Margahayu yang mempunyai 25 titik sumur. “Air sumur akan dimanfaatkan untuk pengungsi. Dengan ditampung di toren disedot menggunakan selang bantuan dari Polres Tasikmalaya,” jelasnya.
Badan geologi, kata dia, sudah meninjau lokasi pergerakan tanah di desanya, Senin (27/11). Survei dilakukan ke empat titik di Kampung Babakan Sarongge, Margahayu, Padasuka dan Karanganyar. “Dari badan geologi, hasil kajian layak tidaknya lokasi pergerakan tanah di empat kampung untuk ditempati kembali, paling lambat keluar 10 hari hasil kajiannya,” ujarnya.
Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Kabupaten Tasikmalaya EZ Alfian mengatakan badan geologi sudah mengecek langsung ke lokasi pergerakan tanah di beberapa desa di Kecamatan Salawu termasuk di Desa Sukarasa yang terkena dampak cukup parah.
“Tinggal menunggu hasil kajiannya kurang lebih 10 harian,” terang Alfian.
Menurut Alfian, untuk hasil evaluasi bencana pergerakan tanah di Salawu, tercatat ada 314 rumah yang terdampak. Mulai dari rusak parah, sedang dan ringan. Sementara itu sekitar 800 jiwa terdampak dan sebagian mengungsi di pos atau tenda yang disediakan oleh desa dan BPBD.
Salah satu pengungsi, Ajum (80) mengatakan warga kesulitan mendapatkan air bersih karena sumur serapan di Kampung Babakan Sarongge sudah mulai mengering dan airnya kotor akibat pegerakan tanah disertai hujan. “Ya bersyukur ada bantuan dari polisi toren dan selang untuk menyimpan air. Nanti digunakan untuk minum dan mandi,” tuturnya.
Pengungsi lainnya, Solihin (73) mengatakan warga senang ada bantuan tempat menyimpan air. Nanti selangnya bisa digunakan untuk menyedot air yang disimpan di toren. “Ya disedot pakai toren, airnya bisa distok. Ada toren airnya ditampung,” tuturnya.
Pengungsi lainnya, E Nasihin (42) mengungkapkan selama 14 hari di balai desa mengungsi, dirinya mengaku masih kekurangan suplai air bersih walaupun musim hujan. “Yang paling dibutuhkan makanan lauk pauk dan air bersih. Sumber airnya semuanya terkena retakan tanah,” ujarnya.
Intinya, kata Nasihin, pengungsi menunggu kepastian dari pemerintah daerah atas hasil kajian badan geologi. “Itu yang sangat ditunggu, apakah akan direlokasi atau tidak,” ungkapnya. (dik)

Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.