Budi Pastikan Hari Kota Tasikmalaya Jadi Tak Eksklusif

138
0

BUNGURSARI – Wali Kota Tasikmalaya Drs H Budi Budiman mengklaim peringatan Hari Jadi Kota Tasikmalaya tidak bersifat eksklusif untuk para pejabat saja tetapi selalu melibat unsur masyarakat seperti seniman-seniman.

“Karena tidak mungkin OPD (organisasi perangkat daerah, Red.) menampilkan sesuatu tanpa melibatkan orang lain seperti seniman,” katanya usai peletakan batu pertama Rumah Dinas (Rumdin) Wali Kota, Jumat (27/9).

Budi akan memperbarui perayaan hari jadi agar lebih meriah dari tahun-tahun sebelumnya dan bisa mengakomodir seluruh elemen masyarakat. Namun hal yang lebih penting daripada kemeriahan itu adalah rasa syukur di mana Kota Tasik sudah menginjak usia ke-18.

“Kegiatan ini sebenarnya milik masyarakat, karena kegiatannya dilaksanakan sampai tingkat kelurahan selalu seperti jalan santai dan lainnya, tidak hanya tingkat kota saja,” tutur dia.

Budi menjelaskan, pada peringatan hari jadi ke-18 ini, pemkot akan meng­adakan Salat Subuh berjamaah dan ber­doa bersama untuk kemajuan Kota Resik.

“Itu akan melibatkan selu­ruh elemen. Untuk konsepnya sen­­diri ada di Dinas Pariwisata, Dinas Perda­gangan dan Bagian Ekonomi,” ujar dia.

Sementara itu, kegiatan-kegiatan hari jadi akan dipusatkan di Kompleks Olahraga Dadaha. Kegiatan itu tidak lagi dilaksanakan di Jalan HZ Mustofa seperti tahun lalu karena kerap kali mengganggu lalu lintas masyarakat.

Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) Nahdlatul Ulama (NU) Kota Tasikmalaya Faoz Noor menilai, semangat hari jadi Kota Tasikmalaya seolah hanya dimiliki oleh pemerintah dan beberapa kalangan masyarakat saja.

Tidak aneh jika masih ada masyarakat yang tidak tahu usia dan tanggal hari jadi Kota Tasikmalaya. “Ini juga efek pemerintah yang belum bisa memberikan hal istimewa bagi masyarakat,” tutur dia.

Menurut dia, konsep peringatan hari jadi mesti ada perubahan bukan hanya sekadar karnaval dan pameran saja. Karena event tersebut diadakan di satu titik dengan ruang yang terbatas. “Jadinya tidak semua masyarakat bisa menikmatinya,” ujar dia.

Masyarakat di setiap kelurahan, kata dia, harus diberdayakan dalam peringatan hari jadi itu sehingga bisa dirasakan secara luas. “Penganggaran tetap ada, bisa untuk stimulan kegiatan-kegiatan masyarakat,” katanya.

Selain itu, kata Faoz, pada Oktober terdapat dua momentum yang tergolong penting. Selain hari jadi Kota Tasikmalaya pada 17 Oktober, ada momen peringatan Hari Santri pada 22 Oktober. “Kenapa tidak disatukan saja perayaannya? Hari Santri dengan Hari Jadi Kota Santri,” tuturnya.

Menurutnya, pengkolaborasian ini bisa membuat hari jadi Kota Tasikmalaya dan Hari Santri lebih meriah. Perlu ditekankan juga bahwa hari santri adalah momentum kebangkitan semangat santri di masyarakat. “Bukan hanya untuk warga NU atau pun santri, karena semua harus memiliki semangat santri,” terangnya.

Ketua Mantan Narapidana Tasik (Manasik) Asep Ugar menilai momentum hari jadi sangat monoton. Sudah pasti ada karnaval dan festival. “Tahun kemarin begitu, tahun ini juga begitu lagi,” katanya.

Perlu ada perubahan konsep yang bervariasi, supaya bisa mengakomodir semua kalangan. Pihaknya yang punya misi mengedukasi generasi muda untuk terhindar dari narkoba pun ingin bisa berperan dalam momen tersebut. “Kami juga butuh ruang di momen yang istimewa ini,” katanya. (ujg/rga)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.