Belajar dan Berguru kepada Sejarah

Siapa Presiden Pilihan Mu ?

Muharam adalah bulan pertama pada kalender Hijriah. Seperti Januari pada kalender Masehi. Pada bulan itu terjadi beberapa peristiwa besar. Saat para nabi, rasul, diberi kemenangan oleh Allah atas musuh-musuhnya.

SURAH Al Fatihah menyiratkan perintah untuk belajar sejarah. Hanya, kita kurang memahami dan menghayati walau setiap hari pasti mengucapkannya. Seorang muslim yang baik dalam satu hari tidak kurang dari tujuh belas kali mengucapkannya.

”Tunjukilah kami jalan yang lurus (QS Al Fatihah [1]: 6).”
Jalan lurus ditafsirkan oleh para mufasir sebagai dinul Islam, sebagaimana dengan tegas dijelaskan ayat selanjutnya, ”(Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka, bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat (QS Al Fatihah [1]: 7).”

Ayat itu mengandung perintah tersirat untuk belajar sejarah bagi kita. Ada tiga kelompok yang disebutkan dalam ayat terakhir tersebut.

Yakni, kelompok yang telah diberi nikmat oleh Allah, kelompok yang dimurkai Allah dan kelompok yang sesat.

Tiga kelompok itu adalah generasi yang telah berlalu. Generasi di masa lalu yang telah mendapatkan satu dari tiga hal tersebut.

Tulisan ini diprioritaskan kepada kelompok pertama, yaitu generasi yang merasakan nikmat Allah. Imam Ibnu Katsir menuturkan, kelompok tersebut dijelaskan lebih detail dalam surah An Nisa ayat 69–70.

”Dan barang siapa yang menaati Allah dan rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu nabi-nabi, shiddiiqiin, orang orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. Yang demikian itu adalah karunia dari Allah. Dan Allah cukup mengetahui (QS An Nisa: 69-70).”

Itu adalah perintah tersirat pertama agar kita rajin melihat sejarah hidup mereka. Untuk tahu dan bisa meneladani mereka. Agar kita bisa mengetahui nikmat seperti apakah yang mereka rasakan sepanjang hidup.

Agar kemudian kita bisa mengikuti jalan lurus yang pernah mereka tempuh sekaligus bisa merasakan nikmat yang telah mereka rasakan.

Kita dihadapkan pada sebuah keprihatinan bahwa hari ini kaum muslimin bukan penguasa-penguasa bumi sebagaimana seharusnya.

Untuk menghibur diri dari kepedihan itu, biasanya kita melihat masa lalu yang gemilang. Ketika kaum muslimin menaklukkan lebih dari separo dunia, ketika suara muazin merupakan suara terbaik dunia.

Mari kita simak tulisan ini dengan berguru kepada sejarah tentang apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW untuk mewujudkan revolusi yang menakjubkan sepanjang sejarah peradaban manusia ini.

Pertama, yang dilakukan oleh Rasulullah SAW ialah menanamkan di dalam hati pengikutnya kalimah La Ilaha Illallah.

Dia mengajarkan kepada mereka bahwa tidak ada Tuhan selain Allah; bahwa selain Dia tidak patut disembah dan dipuja; bahwa semua manusia, betapa pun besar dan luas kekuasaannya, hanyalah sesuatu yang kecil dan hina di hadapan Allah.

Kedua, Rasulullah SAW menanamkan kepada para pengikutnya bahwa manusia termulia adalah manusia yang paling takwa.
Allah SWT berfirman dalam surah Al Hujurat ayat 13,

”Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu.”

Dua hal itu membuat kaum muslimin percaya diri dan punya harga diri. Mereka berkeyakinan bahwa kemuliaan adalah milik Allah, nabi-Nya, dan para mukmin. Sebagaimana firman Allah dalam surah Al Munafiqun ayat 8, ”Dan kemuliaan hanyalah bagi Allah, bagi rasul-Nya, dan bagi orang-orang mukmin.”

Maka, hilanglah perasaan rendah diri, bersemayamlah di dalam hati mereka harga diri yang konstruktif. Kita semua tahu bahwa sejarah telah mengabadikan bagaimana Ja’far bin Abi Thalib berdiri dengan gagah berani di hadapan kaisar Ethiopia, dengan meyakinkan dan berani menyuarakan kebenaran Islam.

Lalu, ketika sebagian orang bertanya me­ngapa kaum muslimin tidak bersujud di hadapan kaisar, dengan tegas Ja’far men­jawab,

”Rasul telah melarang kami bersujud di hadapan siapa pun, kecuali Allah.”

Jika kaum muslimin dewasa ini ingin mengambil alih peran sebagai penghulu dunia, mereka harus memperoleh kembali harga diri itu. Mereka harus mendapatkan kembali hakikat kalimah tauhid.

Kebanyakan dari kita sering tergiur dan terpesona oleh jabatan, harta dan segudang penghargaan sehingga lupa bahwa kita adalah muslim yang lebih unggul di hadapan Allah.

Tegasnya, kita perlu untuk mendapatkan kembali milik kita yang telah hilang, yaitu harga diri. Jika kita kehilangan harga diri, kita akan mudah tunduk kepada kemegahan budaya-budaya orang lain yang tidak mengusung nilai-nilai edukatif. Semoga bermanfaat. (*)

*) Pengasuh Pesantren Progresif Bumi Shalawat, Sidoarjo, Jatim (@gusali_bsh)

loading...