Hanya untuk Warga Kabupaten Tasik
SIAPA BUPATI & WAKIL BUPATI PILIHAN ANDA?

3.5%

19.8%

7.7%

69%

Banyak Pemain Lama, Pengamen, Pengemis dan Gepeng Kembali Diciduk Pol PP Kota Tasik

684
0
radartasikmaya.com
Satpol PP Kota Tasik merazia manusia silver di Jalan Sutisna Senjaya, Kamis (10/09) siang. rezza rizaldi / radartasikmalaya.com

KOTA TASIK – Diduga kerap mengganggu aktivitas pengguna jalan raya di Kota Tasik, Satpol PP dan Dinsos merazia anak jalanan, anak punk, manusia perak dan gelendangan pengemis (Gepeng), Kamis (10/09) siang.

Mereka ditangkap aparat penegak Perda itu di beberapa titik perempatan jalan raya padat lalu lintas di wilayah perkotaan. Seperti perempatan Mitra Batik, Citapen-Alun-Alun, Padayungan, dan lain sebagainya.

Totalnya mereka yang terjaring dalam razia kali ini adalah 14 orang. Dengan rincian 5 manusia silver, 4 anak jalanan, 1 pengemis, 1 pengamen, 1 tukang ronggeng monyet dan 2 badut jalanan.

Kabid Trantibum Satpol PP, Yogi Subarkah mengatakan, razia ini dilakukan pihaknya karena hampir tiap hari pihaknya menerima laporan dari masyarakat pengguna jalan.

“Ya aktivitas mereka untuk berekspresi tak dilarang. Tapi jangan di perempatan jalan karena itu menganggu aktivitas pengguna jalan dan demi keselamatan mereka juga,” ujar Yogi usai razia kepada radartasikmalaya.com.

Kasi Rehabilitasi, Tuna Sosial dan Napza Dinas Sosial Kota Tasikmalaya, Nining Rukmini menuturkan, mereka yang terjaring ini kebanyakan pemain lama dan telah sempat mendapatkan bantuan pelatihan dari pihaknya.

“Ya ini kan kembali kepada dirinya masing-masing. Kami terus berusaha mengedukasi mereka. Jadi tetap kami data mereka dan terus kami lakukan pembinaan,” tuturnya.

Dia mengakui, khususnya manusia silver (perak) ini memang lagi marak di Kota Tasik. Kebanyakan manusia silver ini sebelumnya mempunyai pekerjaan.

“Ada yang jadi kuli di tempat proyek. Karena pandemi Covid-19 mereka jadi menganggur jadi untuk menyambung hidup ya jadi manusia silver. Tapi kalau Covid berakhir dia akan kembali menjadi kuli bangunan,” tambahnya.

Sementara itu salah seorang manusia silver, Deni Ramdani (25) mengakui, dirinya sebelum melakoni profesi ini adalah seorang pekerja bangunan. Namun karena Covid, order pekerja bangunan menjadi sepi.

“Ya saya kan harus tetap menghidupi keluarga. Makanya jadi manusia silver sama teman-temannya lainya. Jadi membuat komunitas. Per hari kadang dapat Rp70 ribu,” katanya.

Jelas dia, keuntungan dari aktivitas ini sebagian disisihkan ke uang kas komunitas. Karena setiap sebulan sekali uang yang terkumpul dibelikan nasi kotak untuk dibagikan kepada para pengemis.

“Ya kami juga aksi sosial sebenar. Ya memang sih kami melakukannya di perempatan jalan. Tapi kan tak pernah lama. Paling cuman 2 jam diperempatan itu beraksinya,” jelasnya.

Sebab, tukas dia, memakai cat blom warna silver tersebut saat beraksi di perempatan jalan tak perlu memakan waktu lama.

Karena kulit terasa panas. Namun dia menyakini hal itu aman untuk kulit tubuhnya.

“Ini pakai cat blom. Belinya mesan online karena tak dijual bebas. Ini bisa dicuci gampang dibilas pakai sunlight. Aman sih menurut saya karena tak nutup pori-pori kulit karena suka keringatan. Belum pernah kok irirasi kulit juga,” tukasnya.


(rezza rizaldi)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.