Hanya untuk Warga Kabupaten Tasik
SIAPA BUPATI & WAKIL BUPATI PILIHAN ANDA?

3.1%

19.3%

7.3%

70.3%

BI Dorong Peningkatan Mutu dan Perluasan Market Abon Sapi Rajawali, Dongkrak Pamor Oleh-Oleh Khas Ciamis

66
0
PAMERAN KKI. Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Tasikmalaya Heru Saptaji (kiri) menunjukkan Abon Sapi Rajawali Iboe Iloh saat event Karya Kreatif Indonesia 2020 di Bale Priangan Bank Indonesia Tasikmalaya, Jumat (28/8). foto-foto: Dok Radar Tasikmalaya TV - Lisna Wati / Radar Tasikmalaya

CIAMIS – Wilayah Rancapetir Ciamis jadi penghasil olahan daging seperti abon dan dendeng sapi. Warisan kuliner nenek moyang ini patut dilestarikan dan saat ini menjadi salah satu oleh-oleh khas Ciamis yang banyak diburu wisatawan.

Melihat potensi yang besar dari industri oleh-oleh abon sapi ini, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Tasikmalaya membina UMKM Abon Sapi Rajawali Iboe Iloh di Rancapetir Ciamis Kabupaten Ciamis.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Tasikmalaya Heru Saptaji mengatakan, daerah Ciamis dikenal memiliki oleh-oleh abon sapi premium yang menjadi daya tarik wisatawan.

“Bank Indonesia melihat potensi yang luar biasa dari usaha abon sapi yang dijalankan UMKM rumahan di Ciamis khususnya daerah Rancapetir,” katanya.

Rata-rata mereka masih menjalankan usahanya secara tradisional, mulai dari cara memasak, pengemasan, pemasaran hingga manajemennya. Padahal bila dikembangkan dengan sentuhan modern dan professional, usaha abon sapi ini bisa semakin terdongkak.

Salah satu UMKM produsen abon sapi yang dibina KPw BI Tasikmalaya adalah Abon Sapi Rajawali Iboe Iloh. “Abon sapi Rajawali ini masih mempertahankan resep leluhurnya, cara memasaknya pun masih menggunakan kayu bakar. Hal ini yang membuat cita rasa Abon Sapi Rajawali masih tetap terjaga sejak tahun 1968 hingga sekarang,” katanya.

Agar kekhasan abon sapi ini bisa dinikmati oleh masyarakat seluruh nusantara, maka KPwBI Tasikmalaya mendorong UMKM kuliner khas ini untuk mengembangkan usahanya dengan memberikan pendampingan, pelatihan hingga diikutkan berbagai pameran di Jakarta.

“Kami berikan pelatihan mulai dari pengembangan jiwa wirausaha, kemasan, manajemen pembukuan hingga pemasaran,” ujarnya.

Pengembangan mindset wirausaha ini penting agar UMKM memiliki punya misi yang kuat dalam melestarikan usaha keluarga yang turun temurun sehingga tidak punah.

“Abon Rajawali ini dikelola oleh generasi ketiga yakni Bu Novi yang merupakan cucu dari Bu Iloh pendiri Abon sapi Rajawali. Di tangan anak muda seperti Bu Novi ini, BI berharap produk unggulan Ciamis ini pamornya bisa terdongkrak sehingga secara tidak langsung bisa menggeliatkan ekonomi di wilayahnya,” katanya.

BI pun memberikan pelatihan packaging. Hal ini penting karena sebelumnya Abon Sapi Rajawali masih menggunakan packaging sederhana berupa plastik tanpa branding. “Setelah kami bina, Abon Sapi Rajawali ini mampu membuat kemasan yang lebih menarik dan tahan lama,” katanya. Packaging ini menjadi nilai tambah sehingga Abon Sapi Rajawali bisa lebih punya nilai jual tinggi yang berimbas pada peningkatan penjualan.

“Dengan packaging yang menarik dan adanya label halal, abon khas Ciamis ini laris dipasarkan di pasar online dan kami bantu pemasarannya dengan membawa ke pameran-pameran di Jakarta,” katanya.

