Butuh Modal untuk Tingkatkan Nilai Jual

Belum Semua Petani Kopi Bisa Ekspor

23
0
istimewa MENIKMATI KOPI. Wakil Bupati Garut dr Helmi Budiman saat menghadiri Festival Kopi Garut Minggu (8/12).

GARUT KOTA – Asosiasi Petani Kopi Indonesia (Apeki) Garut menilai industri kopi di Kabupaten Garut terus mengalami peningkatan sejak dua tahun terakhir. Hal itu seiring dengan meningkatnya permintaan kopi dari berbagai wilayah dan mancanegara. Selain itu banyak bermunculan kafe dan kedai kopi.

Ketua DPC Apeki Kabupaten Garut Sofyan Hamidian mengatakan potensi kopi di Kabupaten Garut masih sangat tinggi. Dari sekitar 6.000 hektare lahan kopi, saat ini baru 2.100 hektare lahan yang aktif produksi.

Dalam satu tahun, sekitar 750 ton kopi dihasilkan dari 2.100 hektare lahan itu. “Ada yang dijual langsung ekspor. Ada juga yang untuk memenuhi pasar nasional dan regional,” katanya kepada wartawan di lokasi Festival Kopi Garut Minggu (8/12).

Ia menyebutkan ekspor kopi dari Garut dilakukan sejak dua tahun terakhir. Negara yang menjadi tujuan ekspor diantaranya Taiwan, Cina dan Korea. Kendati demikian, belum semua petani mampu melakukan ekspor. Pasalnya, ekspor hanya dilakukan untuk kopi dalam bentuk biji atau green bean. Sementara umumnya para petani hanya dapat mengolah kopi sampai menjadi ceri.

Sofyan mengatakan baru sekitar 20 persen dari 146 kelompok petani kopi di Garut yang dapat mengolah kopi hingga menjadi green bean. Sementara sisanya, hanya menjual ceri kopi.

Padahal, lanjut dia, harga jual kopi dalam bentuk ceri dan green bean jauh berbeda. Ia mencontohkan, satu kilogram ceri hanya dihargai antara Rp 7.000-8.000. Sementara harga green bean berkisar antara Rp 75-80 ribu per kilogram. “Artinya bantuan dari pemerintah masih kurang. Contoh petani untuk meningkatkan pendapatannya masih kurang. Seandainya pemerintah memberi bantuan modal untuk alat, nilai tambah kopi akan lebih tinggi,” katanya.

Sofyan menambahkan masih banyak petani yang belum mengerti cara mengolah kopi yang baik dan benar. Padahal, untuk menghasilkan kopi dengan kualitas tinggi, terdapat standar, mulai dari cara tanam, petik hingga pengolahannya. Sementara, lanjut dia, pembinaan yang dilakukan oleh pemerintah masih terbatas anggaran.

Kendati demikian, saat ini mulai ada perhatian dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Garut untuk lebih mempromosikan kopi dari wilayah itu. Salah satunya dengan mengadakan Festival Kopi Garut untuk pertama kali.

Menurut dia, keberlangsungan festival kopi cukup penting untuk mempertemukan petani dengan pembeli. Selain itu, festival juga penting untuk memasyarakatkan kopi Garut. “Jadi masyarakat tahu bahwa kita (Garut) punya kopi,” kata dia.

Sofyan mengakui selama ini kopi dari Kabupaten Garut memang selalu kalah bersaing dengan kopi dari daerah lain, seperti kopi gayo. Salah satu alasannya, kopi Garut belum memiliki identitas. “Makanya dalam acara ini juga dilakukan launching logo kopi Garut. Agar masyarakat aware kalau Garut punya kopi. Kita harap, kopi Garut semakin dikenal, sehingga semakin banyak dikonsumsi,” kata dia.

Bupati Garut Rudy Gunawan mengatakan penyelenggaraan Festival Kopi Garut merupakan upaya Pemkab Garut untuk mengenalkan kopi ke masyarakat. Dalam festival itu, pihaknya mengundang buyer (pembeli) dari Jakarta. Dengan begitu, ia berharap akan terjadi interaksi bisnis antara petani dan pembeli. “Kita harap dapat menciptakan jaringan budidaya kopi dengan kalangan industri, sehingga kopi juga bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” kata dia.

Pemkab Garut, kata dia, akan terus mendukung dan mempromosikan kopi dari Kabupaten Garut. Dalam waktu dekat, Pemkab Garut juga berencana memamerkan kopi unggulan dalam pameran yang akan dilaksanakan di Dubai. “Pemda Garut diundang pameran di Dubai pada 2020. Kita akan bawa kopi dalam kegiatan itu dan menjadikannya sebagai salah satu produk unggulan,” kata dia.

Ia menambahkan Pemkab Garut juga siap memberikan dukungan untuk para petani, sehingga ke depannya para petani kopi tidak hanya mampu menjual ceri, tapi juga mengolah hingga menjadi green bean atau bahkan memiliki kemasan sendiri. Dengan begitu, nilai tambah yang didapatkan petani kopi semakin tinggi. (yna)

loading...
Halaman

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.