Butuh Amerika Ungkap Black Box

160

Siapa Presiden Pilihan Mu ?

JAKARTA – Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengaku hati-hati terkait pemeriksaan black box yang berisi data recorder pesawat Lion Air JT-610 yang jatuh di perairan Karawang, Jawa Barat.

Pasalnya, menurut Wakil Ketua KNKT Haryo Satmiko, keadaan black box saat ditemukan tidak dalam kondisi sempurna.  Proses mengungkap isi black box bisa membutuhkan waktu tiga bulan.

“Bahwa apa yang kami dapat, black box ini kan bukan dalam keadaan normal. Jadi penanganannya harus agak teliti karena takut datanya rusak,” kata Haryo Satmiko, Jumat (2/11).

Data-data yang ada dalam black box tersebut, kata Haryo, telah diunduh oleh pihaknya. Lantaran kerusakan yang dialami black box, Haryo mengatakan pengerjaan pun menjadi sedikit terkendala. Haryo juga menuturkan, jika tidak dalam kondisi rusak sebenarnya pihaknya sudah bisa langsung mengunduh data dalam black box.

“Untuk itu, prinsipnya kalau masih normal malam itu (1/11) juga masih bisa kami dapatkan (data), tapi karena itu adalah potongan dan lain-lain. Maka kami harus memotong beberapa kabel,  agar tidak rusak datanya. Jadi, memang pekerjaannya agak lambat karena kehati-hatian kami jangan sampai FDR ini menjadi barang yang kurang optimal,” ujarnya.

Untuk itu Haryo mengaku pihaknya butuh waktu dalam proses tersebut. “Setelah mengunduh banyak prosesnya dari raw data, sampai kepada membuat kalimat transkrip-nya ini masih butuh data lain. Analisa seperti tahun yang lalu dengan kejadian Air Asia, analisa kami karena itu ada seribu parameter yang kami pilih 50-100 orang. Jadi, membutuhkan waktu lama,” tuturnya.

Lebih lanjut Haryo mengatakan diprediksi bisa saja dibutuhkan lebih dari satu bulan untuk membaca isi seluruh data penerbangan dalam FDR. Maka dari itu, diharapkan bantuan dari KNKT Amerika bisa membuat waktu lebih singkat. “Kurang lebih pengalaman kami sekitar 3 bulan. Nah, mudah-mudahan dengan kami dibantu pemerintah Amerika itu lebih cepat,” imbuhnya.

Haryo menjelaskan tahapan supaya bisa memperoleh data dari FDR. Pertama-tama harus dicuci terlebih dahulu black box untuk kemudian dikeringkan. “Nanti ini dibuka dan kita akan dapatkan isi dari FDR itu seperti jam tangan kita, ada dua bulatan di sana. habis dibersihkan, biasanya nanti akan dipotong dulu, ada dua kabel yang kami potong diganti dengan kabel yang baru terus dirakit kembali. Kemudian ditempatkan dengan tempat cangkang, yang kita kan patah,” terangnya.

Setelah itu, jelas Haryo, barulah data diunduh menggunakan alat. Mengunduh pun harus penuh kehati-hatian. “Jadi, kehati-hatian ini kita terus bekerja di dalam kita juga menggunakan rekaman video biar suatu saat dibutuhkan, kami bekerja ada bukti,” ucapnya.Haryo juga menyampaikan normalnya memang untuk mengetahui penyebab kecelakaan suatu pesawat pihaknya harus memeriksa juga CVR atau Cockpit Voice Recorder pesawat yang ada di black box satu lagi. “Karena ini satu hilang (CVR), kami sudah komitmen bagaimana pencarian ini. Pokoknya mohon doa,” harapnya.

Meski begitu, KNKT tetap berharap CVR masih bisa ditemukan. Meski berdasar peraturan internasional dan nasional mereka beri waktu satu tahun guna mengungkap penyebab jatuhnya pesawat, tapi pihaknya akan berusaha secepat mungkin. “Ini butuh proses, kami diberikan ruang satu tahun sebetulnya. Tapi, kami komitmen kalau bisa lebih cepat lebih baik. Prinsipnya gitu,” pungkasnya. (af/fin)

CALEG KITA

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.