Abon sapi Rajawali ini ikut terpilih dalam kurasi IKRA BI lalu diikutkan dalam pameran ISEC pada 2019. Abon sapi Rajawali juga diikutkan pameran Trade Expo Indonesia pada Oktober 2019. “Jadi di sana produk abon sapi Rajawali khas Ciamis bisa semakin dikenal. Bahkan melalui pameran bisa dipertemukan dengan buyer-buyer dari luar negeri,” katanya.

Heru berharap, setelah adanya pembinaan dari BI, Abon Sapi Rajawali bisa semakin berkembang dan memotivasi UMKM lainnya untuk sama-sama mengembangkan usaha sehingga produk unggulan Ciamis bisa menjadi lokomotif perekonomian masyarakat sekitar.

UMKM terus didorong agar dapat menembus pasar ekspor. Program loncatan ekspor ini penting untuk membentuk UMKM yang kokoh terhadap goncangan. “Saya optimis abon sapi khas Ciamis ini bisa tembus pasar global,” ujarnya.

Pemilik Abon Sapi Rajawali Novi Mustikadewi mengatakan, Abon Sapi Rajawali awalnya diproduksi oleh sang nenek yakni Ibu Iloh pada tahun 1968. Tahun 1980 usaha tersebut diteruskan oleh generasi kedua yakni anaknya ibu Iloh. Saat itu hampir disetiap rumah di Rancapetir memproduksi abon sapi.

“Tahun 2001 saya meneruskan tongkat estapet usaha Abon Rajawali ini,” kata Novi. Ia punya visi melestarikan kuliner leluhur yang juga sebagai produk unggulan dari Ciamis.

“Saya punya komitmen untuk terus memajukan Abon Sapi Rajawali ini. Bahkan setelah lulus SMA saya tidak melanjutkan kuliah karena lebih memilih fokus menekuni usaha abon ini hingga sekarang,” katanya.

Kemauannya yang keras untuk maju membuatnya dilirik oleh Bank Indonesia. Sejak tahun 2014 ia pun jadi salah satu wirausaha binaan Bank Indonesia (WUBI) hingga kini masih terus diberikan pendampingan dan pembinaan.

“Dengan adanya bimbingan BI, saya dituntut maju supaya memperluas pasar lebih banyak lagi,” katanya. Dalam hal produk misalnya, awalnya hanya menjual abon dan dendeng sapi, kini Novi membuat berbagai variasi produk seperti mustofa (kering kentang), surendeng dan menambah varian rasa abon. “Jadi ada abon sapi ori, pedas, ada juga abon ayam, abon lele dan kere ikan mujair,” katanya.

Sebelum dibina oleh Bank Indonesia, Novi hanya berjualan di outlet di rumah. Setelah dibina BI, Novi mengaku mendapat kesempatan pemasaran membuka toko oleh-oleh yang lebih besar di jalan utama sehingga bisa dijangkau bis-bis pariwisata. “Produk pun semakin banyak dikenal. Kini kami punya reseller-reseller di luar negeri seperti di Belanda dan Malaysia,” katanya.

Setelah ada pendampingan dari Bank Indonesia, kata Novi, omzet pun meningkat. “Jadi saya diberikan pelatihan kemasan atau packaging. Dulu hanya pakai kemasan plastik biasa, sekarang pakai dus, standing pouch dan dus karton. Hal ini ternyata bisa meningkatkan harga jual,” katanya. Ia menjual abon sapi kemasan 80 gram dengan harga Rp 28 ribu. Tersedia juga berbagai kemasan yang lebih besar.

Seiring dengan meningkatnya omzet, kapasitas produksi pun meningkat dari 300 kg menjadi 600 kg perbulan. Jumlah karyawan pun bertambah dari 2 orang menjadi 8 karyawan.

“Alhamdulillah abon sapi Rajawali ini diminati konsumen berbagai kalangan, tak hanya dibeli masyarakat sekitar tapi wisatawan maupun tamu dari berbagai daerah setiap harinya berdatangan ke outlet kami,” katanya.

Ia mengatakan, abon Rajawali bercita rasa tinggi, tidak bubuk dan bertekstur serta seperti kapas karena menggunakan daging sapi berkualitas dan diolah secara higienis dengan bumbu rempah pilihan.

“Pada masa pandemi ini pun omzet saya malah naik 3 kali lipat karena abon sapi dan produk lain yang saya jual jadi andalan untuk stok makanan di rumah,” pungkasnya. (na)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.