Burung Murai Mati, Warga Mangkubumi Kota Tasik Digugat Tetangga Rp60 Juta

1107
0
DIGUGAT. Yamin (kanan) didampingi kuasa hukumnya Eki S Baehaqi menunjukkan berkas gugatan dari tetangganya melalui Pengadilan Negeri Tasikmalaya, Rabu (3/2/2021). Dia dituntut membayar ganti rugi Rp 60 juta akibat kematian seekor burung murai batu. RANGGA JATNIKA/RADAR TASIKMALAYA
Loading...

TASIK – Warga Pondok Nangela Indah Kelurahan Cigantang, Mangkubumi, Kota Tasikmalaya, Yamin (45) digugat oleh tetangganya sendiri.

Dia diminta membayar ganti rugi Rp 60 juta, karena burung hias tetangganya meninggal.

Dari informasi yang dihimpun Radar, Yamin menerima surat panggilan sidang gugatan perdata dari Pengadilan Negeri Tasikmalaya pekan lalu. Penggugat adalah tetangganya sendiri, Septhiana Virginandi (30).

Dalam surat panggilan itu, disebutkan bahwa gugatan tersebut dilayangkan akibat burung murai batu yang dijemur di pekarangan rumah Nandi mati pada 2 Oktober 2019.

Hal itu disebutkan akibat asap pembakaran sampah yang dilakukan Yamin di sekitar rumahnya pada 21 Juli 2019.

loading...

Burung tersebut sudah dibeli oleh warga Sumedang bernama Yadi Eka seharga Rp 60 juta. nilainya terbilang tinggi karena murai tersebut pemenang berbagai kontes tingkat nasional.

Matinya burung tersebut membuat Nandi harus melakukan ganti rugi kepada Yadi Eka.

Ganti rugi itu pun dibebankan kepada Yamin yang dianggap menjadi penyebab murai seharga puluhan juta itu mati.

Terkait persoalan ini, Nandi sebagai penggugat enggan untuk diwawancara.

Pasalnya, dia sedang dalam kondisi kurang sehat. “Nanti saja di pengadilan,” singkatnya saat didatangi ke rumahnya Rabu, (3/2/2021).

Sementara itu, Yamin mengaku bingung menyikapi gugatan kepadanya. Karena dia membakar sampah cukup jauh sekitar 14 meter dari pekarangan tetangganya itu. “Jadi saya merasa tidak ada salah,” tuturnya.

BERITA TERKAIT:
Begini Akhir Kasus Burung Mati Minta Ganti Rp60 Juta di Mangkubumi Tasik

Diakui Yamin, bahwa hubungan dia dan tetangganya memang tidak begitu akrab. Sehingga persoalan ini tidak pernah dimusyawarahkan secara tatap muka. “Bingung juga kenapa jadi begini,” ujarnya.

Kuasa Hukum Yamin, Eki S Baehaqi mengatakan gugatan tersebut memang merupakan hak setiap warga negara.

Tidak ada yang bisa mencegah seseorang menempuh jalur hukum. “Itu hak penggugat, ya sah-sah saja,” ujarnya.

Namun demikian, segala bentuk gugatan tentunya harus disertai pembuktian.

Dia pun akan berupaya menyanggah segala tuduhan dari penggugat. “Dan pembuktian itu bukan hal mudah,” terangnya.

Pengurus RT setempat, David Yahya mengaku miris dengan persoalan tersebut. Karena ini menunjukkan tidak adanya keakraban bertetangga.

“Harusnya kan bisa rukun,” ungkapnya.

Pihaknya sudah berupaya menengahi permasalahan Yamin dan Nandi. Namun sejauh ini gagal karena Nandi ngotot ingin Yamin membayar ganti rugi.

“Upaya mediasi tidak berhasil,” terangnya.

Akan tetapi, pihaknya cukup gembira karena kemarin kedatangan seseorang yang mengaku orang suruhan Eka Yadi pemilik burung.

Dia meluruskan bahwa matinya burung Rp 60 juta itu sudah diikhlaskan dan tidak ada yang perlu melakukan ganti rugi.

“Kami harap ini jadi langkah awal untuk menyelesaikan permasalahan ini,” pungkasnya. (rga)

Baca juga : Ada Investor Sodorkan 4,2 T untuk Bangun Superblok di Kota Tasik

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.