Menengok Aktivitas Komunitas Tangan Kanan Tasikmalaya

Berawal dari Warung Kopi, Kini Rutin Santuni 36 Yatim Piatu

240
ISTIMEWA MUNGGAHAN. Komunitas Tangan Kanan merayakan tradisi munggahan bersama 36 anak yatim piatu Kampung Cimuncang di Objek Wisata Gunung Galunggung, Minggu (6/5).

Tak jarang dari obrolan warung kopi muncul ide kreatif yang dituangkan menjadi gerakan positif terhadap perkembangan sosial bahkan upaya menjaga lingkungan dan turut mendorong kemajuan daerah.

Firgiawan, Tasik

Seperti dilakukan Komunitas Tangan Kanan Tasikmalaya. Perkumpulan yang diinisiatori empat orang warga Sukamulya Kecamatan Bungursari itu, kini secara rutin memberi santunan terhadap 36 yatim piatu dan 10 guru madrasah di Kampung Cimuncang sebulan sekali.

Berawal dari inisiatif Deden Royani, Herman, Asep Fajar dan Dani Wardana yang biasa berkumpul dan bersanda gurau di waktu senggang di salah satu tempat tongkrongan di wilayah Cimuncang.

Melihat banyaknya anak yatim yang perlu diberikan santunan demi keberlangsungan pendidikannya, mereka tergerak untuk menyisihkan sebagian rezekinya bagi para yatim. Ibaratnya, membeli rokok Rp 18 ribu dengan uang Rp 20 ribu, tentu ada kembaliannya. Dan itu dimasukkan ke kas komunitas. “Ya daripada dikantongi atau hanya dilipat saja, kita masukan uang lebih kita ke kas komunitas,” ungkap salah seorang inisiator Komunitas Tangan Kanan Tasikmalaya Deden Royani, Minggu (6/5).

Komunitas yang berdiri tahun 2017 tersebut, kini secara kontinyu kegiatan urunan itu membuahkan hasil. Tercatat sebanyak 36 yatim setiap bulannya bisa diberi santunan sebesar Rp 100 ribu. Bahkan di momen keagamaan atau hari tertentu bisa lebih dari itu. Tidak Cuma yatim, kini 10 guru madrasah di wilayah Cimuncang pun mendapat rezeki serupa sebesar Rp 50 ribu kerap diterima setiap bulan untuk dana stimulan dan apresiasi bagi para pendidik diniyah di wilayah Cimuncang.

“Alhamdulillah, pasca dibentuk 2017 lalu, saat ini sudah lebih dari 65 donatur yang rutin menyalurkan sebagian rezekinya ke komunitas,” ungkapnya.

Kepengurusan komunitas juga terbilang unik. Siapa saja yang hendak menjadi donatur atau bapak asuh para yatim, otomatis menjadi pengurus. Tidak ada istilah ketua, sekretaris atau bendahara layaknya organisasi pada umumnya. Semua sebagai pengurus, selain mengurangi suudzon atau kepentingan, upaya itu lantaran gerakan ini didasari kepedulian terhadap lingkungan dan sesama.

Dalam kesempatan momen menjelang Ramadan pun, para pengurus beserta 36 anak yatim menyelenggarakan tradisi munggahan di objek wisata Gunung Galunggung. Sekaligus membagikan santunan terhadap mereka. “Alhamdulillah bisa bersilaturahmi lewat momen ini, menguatkan persaudaraan dan silaturahmi antara donatur dan para yatim” ujar pengurus lainnya, Asep Fajar.

Kegiatan komunitas ini sejatinya bisa diikuti bapak, ibu atau kalangan lain. Utamanya mengasah kepekaan terhadap lingkungan dan turut meringankan beban warga sekitar. Gerakan kepedulian tidak perlu dengan dana besar, niat yang kuat dan ikhlas, tentu bisa diikuti di wilayah manapun. “Kita harap gerakan ini bisa kontinyu dan di wilayah lain pun sama. mengimplementasikan kepedulian lewat gerakan nyata,” tandasnya. (*)

 

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.