BPK Temukan Potensi Kerugian Negara dari Proyek Revitalisasi Pasar Leles

102
0
Loading...

TAROGONG KIDUL – Proyek revitalisasi Pasar Leles senilai Rp 26 miliar pada tahun 2018 berpotensi merugikan negara hingga Rp 800 juta. Potensi kerugian negara tersebut diketahui setelah Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK RI) melakukan pemeriksaan di proyek tersebut.

“Dari laporan BPK ada kerugian negara Rp 670 juta lebih, ditambah denda-denda, jadi kurang lebih Rp 800 juta,” ujar Bupati Garut H Rudy Gunawan kepada wartawan di Lapang Setda Garut Senin (10/6).

Menurut dia, potensi kerugian negara itu harus segera dikembalikan oleh pelaksana proyek, dalam hal ini kontraktor yang memenangi tender revitalisasi Pasar Leles. Jika kerugian tidak cepat dikembalikan, kata dia, pelaksana proyek bisa dikenakan pidana. “Batas waktu pengembalian ini 60 hari sejak keluarnya hasil laporan dari BPK. Kalau tidak dilakukan kita pidanakan,” terangnya.

Rudy menerangkan pengerjaan revitalisasi Pasar Leles bukan hanya menimbulkan kerugian negara, Pemkab Garut juga dirugikan dengan belum selesainya pengerjaan pembangunan pasar yang direncanakan beres sebelum Lebaran. “Dari segi waktu jelas kita juga dirugikan. Masyarakat dan pedagang juga pasti rugi dengan belum selesainya pembangunan Pasar Leles ini,” katanya.

Bupati kecewa dengan pemenang tender proyek pembangunan Pasar Leles. “Saya bilang tidak punya modal, karena pengerjaannya semuanya di subkontraktorkan, tidak oleh sendiri,” terangnya.

Ke depan ketika proyek revitalisasi Pasar Leles kembali diteruskan, dirinya akan lebih selektif memilih kontraktor. “Makanya ke depan kita ada klausul kalau di subkonkan (subkontrak), kita tidak akan bayar,” tegasnya.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan H Wawan Nurdin menerangkan pemberhentian pembangunan revitalisasi Pasar Leles memang oleh Pemkab Garut. Hal itu karena pihaknya melihat pemenang proyek lelang memberikan pengerjaanya kepada pihak lain atau di sub kontraktorkan.

Loading...

Bukan hanya permasalahan itu, di tengah jalan pengerja proyek juga ternyata belum membayar tunggakan kepada penyedia barang, sehingga masalah muncul dan akhirnya proyek tersebut diberhentikan sementara. “Tahun ini kami akan kembali melelangkan proyek Pasar Leles dengan sisa anggaran yang ada, yaitu sebesar Rp 10 miliar,” terangnya.

Nasib Pasar Leles Sementara Belum Jelas

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Garut H Wawan Nurdin belum mengetahui sampai kapan nasib para pedagang Pasar Leles menempati tempat sementara. “Saya belum tahu sampai kapan. Nunggu beres dulu Pasar Leles-nya, baru bisa dipindahkan,” katanya.

Pihaknya juga belum mengetahui sampai kapan penyelesaian pembangunan pasar. Sampai saat ini pihaknya masih melakukan persiapan untuk melakukan lelang kembali. “Sekarang belum dibuka (lelang), itu kewenangannya ULP (Unit Layanan Pengadaan). Kami hanya mengajukan saja,” jelasnya.

Ditanya target penyelesaian pembangunan Pasar Leles, Wawan mengaku memang ada target yang ditetapkan. Namun, pada kenyataannya proses lelang seringkali mengganjal. “Kemarin saja (tahun 2018) tiga kali batal, tidak ada pemenangnya,” paparnya. (yna)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.