Umtas Gelar Seminar Bimbingan Konseling

Bullying Bukan Kenakalan Biasa

212

TASIK – Program Studi Bimbingan Konseling (BK) Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya (Umtas) menyelenggarakan seminar bimbingan dan konseling di Graha Umtas Sabtu (15/9). Seminar yang diikuti mahasiswa dan guru se Priangan Timur ini bertema Penanganan Masalah Kekerasan di Lingkungan Sekolah dan Keluarga dalam Perspektif Bimbingan dan Konseling.

Pemateri Seminar Dr Ipah Saripah MPd menuturkan, perilaku bullying menjadi fenomena luar biasa di lingkungan sekolah. Sekolah menjadi lingkungan yang menumbuh suburkan perilaku bullying. Berdasarkan penelitian, perilaku bullying ini terjadi mulai dari Taman Kanan-kanak puncaknya di sekolah menengah.

“Sayangnya, mayoritas guru melihat bullying sebatas kenakalan remaja yang akan berubah seiring berjalannya waktu. Padahal bullying bukan kenakalan biasa, tapi bisa berdampak jangka panjang,” tutur dosen UPI Bandung sekaligus Peneliti Bullying ini.

Tambahnya, ada tiga jenis bullying yakni fisik, verbal dan relasional. Seiring waktu, jenis bullying ini bertambah dengan adanya elektronic bullying. Contoh elektronic bullying, terangnya, seperti mengomentari postingan temannya dengan nada merendahkan atau melecehkan, membuat meme teman yang disebar di sosial media, atau mengirim pesan yang melecehkan.

“Yang mudah terlihat memang bullying fisik, mulai dari memukul, menjewer, mencubit, menendang. Kalau verbal mengejak, mengolok termasuk memanggil dengan nama yang kurang sopan. Adapun bullying relasional banyak dilakukan oleh perempuan seperti merusak persahabatan, menjauhkan dari kelompok tertentu, membuat geng dan lainnya,” jelasnya.

Lanjutnya, berbeda dengan jenis bullying yang lain, elektronic bullying ini cenderung sulit untuk dilacak, karena nama akun bisa anonim. Ada beberapa kasus elektronic bullying korbannya memutuskan untuk bunuh diri.

“Salah satu kasusnya di Garut Jawa barat, ada anak bunuh diri karena di- bully temannya di sosmed hanya harena tidak mampu membayar prakarya,” ujarnya

Kasus bullying, lanjutnya, seperti fenomena gunung es, yang terlihat sedikit tapi sebetulnya peristiwanya banyak karena yang menjadi korban enggan untuk melapor.

Bullying ini, tutur Ipah, sudah menjadi masalah kompleks sehingga harus dimulai dengan ketahanan keluarga. Pola asuh orang tua jangan otoriter dan tidak menggunakan kekerasan. Sebab dari hasil penelitian, anak-anak yang menjadi pelaku bullying adalah anak yang memiliki orang tua otoriter dan dididik dengan kekerasan.

Untuk itu, sambungnya, peran guru BK sangat penting dalam mengelola upaya preventif tindakan bullying. Yang tak kalah penting yakni komitmen dari semua elemen untuk say no to bullying. “Mari bersama-sama menciptakan sekolah ramah anak dan mengedepankan prinsip kasih sayang dan perdamaian,” ajaknya.

Ketua Prodi BK Umtas Aam Imaddudin MPd mengatakan, seminar ini digelar untuk menyikapi tren masalah yang berkembang dalam bidang pendidikan. “Di forum ini kita kita bisa menemukan solusi dan masukan yang membangun,” ujar Aam.

Ketua KPAD Kota Tasikmalaya Eki Sirojul Baehaqi MH mengatakan, kasus kekerasan fisik pada anak di Kota Tasikmalaya tahun 2018 naik 32 persen dibanding tahun sebelumnya. Kekerasan tersebut terjadi pada siswa SD, SMP dan SMA, bahkan ada yang sampai ke pengadilan.

“Fenomena ini menjadi tantangan besar. Kita harus bisa merubah pola asuh yang mengandung unsur kekerasan, menjadi pola asuh yang mengedepankan komunikasi dan pendidikan karakter,” tutur Eki. (ais)

loading...
BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.