Baru 35 Persen Produk Makanan Berlabel Halal

98
0
MENINJAU. Bupati Tasikmalaya H Ade Sugianto didampingi Kadis Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Tasikmalaya Drs Heri Sogiri MM (kiri) meninjau pameran makanan di Pendopo Baru Singaparna, Selasa (9/7).

SINGAPARNA – Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Tasikmalaya mencatat dari 15.000 lebih industri rumahan produk makanan, baru 35 persen yang sudah berlabel halal MUI. Sedangkan sisanya atau 65 persen belum memprosesnya.

Kepala Dinas Perindustrian dan Per­da­gang­an (Dispe­rindag) Kabupaten Tasikmalaya Drs Heri Sogiri MM mengatakan, dari sekain banyak olahan makanan yang ada di kabupaten belum semuanya berlabel halal. Faktor masih sedikitnya olahan makanan berlabel hala karena terkendala dalam pengurusan izinnya.

“Apalagi untuk label halal itu kewenangannya berada di Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Barat. Sehingga memang prosesnya lumayan panjang untuk mendapatkan label halal itu,” ujarnya, menjelaskan disela pameran makanan pada Hari Kesatuan Gerakan PKK Kabupaten Tasikmalaya di Pendopo Baru, Selasa (9/7).

Kata dia, sebenarnya para pengusaha olahan makanan ini mempunyai keinginan dan kesadaran untuk memiliki label halal MUI. Namun, karena prosesnya yang panjang membuat mereka mengurungkan niat memprosesnya.

“Sebetulnya mereka ini sudah sadar dan ingin produk-produknya itu memiliki label halal MUI, namun karena ingin cepat mendapatkannya, sementara proses normatifnya cukup lama sehingga banyak yang belum menempuhnya,” katanya.

Jelas dia, untuk membuat label halal banyak proses yang harus dilewati. Di antaranya pengajuannya ke MUI Provinsi Jawa Barat, pengecekan produk dan lainnya. “Semua proses itu tentu memakan biaya yang tidak sedikit,” katanya.

Selain itu, kata dia, kendala para pengusaha olahan makanan di Kabupaten Tasikmalaya dalam label halal ini adalah soal pemasaran. Karena, kebanyakan pengusaha olahan makanan ini tidak dipasarkan secara langsung oleh pembuat, melainkan dititipkan ke orang lain atau toko.

“Akan tetapi, semuanya harus memiliki label halal. Maka dari itu akan melakukan sosialisasi kepada industri rumahan untuk bisa memproses label halal MUI di semua produk makanan,” katanya.

Lanjut dia, pihaknya akan terus berupaya mengimbau dan men­gajak pengusaha rumahan ini memproses produknya untuk memiliki label halal. Dengan demikian semakin banyak produk olahan makanan di Kabupaten Tasikmalaya yang sudah tersertifikasi halal dari MUI. “Tahun lalu saja ada 60 produk yang mendapatkan label halal. Mudah-mudahan tahun ini bisa terus bertambah,” katanya.

Terang dia, label halal ini memang tidak selamanya. Karena, hanya berlaku tiga tahun. Maka dari itu, pengusaha harus melakukan perpanjangan. Dengan demikian, produk-produknya pun harus tetap terjaga kualitasnya. “Saya kira penting sekali untuk produk olahan makanan memiliki label halal, karena bisa berdampak terhadap penjualan dan kepercayaan masyarakat,” harapnya. (ujg)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.