Berteman Boleh, Ideologinya Tidak

90
0
BERAKTIVITAS. Menteri Pertahanan (Menhan) RI Prabowo Subianto saat bersama Edhy Prabowo.
BERAKTIVITAS. Menteri Pertahanan (Menhan) RI Prabowo Subianto saat bersama Edhy Prabowo.

JAKARTA – Sebagai negara, Indonesia dapat menjalin persahabatan dengan negara mana pun. Termasuk dengan negara komunis. Namun, tidak dengan ideologinya. Sejarah pemberontakan PKI harus dijadikan pengingat betapa berbahayanya ideologi selain Pancasila di Indonesia.

“Kalau namanya negaranya ya kita teman. Sama Rusia, China, boleh berteman. Tetapi untuk masuknya ideologi ke Indonesia tidak boleh,” kata mantan Menhan, Ryamizard Ryacudu saat kegiatan bedah buku bertajuk “PKI Dalang dan Pelaku Kudeta”, di Jakarta, Sabtu (23/11).

Menurutnya, contoh organisasi yang berideologi komunis yaitu PKI. Ryamizard menyebut PKI memaksakan ideologi itu tumbuh di Indonesia dan merusak Pancasila. PKI sudah dilarang di Indonesia sejak masa Orde Baru berkuasa hingga saat ini.

“Tak hanya komunis. Ideologi selain Pancasila tidak boleh masuk atau tumbuh di Tanah Air. Begitu juga dengan ideologi liberal dan lain-lain. Indonesia tetap Pancasila dan NKRI. Itu sudah final, harga mati yang tidak perlu diperdebatkan lagi,” katanya menegaskan.

Dia mengingatkan rakyat Indonesia tidak latah dengan ideologi dan cara hidup negara lain. Sebab, hal itu akan membahayakan ideologi Pancasila.

“Dengan bedah buku ini diharapkan kita dapat lebih memahami tentang sejarah bangsa. Jangan mudah termakan berita hoax yang dapat merusak persatuan dan kesatuan bangsa,” ucapnya.

Budayawan Taufik Ismail menambahkan korban komunisme jumlahnya tiga kali lebih banyak dibandingkan total korban perang dunia yang terjadi hingga abad XX. Korban komunisme selama 1917 hingga 1999 berjumlah 120 juta orang. Sedangkan korban seluruh perang dunia hanya sepertiganya yakni 38 juta.

“Ideologi komunis memiliki sejarah mengkudeta 75 negara dalam kurun waktu 69 tahun. Hingga mereka berhasil mendirikan 28 negara komunis,” kata Taufik.

Ideologi komunis, lanjutnya, melakukan pembunuhan umat manusia dengan cara melakukan pembantaian maupun penyiksaan. Seperti di Uni Soviet, diberlakukan kerja paksa. Taufik menegaskan ideologi komunis diturunkan melalui buku oleh dua anak muda pada masanya. Yakni Karl Marx dan Friedrich Engels.

Dalam bukunya kedua orang itu menyebut tujuan pembuatan buku untuk merebut kekuasaan dengan kekerasan. Namun, fakta itu ditutupi oleh partai-partai komunis.

“Yang dikedepankan adalah paham sama rata, sama rasa, kemakmuran rakyat. Bohong itu semua. Termasuk Indonesia berpuluh tahun dibohongi ideologi ini,” tutur dia.

Faktanya, 24 dari 28 negara berpaham komunis sudah hancur karena rakyatnya mengungsi ke negara lain.

Terpisah, anggota DPR RI, Fadli Zon, meminta masyarakat mewaspadainya cara berpikir ala komunis. Menurutnya, cara-cara komunisme adalah adu domba. Secara ideologi, menurut Fadli, setiap orang bisa dengan mudah mengidentifikasi dan menolak komunisme. Meski sekarang sudah terjadi revisi dari ideologi tersebut.

Cara berpikir komunis menjadi sangat berbahaya. Karena tindakan adu domba tidak terlihat jelas dari sisi ideologi. Tetapi sebenarnya bisa menjadi pintu masuk komunis bergerak. Terutama yang harus diwaspadai adalah tindakan adu domba yang dilakukan terhadap kaum agama.

“Saya melihat isu radikalisme dan terorisme itu paling mudah ditumpangi oleh orang-orang yang memiliki cara berpikir adu domba seperti komunis tersebut,” kata dia. (rh/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.