BI DUKUNG KEMANDIRIAN PONDOK PESANTREN

265
0
Oleh : Trisno Iman Hendrawan

Pesantren sebagai sebuah institusi yang mempresentatifkan keindahan budaya religius di Kota Tasikmalaya dan sekitarnya memposisikan diri sebagai institusi pendidikan dan keagaman, namun selain hal tersebut sumberdaya santri dan santriwati merupakan potensi strategis yang dapat dikembangkan untuk peningkatan ekonomi dan menjawab persoalannya dimasa depan, khususnya perekonomian di Pondok Pesantrennya tersendiri.

Kantor Perwakilan Bank Indonesia Tasikmalaya sebagai lembaga keuangan yang peduli dan ikut serta dalam pengembangan perekonomian khu­susnya di Priangan Timur berusaha mendorong perekonomian daerah melalui Program Pemberdayaan Ekonomi Pondok Pesantren yang meliputi Pesantren Al Idrisiyyah (Cisayong Kabupaten Tasikmalya), Pesantren Sur­yalaya (Pagerageung Ka­bu­paten Tasikmalaya), Pe­santren Ci­pasung (Singaparna Ka­bupaten Tasikmalaya), Pesantren Ihya As-Sunnah (Cihideng Kota Tasikmalaya) dan Pesantren Ar-Risalah (Cijeungjing Kabupaten Ciamis).

Pelaksanaan program tersebut dilaksanakan mulai tanggal 12 Agustus 2017 sampai akhir Desember 2017. Program yang diberikan berupa penyediaan sarana produksi pertanian, mulai dari pembuatan Screen House untuk pembibitan, drum pengomposan, sprayer, benih sayuran sebanyak 14 komoditas, pupuk organik padat, pupuk agen hayati dan pestisida nabati yang nantinya akan digunakan untuk kegiatan budidaya pertanian secara ramah lingkungan. Pelaksanaan program tersebut dapat mengstimulan pesantren untuk menjadi mandiri dari segi pangannya, sehingga dapat mengurangi ketergantungan pangan ke pasar dan ketersediaan sulai pasokan volatille food yang pada akhirnya akan berdampak pada pengendalian inflasi serta perekonomian di pesantrennya sendiri.

Tidak berhenti disitu berbagai dukungan dilaukan oleh Bank Indonesia untuk menunjang pelaksanaan dan keberhasilan program tersebut. Pesantren diberikan fasilitator untuk pendampingan selama program dilaksanakan, dimana pendampingan tersebut dilakukan oleh Klinik Tanaman RL Tamansari binaan Bank Indonesia yang melibatkan mahasiswa dari kampus Universitas Siliwangi yang tergabung dalam komunitas GenBI Tasikmalaya. Kedua elemen tersebut berkolaborasi untuk bekerjasama meyusun metode dan keilmuan yang akan disampaikan dari sudut pandang yang berbeda yaitu dari segi praktisi dan ademisi.

Metode yang diterapkan yaitu learning by doing dimana pendampingan diawali dengan materi kemudian dilanjutkan dengan praktik lapangan. Metode ini merupakan metode yang efektif unuk diterapkan dalam proses pendampigan dikarenakan para santri dan santriwati tidak hanya diberian materi saja, namun dilanjutkan dengan praktik yang akan meningkatan pemahaman dilapangan. Sehingga inovasi dan keilmuan yang disampaikan dapat dengan mudah diserap dan diadopsikan dalam kegiatan budidaya ramah lingkungan.


Keilmuan yang disampaikan meliputi pembibitan individu tanaman dalam Screen House, materi dasar-dasar pemupukan, pembuatan pupuk organik cair, pembuatan pupuk organik padat, materi pemeliharaan tanaman yang baik, materi pengendalian hama penyakit dan pembuatan pestisida nabati yang didukung dengan beberapa pengenalan teknologi seperti analisis pupuk organik padat, analisis pupuk organik cair dan alat pembesar untuk mengamati mikroorganisme hama. Jadi dalam pendampingan tersebut tidak hanya sebatas keilmuan saja yang disampaikan, namun peningkatan pola pikir ilmiah juga menjadi prioritas dalam pendampingan.

Sejumlah bahan- bahan yang digunakan dalam praktik lapangan adalah berasal dari limbah yang ada di lingkungan pesantren. Hal ini dimaksudkan agar pesantren dapat mengenali potensi yang ada di lingkungannya dan mengubahnya menjadi sesuatu yang bermanfaat. Salah satunya yaitu bahan untuk pembuatan pupuk organik cair yang memanfaatkan air cucian beras dari bagian dapur pesantren.

Pembuatan pupuk ini sangat berpotensi dikarenakan air cucian beras itu merupakan air limbah yang memiliki kemampuan untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman, dengan begitu air yang setiap harinya dihasilkan dan dibuang begitu saja dapat menjadi pupuk serta kebutuhan pembelian pupuk akan terkurangi dengan adanya pupuk buatan tersebut. Dilihat dari aspek lingkungan dan ekonomi pupuk ini juga sangat menguntungkan.

Setelah dilakukan pendampingan kelima pondok pesantren telah melakukan kegiatan panen perdana berupa pemanenan sayuran kangkung, sosin, bayam, seledri, pakcoy, kacang panjang, buncis, paprika, cabai, brokoli, terong dan tomat. Hasil dari panen tersebut telah menjadi suplai tambahan sayuran untuk kebutuhan dapur pesantren dan lingkungan pesantren melalui pemasaran kepada para guru, ustaz, jamaah maupun pedagang sayur. Hal ini menjadi angin segar selain dapat memenuhi kebutuhan sayuran, namun dapat menjadi bekal ilmu bagi santri dan santriwati setelah menyelesaikan pendidikannya di pesantren.

Perubahan yang terlihat setelah dilakukannya pendampingan yaitu keempat pesantren yang sebelumnya tidak ada kegiatan budidaya tanaman menjadi memiliki kemampuan budiya untuk menghasilkan sayuran sendiri, selain hal tersebut terlihat juga perubahan mengenai pola pikir budidaya tanaman secara ramah lingungan yang menguntungkan secara ekonomi dan lingkungan.

Harapan kedepannya Program Pemberdayaan Ekonomi Pondok Pesantren ini dapat terus berlanjut dan menjadi pilot project untuk pengembangan pesantren di tempat lainnya. Sehingga pesantren lainnya dapat memenuhi kebutuhan pangannya sendiri tanpa tergantung pada pasar dan dapat memandirikan pesantrennya serta dengan tersebarnya santri dan santriwati dapat memberikan efek yang lebih luas lagi yang pada akhirnya akan mendorong peningkatan perekonomian di Priangan Timur. (rls)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.