BMKG: Ada yang Tak Lazim pada Gempa Periode 1-20 Januari 2021

56
0
radartasikmalaya.com
Kantor Gubernur Sulbar tampak rusak berat akibat gempa berkekuatan 6,2M, Jumat (15/1) lalu. Dok BNPB.
Loading...

JAKARTA –  Koordinator bidang Mitigasi Gempa bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Daryono, mengungkapkan fakta gempa selama periode 1 hingga 20 Januari 2021.

Lembaganya tersebut sudah mencatat sebanyak 52 kali gempa dirasakan warga, yang tergolong sangat tinggi.

Setelah dianalisis sejak 1 Januari hingga 20 Januari 2021, hampir setiap hari dirasakan terjadi gempa.

“Kecuali pada tanggal 10 dan 17 Januari tidak terjadi gempa yang dirasakan masyarakat,” ucap Daryono dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (20/1).

Data tertinggi, kata dia, terjadi pada 14 Januari 2021. Dimana gempa yang guncangannya dirasakan oleh masyarakat, tercatat sebanyak delapan kali. Diantaranya terjadi di Majene, Sulawesi Barat atau Sulbar.

loading...

“Tentu saja hal ini tidak lazim, karena dalam 20 hari saja sudah terjadi aktivitas gempa dirasakan sebanyak lebih dari 50 kali,” ucap Daryono.

Bila dibandingkan dengan data aktivitas gempa pada 2020 tercatat sebanyak 54 kali.

Jumlah tersebut hampir setara dengan aktivitas gempa selama 20 hari pada Januari 2021.

BMKG belum diketahui penyebab fenomena peningkatan aktivitas gempa tersebut.

Namun, kejadian gempa bumi ini adalah proses pelepasan energi yang terjadi secara tiba-tiba pada sumber gempa setelah mengalami akumulasi medan tegangan yang sudah berlangsung sejak lama.

Daryono menyebutkan, gejala meningkatnya aktivitas gempa pada waktu-waktu tertentu masih sulit diterangkan.

Ada dugaan, perubahan pola tegangan global, regional, bahkan lokal tampaknya dapat menerangkan gejala ini.

“Tetapi terkonsentrasinya aktivitas gempa pada kawasan dan kurun waktu tertentu saat ini sudah dapat dilakukan dengan mudah. Namun demikian yang paling penting adalah bagaimana mengenali dan membedakan berbagai ragam kejadian bencana gempa yang terjadi,” paparnya.

Hal ini menurutnya penting dilakukan untuk kepentingan kajian bahaya dan risiko gempa untuk tujuan mitigasi agar dapat memperkecil dampak kerusakan fisik pada bangunan, dan infrastruktur serta menghindari jatuhnya korban baik manusia yang tak perlu terjadi.(jpnn)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.