Budayawan Ridwan Saidi Diultimatum Warga Ciamis

191
0
IKUT AKSI. Wakil Bupati Ciamis Yana D Putra menandatangani protes kepada Ridwan Saidi Jumat di Alun-Alun Ciamis Jumat (14/2).
Loading...

CIAMIS – Publik Tatar Galuh turun ke jalan di Alun-Alun Ciamis Jumat (14/2). Mereka yang berasal dari berbagai elemen melakukan aksi damai dan membubuhkan tanda tangan.

Itu sebagai bentuk pembelaan terhadap nama Galuh dan mengecam pernyataan Ridwan Saidi.
Sebelumnya, di kanal Youtube, Ridwan Saidi atau yang kerap disapa Babeh itu memberikan pernyataan yang melukai masyarakat Tatar Galuh.

Baca juga : Puluhan Rumah di Ciamis Ambruk Disapu Puting Beliung

Massa aksi kemudian membubuhkan tanda tangan di kain panjang. Termasuk Bupati Ciamis H Herdiat Sunarya dan Wakil Bupati Ciamis Yana D Putra.

Budayawan Ciamis Aip Saepudin menjelaskan aksi tersebut, karena harga diri masyarakat Tatar Galuh merasa tersakiti oleh pernyataan Ridwan Saidi bahwa Galuh artinya brutal.

Mereka pun mendesak Ridwan Saidi untuk meminta maaf kepada masyarakat Tatar Galuh atas pernyataannya tersebut. Jika dalam waktu 2×24 jam, Ridwan Saidi tidak juga meminta maaf dan datang ke Ciamis, pihaknya akan membawa kasus tersebut ke ranah hukum. “Ini masalah serius menyangkut harga diri dan lemah cai Tatar Galuh,” ujarnya kemarin.

Bupati Ciamis H Herdiat Sunarya dan Wakil Bupati Yana D Putra turun mengikuti aksi damai tersebut. Mereka ikut menandatangani protes atas pernyataan Ridwan Saidi bahwa Galuh berarti brutal.

Baca juga : Babe: Nama Ciamis Lebih Lama Ketimbang Galuh
Loading...

Herdiat mempertanyakan Ridwan Saidi yang menyebut Galuh berarti brutal dan tidak ada kerajaan Galuh di Ciamis.

“Dasarnya itu apa? Kita tidak ada ujug-ujug Galuh. Ada penelitian kajian para ahli. Para profesor yang menelitinya juga serta barang-barang bukti Kerajaan Galuh itu ada secara otentik.

Bahkan apa yang dikatakan Ridwan Saidi (Galuh, Red) brutal tentunya kita tidak merasa brutal. Justru saya bangga pin Galuh tiap hari dipakai ke mana-mana, karena kita bangga sebagai masyarakat Tatar Galuh Kabupaten Ciamis,” tutur orang nomor satu di Pemkab Ciamis ini.

Baca juga : Sebut Arti Galuh Brutal, Babe Ridwan Saidi Dikecam Warga Ciamis

Dia mengimbau masyarakat menyikapi pernyataan Ridwan Saidi dengan tidak brutal dan arogan. Tapi tuntut secara hukum. Pakai jalur hukum. “Kita proses secara hukum, laporan ke polisi,” terangnya.

Herdiat menunggu pembahasan soal permasalahan pernyataan Ridwan Saidi tersebut. Kasus tersebut akan dibahas secepatnya dengan para budayawan.

Dia heran dengan Ridwan Saidi yang menyatakan bahwa Galuh berarti brutal, karena dalam sansekerta, Galuh berarti permata.
Diwawancarai terpisah, Ridwan Saidi mengatakan bahwa apa yang dikatakannya soal Galuh berarti brutal karena bersumber dari kamus bahasa Armenia-Inggris.

“Galuh disebut brutal malahan lebih halus, karena arti sesungguhnya agak kasar, tapi tidak disebutkan,” paparnya via telepon.Ridwan menyampaikan dia sudah diundang melalui WA ke Ciamis oleh Pemkab Ciamis untuk membahas permasalahan yang kini sedang ramai tersebut.

“Kalau diundang ya saya datang. Kalau enggak diundang kan jauh dari Jakarta. Kan ke Ciamis tidak enteng. Harus ada ongkosan,” ujarnya.

Masyarakat Tatar Galuh Ciamis, sebelumnya, bereaksi keras menyikapi pernyataan budayawan Betawi Ridwan Saidi yang menyebutkan tidak ada kerajaan di Ciamis, prasastinya palsu karena dibuat Belanda dan arti Galuh adalah brutal.

Budaywan Ciamis Aip Saepudin mengatakan pernyataan Riwan Saidi dalam chanel YouTube Macan Idealis sangat menyakiti warga Galuh. “Saya jelas kaget sekali, padahal bukti sejarah Galuh itu dengan data-data yang valid, baik prasasti, cerita parahyangan, naskah-naskah hingga cerita legenda masyarakat sudah jelas,” ujarnya kepada wartawan, Kamis (13/2).

Bahkan, kata dia, pada 1667 ada Gotrasawala yang diadakan di Cirebon, saat itu ada utusan dari Galuh, yakni Singaperbangsa IV.

Gotrasawala itu membahas tentang eksistensi kerajaan di nusantara, semua hadir untuk musyawarah. Bahkan bukti yang lainnya adanya situs Karangkamulyan yang merupakan bekas Kerajaan Galuh.

Situs seluas 25 hektare sekarang masuk wilayah Kecamatan Cijeungjing, termasuk Situs Astana Gede Kawali tempat prasasti. “Tentunya semua bukti itu sudah diakui oleh para peneliti, Jadi pernyataan Ridwan Saidi tidak benar, kami akan segera diskusi menyikapi hal tersebut,” kata dia. (isr)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.