Banyak Korban, Pemerhati Politik Sarankan Pemilu Dipisah

20
Sidik Firmadi SIP, MIP

BANJAR – Pemerhati politik Sidik Firmadi SIP, MIP melihat ada dua hal mencolok yang harus dijadikan bahan evaluasi dalam Pemilu Serentak 2019. Salah satunya berkaitan dengan banyaknya korban jiwa, terutama KPPS dan pengawas TPS.

Sidik menilai banyak petugas KPPS dan pengawas TPS kelelahan lantaran jam kerja yang berlebih. “Sehingga ke depan perlu dipikirkan solusi terbaik dari masalah ini. Diantaranya melalui pemisahan antara Pileg (Pemilihan Legislatif) dan Pilpres (Pemilihan Presiden) seperti pada Pemilu-Pemilu sebelumnya,” ungkap dia Rabu (24/4).

Akan tetapi, kata dia, itu artinya harus melakukan amandemen UUD 1945 berkaitan dengan pasal yang menyebut bahwa Pemilu dilakukan setiap lima tahun sekali. “Jika pemisahan antara Pileg dan Pilpres hanya diatur dalam undang-undang itu sama saja percuma,” ungkap dia.

Sebelumnya juga, kata dia, undang-undang telah memisahkan antara Pileg dan Pilpres. Namun kemudian digugat (judicial review) ke Mahkamah Konstitusi (MK).

“Hal itulah kemudian yang melatarbelakangi lahirnya Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 Tentang Pemilu, sebagai payung hukum pelaksanaan Pemilu Serentak tahun ini,” jelasnya.

Dia menyebut langkah lain yang bisa dilakukan penyelenggara Pemilu yakni dengan menambah anggota KPPS. Dengan jumlah anggota yang lebih banyak, kata dia, sistem kerja mereka dapat bergantian satu dengan yang lainnya. “Sehingga tidak menyebabkan kelelahan atau kematian,” kata dia.

Hal lain yang disorotinya yakni masih ditemukannya pelanggaran, seperti masih adanya branding partai atau caleg di sebuah mobil.

“Saya berharap ke depan Bawaslu harus lebih tegas untuk menertibkan mobil-mobil yang telah di-branding gambar partai atau caleg,” tuturnya.

Sebelumnya, di Kota Banjar, sejumlah ketua dan anggota Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) jatuh sakit pasca pemungutan dan penghitungan suara Pemilu 2019.

Ketua KPU Kota Banjar Dani Danial Muhklis SPdI mendapatkan laporan ada ketua dan anggota KPPS yang jatuh sakit.

Diantaranya Adang (60) ketua KPPS 11 Desa Rejasari Kecamatan Langensari, Dedi Sunendar (64) anggota KPPS 47 Kelurahan Mekarsari Kecamatan Banjar, Sri Mulyani (45) Ketua KPPS 19 Kelurahan/Kecamatan Pataruman dan Memet Abbas anggota KPPS 2 Kelurahan Situ Batu Kecamatan Banjar.

Sementara itu Ketua Bawaslu Kota Banjar Irfan Saeful Rohman menyebut ada dua PTPS di Kota Banjar yang jatuh sakit, diantaranya Angga Setia Pratama PTPS 12 Desa Binangun dan Ade Suryana PTPS 45 Lingkungan Pangadegan Kelurahan Hegarsari Kecamatan Pataruman. (nto)

loading...
BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.