Batik Sukapura Khas Tasikmalaya yang Minim Regenerasi Perajinnya

58
0
MEMBATIK. Para perajin batik asal Desa Janggala Kecamatan Sukaraja sedang menyulam batik dan memberikan sosialisasi kepada generasi muda untuk menyukai kerajinan batik, Senin (26/10). RADIKA ROBI RAMDANI / RADAR TASIKMALAYA

SUKARAJA – Melestarikan budaya atau ciri khas daerah selalu terbentur dengan minimnya regenerasi. Apalagi sekarang zamannya kecanggihan teknologi yang sudah menjadi budaya baru bagi generasi muda.

Kabupaten Tasikmalaya mempunyai banyak ciri khas atau budaya, sepereti Batik Sukapura. Namun, keberadaannya mulai langka karena minimnya regenerasi dari perajinnya.

Menyikapi hal tersebut, Kelompok Usaha Bersama (KUB) Batik Tulis Karuhun Sukapura Gandok Jaya Mukti Kampung Ciseupan RT/RW 11/07 Desa Janggala Kecamatan Sukaraja Kabupaten Tasikmalaya secara berkelanjutan meregenerasi perajin batik menjadi perhatian pemerintah Desa Janggala.

“Kami melihat jumlah anak muda yang mau menjadi perajin batik masih sangat terbatas. Maka dari itu, regenerasi menjadi hal yang penting untuk menjaga keberlanjutan industri batik,” ujar Kepala Desa Janggala Asep Ahmad Kastoyo kepada Radar, Senin (26/10).

Asep mengungkapkan, pemerintah desa gencar melakukan sosialisasi dan memberikan edukasi keterampilan membatik kepada para generasi muda. Saat ini terdapat lima anak muda yang sudah mulai dilatih membatik.

Baca juga : Bagi-bagi Sembako ke Korban Bencana di Tasik Selatan, Mayasari Foundation Dipanggil Bawalu

Pihaknya meyakinkan kepada para generasi muda bahwa profesi menjadi perajin batik atau bisnis di industri batik memiliki prospek yang menjanjikan.

Menurutnya, industri batik selama ini memiliki peran penting sebagai penggerak perekonomian dan penyedia lapangan kerja.

Selain meningkatkan kompetensi sumber daya manusia, pihaknya juga bekerja sama dengan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Tasikmalaya aktif melaksanakan pengembangan kualitas produk, standarisasi dan peralatan untuk memacu daya saing dan kapasitas produksinya.

“Kami terus melakukan upaya-upaya untuk meningkatkan kualitas dalam pengembangan batik tulis Sukaraja ini. Dan juga terus membangkitkan semangat para perajin industri batik ini untuk terus mengembangkan usahanya, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ungkapnya.

Asep menuturkan, untuk para perajin batik saat ini didominasi kaum ibu-ibu rumah tangga. Usianya pun sudah terbilang cukup tua, untuk menarik minat bakat anak muda pihaknya juga sering melakukan sosialisasi tentang batik.

Asep berharap para generasi muda ini mau turut mengembangkan budaya batik khas Sukapura yang sudah turun temurun.

Meskipun dalam membatik ini memang cukup rumit, perlu ketelatenan dan kesabaran. Namun biasanya anak muda sekarang maunya yang simple dan cepat dan gajinya besar.

“Kalau membatik ini kan perlu kesabaran yang cukup tinggi. Kalau salah diulang warnanya, tergantung kainnya juga dan begitu selesai ada kepuasan batin tersendiri,” kata dia.

Lanjut Asep, penanaman kecintaan terhadap batik perlu ditanamakan sejak dini.

Tujuannya agar generasi penerus mau melanjutkan membuat batik. Yang paling penting cinta terlebih dahulu terhadap batik agar karya warisan para leluhur itu tetap lestari.

“Saya berharap dari kalangan generasi muda mulai sadar untuk turut terjun dalam pembuatan batik. Jangan sampai dituntut oleh pihak lain hanya karena keengganan kita untuk melestarikan dan mewarisi seni budaya membatik,” pungkasnya. (obi)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.