Siapa calon Bupati Tasikmalaya pilihan anda?

0.1%

1.1%

88.5%

3.1%

0.3%

5.9%

0%

1%

0%

Batu Andesit Kota Tasikmalaya

90
0
Oleh Asep M Tamam

Ketika mendengar kata “andesit”, masyarakat Kota Tasikmalaya umumnya paham bahwa yang dimaksud adalah area yang berada di antara Masjid Agung Kota Tasikmalaya dengan Taman Kota (Tamkot). Pada awalnya, ia dibangun untuk menjadi bagian dari kebahagiaan warga Tasikmalaya, melengkapi kehadiran Taman Kota yang berada di sebelahnya. Mimpi mewujudkan ruang terbuka untuk umum pun tercipta. Eks gedung DPRD Kabupaten Tasik beralih bentuk menjadi taman indah yang diserbu warga. Mereka datang untuk bergembira, berselfie, berwefie, duduk-duduk manja, dan mencari hiburan gratis.

Tetapi, sejak dibangunnya jalan dengan bahan batu andesit tiga tahun yang lalu, area itu telah menjadi “sesuatu” yang syubhat. Kenapa demikian? Sejak keberadaannya hingga hari ini andesit menjadi masalah yang tak kunjung selesai. Pro dan kontra terus mengemuka. Banyak kalangan mengkritisi keberadaannya. Alasan pertama karena memutus jalur kendaraan dan menyebabkan macet dan perubahan jalur lalu lintas. Keberadaannya sempat mengorbankan Tugu Adipura; salah satu ikon bersejarah yang memberi pesan tentang seriusnya perjuangan dan kerja keras para pendahulu Tasikmalaya. Belakangan, ia juga menimbulkan suara berisik dan memberi kesan kumuh terhadap Masjid Agung Kota Tasikmalaya yang juga menjadi salah satu ikon terpenting Kota Tasikmalaya.

Akhirnya, andesit pun kembali dibuka. Kendaraan kembali bisa masuk jalan berandesit. Fungsi awal andesit sebagai jalan umum kini kembali ke bentuk idealnya. Untuk masuk jalan Hazet, motor dan mobil tak usah berputar ke jalan Pemda dan ke depan gedung eks Pemda Kabupaten Tasik. Ada banyak suasana berbeda hari ini, tapi lebih baik dibanding ketika andesit masih ditutup untuk jalur kendaraan.

MASJID AGUNG DAN JALAN HAZET

Selama tiga tahun belakangan, masjid kebanggaan Kota Tasik terlihat kumuh dan sesak. Selain kawasan andesit yang ramai didatangi warga di sebelah timur, tiga arah mata angin lainnya pun dipenuhi segala macam; barang maupun orang. Andai kita gambarkan sebagai seorang manusia, Masjid Agung Kota Tasikmalaya tengah dihimpit beban dari segala arah. Untuk bernafas pun terlihat berat. Tak seperti di kota dan kabupaten lainnya di Jawa Barat, masjid Agung Kota Tasikmalaya terlihat memiliki hanya sedikit ruang untuk bisa memperindah dan memperluas dirinya.

Terlebih setelah adanya areal andesit. Ramainya orang yang lalu lalang semakin mengurangi ruang udara. Di sebelah selatan, jalurnya pun disesaki mobil dan motor yang diparkir. Sebelah luar pagar Masjid Agung Kota Tasik—kecuali sebelah barat—diisi oleh pedagang kaki lima yang mencari dan menitip hidup dengan mengandalkan sebagian jemaah masjid atau mereka yang datang sekadar lewat.

Masyarakat Kota Tasik, terutama para pemimpin formalnya, eksekutif maupun legislatif mesti benar-benar menunjukkan kasih sayang dan perhatiannya pada Masjid Agung Kota Tasikmalaya dengan cara memikirkan, mencari solusi, juga mengeksekusinya demi menghadirkan kenyamanan kehidupan seputar Masjid Agung Kota Tasikmalaya. Memosisikan masjid sebagai hal yang sakral, sebagai tempat suci yang banyak diulas dalam literatur Islam, primer maupun sekundernya. Dibukanya andesit menjadi satu di antara beberapa pintu untuk membuat suasana Masjid Agung Kota Tasikmalaya menjadi lebih luas, lebih lapang, dan lebih memberi rasa nyaman.

Selain Masjid Agung, Jalan Hazet (HZ Mustofa) juga mesti dibenahi. Benang kusutnya hingga kepemimpinan hari ini belum bisa diurai. Terutama di bulan suci Ramadan, jalan Hazet adalah jalur yang paling dihindari. Bukan tak bisa diatasi, tapi sampai hari ini belum ada political will yang kuat dari para pemimpinnya. Sementara pemimpin, dalam satu definisinya adalah sebagai solusi. Pemimpin adalah solusi.

ANDESIT SEBAGAI JALAN MASUK

Dibukanya andesit memberi dua dimensi bagi makna kepemimpinan. Secara positif dimaknai sebagai jiwa kepemimpinan yang responsif dan mau mendengar suara dan jeritan warga. Sejak dipasangnya hingga hari ini, betapa banyak suara yang berhembus dari napas masyarakat yang benci kemacetan. Dalam akun individu maupun grup di media sosial, kritik tentang andesit sering lantang diteriakkan. Media massa sering menyuguhkan berita seputar andesit.

Secara negatif, perubahan fungsi andesit dimaknai sebagai jiwa kepemimpinan yang plin-plan dengan mengubah-ubah keputusan. Pengkajian yang tidak matang akan membuka potensi keberatan dari masyarakat, dan itulah yang terjadi.

Karena keputusan sudah berlaku, andesit pun kembali menjadi jalan milik umum. Semoga bisa menjadi satu di antara keputusan politis yang berefek positif. Bukan hanya andesit, tapi Masjid Agung dan jalan Hazet pun harus mendapatkan momentumnya, bisa menjadi lebih baik dan membetahkan. Semoga. (*)

*Pengamat sosial, politik dan pemerintahan Tasikmalaya

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.