BMKG: Tsunami Selat Sunda Dipicu Aktivitas Gunung Anak Krakatau

38

JAKARTA – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memastikan, tsunami yang menerjang kawasan pesisir Pantai Anyer, Pandeglang dan Lampung Selatan dipicu aktivitas vulkanik gunung Anak Krakatau, bukan gempa bumi.

“Kejadian malam hari, secara visual tidak nampak sekali, kalau mungkin siang bisa terlihat aktivitas gunung yang sedang erupsi, juga bisa memberikan warning,” kata Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG, Rahmat Triyono dalam jumpa pers di kantornya, Jakarta, Minggu siang (23/12).

Awalnya, BMKG sudah mendeteksi dan memberikan peringatan dini adanya gelombang tinggi mulai Sabtu (22/12) hingga Selasa (25/12) di Selat Sunda.

Bahkan malam harinya, BMKG berkoordinasi dengan Badan Geologi melaporkan bahwa pada pukul 21.03 WIB Gunung Krakatau erupsi kembali.

“Kebetulan tadi malam kita sudah koordinasi dengan badan geologi, beberapa waktu sebelumnya ada kerusakan sensor yang diakibatkan erupsi sebelumnya, jadi setelah erupsi gunung meletus, ada sensor yang rusak sehingga tidak tercatat,” lanjut Rahmat.

Namun dipastikan dari sensor Stasiun Sertung merekam aktivitas seismik dengan durasi kurang lebih 24 detik dengan frekuensi 8 – 16 Hz pada pukul 21.03 WIB,

“Sensor kami di Cigeulis ya itu juga tercatat pada 21.03, 24 detik menguatkan kesimpulan bahwa ini akibat aktivitas vulkanik,” terangnya.

Usikan yang tertangkap sinyal seismograf, menurut Rahmat, seperti halnya peristiwa jalan ambles di Gubeng, Surabaya pada empat hari yang lalu.

“Gubeng itu tercatat di seismograf yang ada di Pasuruan, sama persis dengan jam yang diinfokan masyarakat. Ini juga begitu, yang tejadi di Cigeulis, Pandeglang begitu, yang mungkin ada sensor seismograf, 21.03,” imbuhnya. [wid/rmol]

loading...
BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.