Benarkah Sekolah Bagus Harus Mahal?

126
0
Oleh Hj Affi Endah Navilah Kepala SMPN 10 Tasikmalaya

Masih tentang teori Multiple Intelligence yang dikemukakan oleh Prof Dr Howard Gardner seorang psikolog dan ahli pendidikan dari Universitas Harvard AS. Hal ini dikenal melalui karya Gardner yang berjudul Frame of Mind. Saya sangat menyukai teori ini, sebuah teori yang menekankan bahwa semua anak cerdas di bidang potensinya masing-masing.

Bahkan dulu, pernah berangan-angan menyelenggarakan sekolah yang berbasis multiple intelegence; bagi peminat bahasa ada kelas bahasa disertai perlengkapannya, bagi penyuka musik ada kelas musik disertai alat-alatnya, yang berbakat di dunia menulis disediakan kelas menulis, kelas bola, kelas melukis, kelas sains. Untuk mewujudkan sekolah berbasis multiple intelligence ini, di samping sarana prasarana penunjangnya yang lengkap juga harus diselingi dengan mengundang pelatih dan praktisi profesional, sehingga semua anak bisa mengembangkan bakatnya dengan optimal.

Pada kenyataannya, untuk mewujudkan hal tersebut tentu memerlukan biaya besar terutama berkaitan dengan penyediaan sarana prasarana, tidak bisa hanya mengandalkan biaya operasional sekolah. Kesempatan ini mungkin bisa dicapai oleh sekolah swasta favorit, atau sekolah yang mendapat dukungan penuh dari orang tua siswa.

Maka dari itu, perlu pemikiran inovatif, kita harus bisa mengatasi berbagai kendala sebagai inovator, kita harus bisa membuat jembatan layang di atas permasalahan yang dihadapi.

Melihat bakat anak-anak sekolah yang beraneka ragam, selain kegiatan ekstrakurikuler yang sudah ada dan sesuai pakem, kita harus membuat terobosan baru tentang sekolah berbasis multiple intelligence dengan mempertimbangkan efisiensi pembiayaan, efektivitas waktu, maupun strategi dan teknis pelaksanaannya.

Di SMPN 10 Tasikmalaya, impian tentang sekolah berbasis multiple intelligence disederhanakan dengan pelaksanaan program kegiatan english day, the sains is fun, seni graffity, bank sampah, market day, kelas gitar, kajian kitab kuning dengan cara membenahi dalam penyusunan program, pelaksanaan, pelaporan serta monev yang dilakukan. Tidak boleh ada kegiatan yang asal ada atau asal jadi, semuanya harus berorientasi pada output dan tujuan yang telah ditetapkan. Misalnya dalam kegiatan english day, dimulai dengan sosialisasi dengan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Guru Bahasa Inggris beserta warga sekolah, menyusun pengembangan materi ajar, teknis pelaksanaan, reward bagi yang berhasil melaksanakan, membangun komitmen, monitoring, kerja sama dengan perguruan tinggi, serta monitoring dan evaluasi secara berkala baik dari internal maupun eksternal.

Sebagai best practices, SMPN 10 Tasikmalaya sudah punya klub sepak bola dan futsal ADIKOS. Sebuah kegiatan ekstrakurikuler yang dikelola secara profesional, kerja sama antara sekolah dengan orang tua siswa, dan hasilnya cukup memuaskan. Sebagai catatan, bahwa sebuah program sekolah akan berhasil gemilang dan menuai hasil memuaskan jika mendapat dukungan dari berbagai pihak, terutama orang tua siswa.

Mungkin ada benarnya bahwa sekolah bagus pasti mahal dan sekolah mahal pasti bagus. Ada salahnya juga? Bisa jadi, semua tergantung pada decision maker di sekolah. Selamat menempuh tahun ajaran baru! (*)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.