Belajar Tatap Muka di Garut Setelah Warga Jalani Vaksin

74
0
H Totong Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Garut
Loading...

TAROGONG KIDUL – Dinas Pendidikan Kabupaten Garut memastikan pembelajaran jarak jauh (PJJ) akan diberlakukan sampai tahun ajaran baru. PJJ terus diperpanjang, karena kasus positif Covid-19 di Kabupaten Garut terus mengalami peningkatan yang cukup signifikan.

“Kita masih berlakukan PJJ di tahun ajaran baru karena kasus (Covid-19) masih tinggi. Belajar tatap muka belum dilaksanakan, karena kita tidak ingin ada klaster sekolah (penyebaran Covid-19),” ujar Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Garut H Totong kepada wartawan, Selasa (29/12).

Terkait pembelajaran tatap muka (PTM), Kementerian Pendidikan memang telah menyerahkan kebijakan tersebut ke pemerintah daerah. Sementara, arahan dari Bupati Garut H Rudy Gunawan, sekolah bisa dibuka kembali setelah ada vaksinasi.

“Vaksinasi kan juga belum jelas kapan dilaksanakan sampai ke daerah, kalau Maret vaksinasi kan sudah dekat dengan tahun ajaran baru,” katanya.

Baca juga : Helmi Budiman Pimpin DPD PKS Garut

Loading...

Totong melihat pembelajaran tatap muka tidak bisa hanya dilihat dari tingkat penyebaran Covid-19 di satu wilayah. Apalagi, saat ini penyebaran Covid-19 sudah merata di seluruh wilayah Kabupaten Garut.

“Harus dilihat juga soal ketersediaan ruang isolasi, hingga tren penyebaran Covid-19 saat ini yang telah menyebar hingga klaster keluarga,” terangnya.

Saat ini, kata Totong, ada sekitar 600 ribu siswa dari jenjang TK hingga SMA. Jika satu persennya saja sampai terpapar Covid-19, pastinya pemerintah daerah akan sulit menyediakan ruang isolasi. “Saya tidak mau nantinya ada klaster sekolah, kalau satu persennya saja terpapar, mau diisolasi dimana,” ujarnya.

Totong mengakui ada daftar periksa yang bisa dipenuhi sekolah yang ingin melakukan pembelajaran tatap muka. Namun, selain daftar periksa tersebut, harus juga diperhatikan soal perilaku siswa dalam menerapkan protokol kesehatan. Pastinya, sulit menjaga disiplin siswa dalam menerapkan protokol kesehatan.

“Perguruan tinggi saja yang mahasiswanya sudah dewasa, kesulitan menjaga disiplin protokol kesehatan. Makanya tetap PJJ sampai tahun ajaran baru, apalagi di sekolah-sekolah, pasti sulit,” katanya.

Tatap muka di sekolah, menurut Totong, bisa dilakukan menjelang awal tahun ajaran baru. Itu pun sifatnya hanya untuk memastikan standar kompetensi minimal siswa. “Mengukur kompetensi minimal siswa sebelum masuk tahun ajaran baru, mungkin nanti bisa dilakukan secara tatap muka terbatas,” terangnya.

Totong mengakui PJJ sampai tahun ajaran baru memang belum menjadi kebijakan pemerintah daerah karena masih terus dilakukan kajian dan terus memantau soal perkembangan vaksinasi. Jika vaksinasi belum jelas, pihaknya cenderung mempertahankan PJJ hingga tahun ajaran baru. (yna)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.