Banyak Kasus Pelecehan Seksual di Kota Banjar, Pemkot Setuju Hukuman Kebiri

58
0
RAMAH. Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak DinsosP3A Kota Banjar Ika Kartikawati SIP, MSi di ruang kerjanya. Anto Sugiarto / Radar Tasikmalaya
RAMAH. Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak DinsosP3A Kota Banjar Ika Kartikawati SIP, MSi di ruang kerjanya. Anto Sugiarto / Radar Tasikmalaya
Loading...

BANJAR – Sepanjang tahun 2020 di Kota Banjar telah terjadi 20 kasus pelecehan seksual, penganiayaan dan KDRT terhadap perempuan dan anak. Hal itu diungkapkan Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak DinsosP3A Kota Banjar Ika Kartikawati SIP,MSi.

“Kasus tahun 2020 kemarin tidak ada peningkatan yang terlalu signifikan. Justru tahun 2019 yang banyak, yakni 23 kasus,” kata dia kepada wartawan, Selasa (5/1) dikantornya.

Dia menjelaskan, kebanyakan kasus yang terjadi tahun 2020 yakni pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur. Salah satunya kasus pelecehan pedagang terhadap pembelinya yang masih anak-anak.

Baca juga : Disdik Kota Banjar Rencanakan Belajar Tatap Muka Digelar 11 Januari

Kata dia, kebanyakan pelakunya pria paruh baya dan sudah diproses. “Untuk kasus pelecehan seksual terhadap anak-anaknya dilakukan oleh pedagang ada empat kasus. Sisanya kasus penganiayaan, pelecehan sesama anak-anak dan KDRT,” tandasnya.

Loading...

Menurut dia, kasus itu masih saja terus terjadi selama belum ada hukuman yang membuat efek jera pelakunya. Maka, kata dia, perlu ada solusinya.

Dia setuju jika pelaku bisa menerima hukuman dikebiri agar tidak melakukan perbuatannya . Terlebih, terang dia sudah ada PP nomor 70 tahun 2020 tentang tata cara pelaksanaan tindakan kebiri kimia, pemasangan alat pendeteksi elektronika, rehabilitasi dan pengumuman identitas pelaku.

”Kebiri ada dengan cara disuntik gunakan bahan kimia dan pemasangan alat elektronik yakni GPS pada kelamin pelaku,” tegasnya.

Namun, tambah dia, permasalahan kebiri tersebut masih pro dan kontrak karena dianggap melanggar HAM. “Tapi demi menimbulkan efek jera terhadap pelaku kenapa tidak dilakukan. Supaya tidak ada lagi korban pelecehan atau kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak,” ujarnya. (nto)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.