Berkebun di Pekarangan Rumah, Solusi Atasi Kebutuhan Warga Cisalak Kota Tasik di Masa Pandemi

116
0
radartasikmalaya.com
Warga Cisalak, Cipedes, Kota Tasik saat menanam sayuran di pekarangan rumahnya, Selasa (10/11) siang. istimewa for radartasikmalaya.com

KOTA TASIK – Pandemi Covid-19 yang terjadi sejak awal 2020 berdampak pada sektor ekonomi masyarakat.

Akhirnya masyarakat perlu memutar otak untuk bertahan dengan beragam cara demi keberlangsungan hidup. Salah satu cara yang ditempuh yakni, ketahanan pangan.

Hal ini seperti di Kampung Cisalak, Kelurahan Sukanah, Kecamatan Cipedes Kota Tasikmalaya. Warga mulai menggalakan wajib tanam sayuran di polybag.

Kantong plastik bekas detergen dan sepatu bot bekas serta kaleng bekas cat, terlihat berjejer di depan belasan rumah warga di pingir jalan. Barang bekas diisi tanah dan ditanami sayuran untuk dikonsumsi.

“Kami menanam sayur menggunakan barang bekas seperti plastik deterjen dan sepatu bot, kaleng bekas cat serta pot bunga ,” ujar Yayan Dahyan, Ketua RT 06, RW 13, kepada wartawan, Selasa (10 /11) siang.

Terang dia, program tanam sayuran di polybag itu selain mempercantik lingkungan juga dalam rangka ketahanan pangan di masa pandemi Covid-19 ini.

“Karena situasi sekarang lagi pandemi, akhirnya kita memutar otak untuk membuat program yang mendukung ketahanan pangan masyarakat,” terangnya.

Program tersebut, tambah dia, diawali karang taruna setempat dan pengurus RT, baik di rumah maupun di pingir jalan.

Nantinya masyarakat bisa melihat hasilnya sehingga turut tergerak melakukan hal serupa.

“Percontohan oleh pengurus RT dulu nanti kalau hasilnya bisa dilihat oleh masyarakat kan mereka juga tertarik. Minimal di satu rumah itu ada satu juga menanam sayuran di polybag,” tambahnya

Tiap seorang warganya, jelas dia, diwajibkan menanam hingga 10 polybag. Jenis sayuran yang ditanam pun disesuaikan dengan kebutuhan konsumsi masyarakat, seperti sosin, tomat, cabai, bawang, maupun jenis tanaman lainnya.

“Kita minta mereka tanam sayuran yang bisa ditanam dalam waktu sebentar lalu dipanen dan hasilnya bisa mereka konsumsi sendiri atau dijual asalkan jumlahnya banyak,” jelasnya.

Saat ini baru ada 60 orang yang mulai menjalankan program tersebut. Namun hingga saat ini, hasilnya masih menjadi konsumsi sendiri.

“Sudah 60 orang baik dari karang taruna atau warga setempat, tapi memang masih untuk konsumsi sendiri. Belum dipasarkan, tapi target pasar kalau memang mau dijual pun kita sudah ada karena di Kota Tasik ada beberapa pasar,” pungkasnya.

(rezza rizaldi)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.