BKSDA Ciamis : Awas! Jangan Pelihara & Makan Kelelawar, Corona Mengancam Anda

206
0
ISTIMEWA KELELAWAR PANJALU. Kelelawar menjadikan Situ Lengkong Panjalu sebagai habitat hidup mereka.
ISTIMEWA KELELAWAR PANJALU. Kelelawar menjadikan Situ Lengkong Panjalu sebagai habitat hidup mereka.
Loading...

CIAMIS – Meski hasil penelitian ahli Patologi Fakultas Kedokteran Hewan IPB Prof Drh Agus Setiyono bahwa kelelawar Situ Lengkong, Panjalu, aman dari virus Corono, masyarakat tetap diimbau waspada terhadap penyakit lain yang dibawa hewat yang aktif di malam hari itu.

Kepala Resort Wilayah XIX Gunung Sawal, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Wilayah III Ciamis Warid mengimbau masyarakat agar jauh-jauh dari kelelawar pemakan buah. Alangkah baiknya, masyarakat tidak memelihara kelelawar untuk kehati-hatian saja.

Baca juga : Wabah Corona, Kelelawar di Situ Panjalu Ciamis Diperiksa, Ini Hasilnya

“Apalagi kalau mengonsumsi kelelawar, dengan kondisi sekarang ini ditakutkan ada penyakit berbahaya.
Jadi saya himbau untuk kehati-hatian, agar penyakit yang dibawa kelelawar tidak berbahaya, ‘ papar Warid kepada Radar, Selasa (4/2) siang.

Kata Warid, memang di Ciamis ini populasi kelelawar banyak, seperti di Situ Lengkong Panjalu dan Astana Gede Kawali.
Di Ciamis, kata dia, ada dua jenis kelelawar. Yaitu kelelawar besar dan kelelawar kecil yang disebut lalay.

Biasanya lalay hidup di gua-gua. “Bedanya lagi kalau kelelawar besar biasanya dia besar dan kuat membawa makanannya oleh kakinya. Kalau yang kelelawar/ lalay biasanya tidak kuat membawanya dan dimakan di tempat saja,” ujarnya.

Soal banyaknya kelelawar di Ciamis, kata Warid, karena di Ciamis banyak buah-buahan. Namun saat buah-buahannya habis, kelelawar biasanya pindah berbulan-bulan.

Loading...

Untuk itu dia mengimbau kepada masyarakat tidak memakan kelelawar, karena ditakutkan ada penyakit yang dibawa oleh kelelawar yang migrasi dari daerah lain. “Intinya kami tekankan demi kehati-hatian saja, “ tuturnya.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Ciamis dr H Bayu Yudiawan MM menjelaskan bahwa untuk sejauh ini Dinkas Ciamis belum melakukan penelitian lebih jauh mengenai kelelawar yang di Ciamis. “Paling kalau penelitian Virus Corona itu ranahnya ada di Badan Litbangkes. Masalahnya harus ada sequential memakai Polymerase Chain Reaction (PCR).

“Jadi di Ciamis belum ada penelitian. Baru SOP (standar operasional prosedur, Red) rujukan ke Litbangkes saja, “ jelasnya.

Baca juga : Hindari Tabrakan, Bis Terjun ke Kolam Ikan di Ciamis

Ketua Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Cabang Jawa Barat IV drh Siti Maemunah MP, yang akrab dipanggil Aceu, mengimbau masyarakat yang suka memburu kelelawar untuk dikonsumsi atau dipelihara, agar tidak memakan atau memelihara hewan nokturnal itu. “Hal itu kami sampaikan untuk menjaga keamanan,” ujarnya.

Kelelawar di Panjalu, Ciamis menjadi salah satu sampel penelitian seorang profesor Fakultas Kedokteran Hewan IPB bersama Research Center for Zoonosis Control, Hokkaido University, Jepang.

Selain di Panjalu, para ahli pun meneliti kelelawar di Bukittinggi, Sopeng, Gorontalo, Manado dan Bogor. Pemilihan lokasi-lokasi itu karena habitat kelelawar yang populasinya cukup tinggi di Indonesia.

Ketua Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Cabang Jawa Barat IV, meliputi Garut, Kabupaten Tasikmalaya, Kota Tasikmalaya, Ciamis, Banjar dan Pangandaran drh Siti Maemunah MP atau akrab dipanggil Aceu menjelaskan, Senin (3/2) siang, dia telah berkomunikasi dengan Ahli Patologi Fakultas Kedokteran Hewan IPB Prof Drh Agus Setiyono.

Hasil penelitian Prof Agus beberapa hari ke belakang di Panjalu Ciamis dan hasil pengecekan dokumen publikasi bahwa kelelawar Panjalu tidak ada (negatif) virus Corona. (isr)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.