Biarpun Ditinggal Mudik Lebaran, Kualitas Udara Jakarta Tetap yang Terburuk di Dunia

34
0

JAKARTA – Lengangnya DKI Jakarta yang ditinggal mudik warganya ternyata tak membuat kualitas udara di ibukota membaik. Sebaliknya, kualitas udara Jakarta masih yang terburuk di dunia.

Direktur Eksekutif Nasional Walhi, Nur Hidayati menyatakan, pihaknya telah melakukan pengecekan kualitas udara saat H-1 perayaan Idul Fitri 1440 H.

Namun yang menjadi penyebab utama bukan hanya dari gas timbal dari padatnya kendaraan bermotor, sehingga harus dilakukan penelitian apa yang menjadi sebab buruknya kualitas udara di Jakarta.

“Satu hari sebelum Lebaran kalau enggak salah kita menduduki peringkat pertama pada pagi hari ya. Kota yang paling terpolusi di dunia, dari indeks standar kualitas udara,” katanya dilansir PojokSatu.id dari JawaPos.com, Minggu (9/6/2019).

Permpuan yang akrab disapa Yaya itu menuturkan, tingginya mobilitas kendaraan di Ibu Kota menjadi salah satu penyebab buruknya kualitas udara di Jakarta.

Namun perlu juga dilihat sumber lainnya yang dapat mengakibatkan buruknya udara di wilayah Ibu Kota.

“Misalnya industri dari cerobong asap, industri pabrik-pabrik, lalu juga pembangkit listrik tenaga batu bara yang ada di sekitar Jakarta, itu juga perlu di teliti,” ucap Yaya.

Yaya menilai, Pemproc DKI Jakarta dapat bekerjasama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) untuk melakukan penelitian dari buruknya kualitas udara di Jakarta.

Sebab, pihaknya menilai, pemerintah kurang melakukan monitoring tehadap kualitas udara khususnya di wilayah Ibu Kota.

Selain itu, Yaya berharap Pemda DKI Jakarta dapat terus melakukan monitoring dengan melakukan pemasangan alat pengecekan udara.

“Jadi sebenarnya kualitas udara kita sudah buruk dan masyarakat berhak tahu apa resiko di udara dan apa resiko dampaknya,” harap Yaya.

Hal tak jauh berbeda juga diungkap juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia, Bondan Andriyanu.

Pihaknya mencatat, Air Quality Index (AQI) Jakarta pada Selasa (4/6) atau H-1 Lebaran, polusi udara sempat menyentuh 210 US AQI.

Angka tersebut menunjukkan, kota Jakarta menjadi juara kualitas udara terburuk di dunia pada hari itu.

“Jakarta sempat nomor satu (terburuk) dengan US AQI 210. Angka ini berarti masuk kategori sangat tidak sehat. Padahal Jakarta sangat lowong saat itu,” ucap Bondan.

Bondan menyebut, angka polusi tersebut mengalahkan kota Chengdu, China, dengan 171 US AQI, dan kota Dubai, Uni Emirat Arab.

Kendati salah satu sumber polutan yakni pembakaran kendaraan bermotor sudah berkurang signifikan mengingat jutaan kendaraan telah meninggalkan Jakarta.

Oleh karena itu ia menuding ada sumber polutan lain yang membuat udara Jakarta sangat buruk.

Sehingga dia pun meminta Pemprov DKI dapat bekerjasama dengan pihak KLHK untuk melakukan pemantauan kualitas udara di Ibu Kota.

“Harusnya tren ini ini dicatat oleh KLHK. Kadang tinggi, kadang rendah, itu harus dicari sumber polutannya dan langkah strategis apa yang bisa dilakukan,” pungkasnya. (jpc/ruh/pojoksatu)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.