Bulan Ramadan, Bulan Kepedulian

31
0
Oleh Asep M Tamam

Setengah perjalanan Ramadan terlewati. Kesan kita dalam menjalani setengah Ramadan ini pasti berbeda. Dinamika meramadankan diri seperti halnya menjalani kehidupan yang tak selalu harus mulus sesuai harapan. Tapi ada energi tertentu yang terus dijaga agar tetap hangat. Tensi kesadaran tak boleh mendingin. Tungku keimanan tetap dinyalakan.

Dimensi transendental dan dimensi sosial yang berjodoh di bulan ini tak boleh terganggu. Menghambakan jiwa raga pada Sang Pencipta ditandai meningkatnya bibir dan hati kita menyebut dan mengingat-Nya. Ada kemudahan melakukan kebaikan, juga ada rem yang sering kali mampu menghentikan tekad melakukan kesalahan dan dosa.

Tak hanya itu, Ramadan telah banyak memengaruhi umat Islam secara positif. Selain menyehatkan, saum juga meningkatkan daya tahan tubuh. Selain memperbaiki pola hidup, saum juga meningkatkan perhatian kita pada waktu, pada setiap kesempatan yang datang, juga pada hal-hal kecil yang biasanya luput dari perhatian. Setengah misi Ramadan hadir bersama umat Islam telah dijalankan.

MENINGKATNYA KEPEDULIAN

Pengaruh Ramadan dengan kewajiban saumnya meningkatkan banyak hal positif lainnya di kalangan umat Islam. Anak-anak, muda-mudi, juga orang tua merasakan perubahan secara internal juga eksternal. Jiwa sosial pun meningkat. Umat Islam terbangunkan dari egoismenya. Altruisme meningkat. Simpati dan empati terbaca dalam posting-an para netizen di media sosial, juga dalam kehidupan di sekitar kita. Kepedulian menjadi buah dari membaiknya hati yang dibina dan dididik oleh serangkaian paket plus Ramadan. Salat wajib dan sunat, lantunan baca Alquran, berbagai hidangan ilmu pengetahuan di media massa; elektronik, cetak, maupun online.

Terutama setelah lewat fase sepuluh hari pertamanya, suasana Ramadan mulai diramaikan oleh acara yang bertema karitas (kedermawanan). Buka bersama dilakukan di mana-mana. Anak-anak yatim dan orang-orang miskin diundang. Selain disuguhi makan, mereka pulang dibekali uang.

Perhatian kepada mereka yang mendapat kesulitan berlipat di bulan ini. Bukan hanya santunan dan buka bersama, sebagian agnia menyuruh putra-putri mereka membawa anak-anak yatim dari panti asuhan ke mal-mal. Mereka dibuat bergembira. Anak-anak itu memilih sendiri pakaian, celana, juga sepatu yang pas dipakai. Mereka pulang, selain menenteng keperluan lebaran, juga dengan dibekali uang untuk bekal lebaran dan setelah lebaran.

Tak hanya itu, komunitas-komunitas sosial pun terbangun untuk sama peduli. Komunitas mobil, motor, pencinta berbagai hobi, juga mengadakan acara serupa. Tak hanya anak-anak, acara-acara pun digelar untuk menyantuni para fakir miskin, orang jompo dan kaum difabel. Setidaknya, kaum mustadh’afin di bulan ini mendapat perhatian lebih banyak, dari berbagai kalangan. Ramadan benar-benar memihak mereka. Kebahagiaan mendapatkan perlakuan yang baik sama dengan kebahagiaan orang-orang kaya ketika diberi kemampuan peduli sesama.

SEMUA PEDULI

Selain pihak-pihak di atas, Ramadan juga memberi kerja lebih bagi Baznas (Badan Amil Zakat Nasional). Setiap tahun di bulan Ramadan, Baznas biasanya telah siap dengan berbagai acara, mandiri maupun bekerja sama. Selain penyaluran zakat, infak, dan sedekah, Baznas juga menyalurkan zakat dari para agnia yang mempercayakan penyaluran zakat tahunan mereka ke Baznas. Kerja sama yang semestinya dilakukan oleh orang-orang kaya, terutama pengusaha besar yang dibesarkan dan dibantu oleh masyarakat sekitar, masyarakat pengguna jasa dan usaha mereka.

Filantropi di bulan Ramadan memang lebih dari hari-hari biasa. Perilaku kedermawanan berlangsung secara bersamaan di bulan ini. Karitas masyarakat terbangun. Jiwa sosial, peduli sesama, juga bakat mengayomi terhadap mereka yang mendapat peran berat kehidupan tersalurkan atas berkah Ramadan.

Ada banyak inspirasi menyembul ke permukaan. Bulan berkah yang memberkahi semua kalangan ini, juga menyuguhkan aneka kedermawanan yang dilakukan oleh mereka yang tergolong miskin. Keinginan untuk berbuat baik adalah milik semua. Kedermawanan orang-orang miskin bukan hanya tercatat pada keseharian para sahabat Nabi Muhammad dahulu, tapi lembaran-lembaran itu memanjang hingga di kehidupan kita saat ini. Tentu nilai yang dikeluarkan tak banyak, tapi jiwa yang bersih telah mampu menekan egoisme dan menumbuhkan rasa senasib sepenanggungan umat ini.

Mereka, siapa pun mereka yang diselamatkan jiwanya dari sifat rakus dan serakah, apakah mereka orang-orang kaya atau pun miskin, maka mereka, siapa pun mereka, yang dianugerahi jiwa sosial, senang berderma, terselamatkan dari sikap rakus dan serakah, adalah orang-orang yang sungguh beruntung. Cobalah baca penggalan terakhir dari ayat kesembilan dari surat Al-Hasyr (59). (*)

* Pengamat sosial, politik dan pemerintahan Tasikmalaya

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.