Hanya untuk Warga Kabupaten Tasik
SIAPA BUPATI & WAKIL BUPATI PILIHAN ANDA?

3.1%

19.3%

7.3%

70.3%

Banyak Warga Melanggar, Hari Ini PSBB di 3 Kecamatan Kota Tasik Dievaluasi

707
0
IDENTITAS. Pemkot Tasikmalaya memberi toleransi pengendara berboncengan asalkan alamat pada KTP sama. Firgiawan / Radar Tasikmalaya

KOTA TASIK – Selama empat hari Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di 3 Kecamatan (Tawang, Cihideung dan Cipedes), Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Tasik menyimpulkan masih banyak menemukan pelanggaran oleh warga.

Terutama, masih ada warga yang tak menggunakan masker saat keluar rumah dan kendaraan roda dua boncengan dan pengguna roda empat duduk berdempetan.

Baca juga : Senin 11 Mei Bansos Rp500 Ribu untuk Warga Kota Tasik Cair

“Besok, Senin, (11/5) akan kami evaluasi secara utuh. Selama empat hari ini relatif berjalan lancar dan tren pelanggaran juga empat hari menurun atas dasar laporan dari setiap posko,” ujar Ketua Gugus Tugas Covid-19 Kota Tasikmalaya H Budi Budiman usai menghadiri video conference di Bale Kota, Minggu (10/5).

Menurutnya, kesadaran kolektif masyarakat di masa PSBB ini sangat vital.

Sebab, jumlah petugas yang berjaga di 45 posko hanya sekitar 500 personel. Mereka harus mengawasi mobilisasi penduduk yang berjumlah sekitar 700 ribu jiwa.

“Kesadaran penting dan kalau andalkan petugas ya berat. Pakai masker mau ada atau tak ada petugas. Jangan saat diawasi saja,” katanya.

Budi mengatakan pengaturan kendaraan pun bakal ada toleransi. Pengendara roda dua, boleh membonceng selama pada alamat tertulis alamat yang sama.

“KTP alamatnya sama, artinya itu anggota keluarga, masih boleh. Kemarin kan sempat viral, jangan sampai istri tak boleh boncengan, duduk harus pindah kursi, padahal di rumah saja tidur bersama. Kalau di KTP alamat berbeda, turun,” ceritanya memaparkan.

Empat hari terakhir, lanjut Budi, kasus positif Covid-19 pun tidak mengalami penambahan tetap 31 orang. Ada pun penambahan satu pasien terjadi sebelum PSBB diberlakukan pada 6 Mei lalu.

“Alhamdulillah tak ada penambahan. Tetapi kekhawatiran kami dioperasikannya kembali angkutan umum sesuai kebijakan pusat. Meski tak boleh mudik, manusia ada saja caranya,” kata Budi.

Dia mengakui ketegasan tim gugus di lapangan sangat dibutuhkan menekan risiko peningkatan angka Covid-19. Terutama, adanya warga pendatang atau yang pulang kampung di masa PSBB.

“Meski angkutan boleh, mudik tak boleh, di lapangan tidak sesederhana itu. Ada saja pelanggaran. Warga yang penting bisa balik cari celah dan jalur tikus. Itu manusiawi memang,” keluhnya.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Tasikmalaya H Asep Maman Permana menambahkan, tren kasus Covid-19 selama PSBB terbilang stagnan. Dari total 31 kasus positif, 19 diantaranya terkonfirmasi laboratorium dan 12 hasil rapid test.

“Sebelas orang sudah dinyatakan sembuh, sementara 17 lainnya masih perawatan. Tiga orang meninggal dunia,” tuturnya.

Jumlah pasien dalam pengawasan (PDP) dari 34 orang, 29 diantaranya selesai pengawasan dan tidak ada pasien yang saat ini masih diawasi. Lima lainnya meninggal dunia.

Baca juga : Sebelum Gantung Diri, Warga Bungursari Kota Tasik Ini Kerap Lakukan KDRT, Bukan karena Perselingkuhan

Sementara untuk orang dalam pemantauan (ODP) jumlahnya 1.161 orang. Sebanyak 247 diantaranya masih dipantau. Sementara, 914 lainnya sudah selesai pemantauan.

“Untuk orang tanpa gejala (OTG) sebanyak 57 orang masih dipantau, selesai (pemantauan) 305 orang, dari total keseluruhan 362 orang,” ucap Asep. (igi)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.