Penanaman Pohon Plastik di Median Jalan HZ Mustofa

Budi: Pohon Plastik Jika Untuk Keindahan Tidak Apa-Apa

113

CIHIDEUNG – Wali Kota Tasikmalaya Drs H Budi Budiman menyatakan penanaman pohon plastik di median Jalan HZ Mustofa bertujuan untuk menambah keindahan kota.

“Banyak cara untuk membuat terciptanya keindahan di Kota Tasikmalaya. Untuk keindahan tidak apa-apa lah, variasi, kita coba pakai itu (pohon plastik, Red). Apabila memang speknya sesuai seperti itu, ya dicoba saja,” ujarnya saat ditemui di Hotel City, Minggu (18/11).

Budi yakin dalam pemilihan hiasan tersebut konsultan perencana bersama dinas teknis sudah membuat pertimbangan matang. Terutama sisi penghijauan dan estetika.

“Memang kita akui itu (pohon plastik, Red) ada kelebihan maupun kelemahan. Konsultan tentu mempertimbangkan sisi estetika, seninya ada. Lampu malam hari mungkin lebih tahan, maintenance tidak ada, banyak faktor lain tentunya,” jelas Budi.

Di sisi lain, Budi mengajak seluruh masyarakat tidak larut berpolemik memperdebatkan pohon kelapa hias itu. Lebih baik memberikan kontribusi positif bagi pembangunan daerah. “Masih banyak masalah yang lain yang harus dipikirkan. Jangan membuang energi hanya mempermasalahkan pohon sintetis,” katanya.

Sementara itu, DPD Lembaga Penyelamat Lingkungan Hidup Indonesia (LPLHI) Kota Tasikmalaya Asep S Devo meminta, ke depan, pemkot saat akan melaksanakan suatu pembangunan, terlebih dahulu mengajak berbagai pihak yang concern terkait lingkungan supaya ketika pekerjaan selesai tidak menuai persoalan.

“Hasil audiensi kami dengan Dinas Perumahan Rakyat dan Penataan Permukiman (Perwaskim), bisa menerima saran kami. Supaya pembangunan atau penataan ruang terbuka hijau (RTH) lebih serius dalam memperhatikan aspek penghijauan,” beber Asep.

Adapun ketidakkompakan antara Dinas Perwaskim dengan konsultan perencana proyek, kata Asep, seharusnya bisa diselesaikan di tataran internal dan tidak mencuat ke permukaan.

“Ya bayangkan saja, kehadiran pohon plastiknya saja sudah mencuri perhatian. Sekarang ditambah adanya pernyataan berbeda antara dinas dengan perencana berkaitan pohon trembesi,” keluhnya.

Asep menyayangkan hal tersebut lantaran opini masyarakat mulai meluas dari perdebatan aspek penghijauan, mengarah terhadap detail perencanaan. Disarankan kedua belah pihak duduk bersama dan memberikan keterangan satu suara sehingga publik tidak bertanya-tanya.

“Jangan seolah pengelolaan kegiatan pemerintah tidak profesional. Masyarakat jangan disuguhi polemik di tataran pelaksanaan suatu proyek. Pohon plastiknya saja sudah masalah, sekarang merambah ke perencanaan,” tandasnya. (igi)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.