Bocoran Nasib Ujian Nasional

47
0

JAKARTA – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim memberi sedikit bocoran tentang nasib Ujian Nasional (UN) yang saat ini tengah dikaji dan dievaluasi.

Ia mengungkapkan akan segera memformat ulang sistem evaluasi berskala nasional yang selama ini diambil perannya oleh Ujian Nasional (UN)

“Nantinya format tolak ukur evaluasi sistem pendidikan skala nasional itu akan dikemas tanpa membebani murid dan guru. Tentunya, di dalamnya juga harus berisikan tes yang mengetahui kompetensi dasar murid. Jadi mohon sabar, tunggu kabarnya,” kata Nadiem, Jumat (29/11)

Kendati demikian, Nadiem berpandangan, bahwa evaluasi sistem pendidikan yang berskala nasional seperti layaknya UN harus tetap ada sebagai tolok ukur capaian program pendidikan.

“UN pada prinsipnya memang bertujuan untuk evaluasi skala nasional. Hanya saja, dalam implementasinya berjalan pada posisi yang kurang tepat. Inilah kesalahan yang menurut saya terjadi,” ujarnya.

Alhasil, kata Nadiem, murid yang akhirnya dirugikan karena menjadi tolak ukur prestasi dan ketika nilai yang didapatkan tidak mencapai standar murid akan merasa gagal.

“Karena kurikulumnya sangat padat dan materinya begitu besar, jadi menghilangkan esensi kurikulum 2013 yang sangat baik. Semuanya harus kejar tayang, jadinya itu menjadi secara otomatis menimbulkan proses penghafalan,” tuturnya.

Wakil Sekretaris Jendral (Wasekjen) Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Satriwan Salim mengatakan, jika pemerintah hendak membuat kebijakan baru soal kurikulum, harus ada evaluasi terlebih dulu atas pelaksanaan Kurikulum 2013.

“Saya pikir Kurikulum 2013 sudah merepresentasikan apa yang diinginkan oleh dunia pendidikan itu sendiri, yaitu siswa itu tidak hanya diorientasikan pada capaian akademik atau pengetahuan saja, tetapi juga ada sikap di dalamnya, termasuk ada keterampilan di dalamnya,” ujar Satriwan.

Menurut Satriwan, belum optimalnya pelaksanaan Kurikulum 2013, karena kurangnya bentuk sosialisasi yang dirasa masih sangat minim. Terlebih lagi, jika dilihat dari jumlah siswa dan guru yang sangat besar, belum lagi ditambah karakteristik sekolah-sekolah yang sebarannya itu berbeda-bea. “Jadi dibutuhkan kajian yang betul-betul komprehensif dan mendalam, baru dilihat di mana perbaikan (Kurikulum 2013), tetapi bukan dirombak secara total,” tandansnya. (der/fin)

Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.