Siapa Calon bupati Tasikmalaya pilihan anda?
17%

83%

Cabai & Bawang Dorong Deflasi

35
0
PANEN RAYA. Kepala KPwBI Tasikmalaya Heru Saptaji (kanan) saat panen bawang merah di Kecamatan Sodonghilir Tasikmalaya beberapa waktu lalu. Melimpahnya pasokan komoditas, mendorong angka deflasi Kota Tasikmalaya. Ujang Nandar / Radar Tasikmalaya

TASIK – Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Tasikmalaya Heru Saptaji menyatakan, di bulan September 2019 Indeks Harga Konsumen (IHK) Tasikmalaya tercatat mengalami deflasi 0,38 persen secara month to month (mtm).

Angka ini membaik dibandingkan bulan sebelumnya yang mengalami inflasi 0,04 persen secara mtm. Dengan perkembangan tersebut, inflasi tahun berjalan Kota Tasikmalaya September 2019 adalah 1,39 persen year-to-date (ytd).

Adapun secara tahunan, Kota Tasikmalaya mengalami inflasi 1,96% (yoy), terendah ke-2 di Jawa-Bali. “Sepanjang tahun 2019 ini, Kota Tasikmalaya mencapai inflasi terendah di Pulau Jawa,” kata Heru saat konferensi pers di Aula KPwBI Tasikmalaya Jalan Sutisna Senjaya Kota Tasikmalaya Jumat (11/10).

Heru mengungkapkan, deflasi di Kota Tasikmalaya terutama didukung adanya penurunan harga kelompok bahan makanan sebesar -2,42 persen (mtm) yang memberikan andil -0,44 persen terhadap inflasi IHK di Kota Tasikmalaya. “Ini merupakan terendah dalam 3 tahun terakhir,” katanya.

Lanjutnya, komoditas utama pendorong deflasi di Kota Tasikmalaya adalah normalisasi harga cabai rawit dan cabai merah yang memasuki masa panen. “Sehingga pasokan kembali tercukupi setelah 3 bulan sebelumnya mengalami keterbatasan supply,” tutur Heru.

Selain itu, harga bawang merah masih menurun sehubungan dengan panen yang masih berlangsung sejak bulan Agustus di daerah sentra produksi, sehingga pasokan melimpah.

Selanjutnya, kata ia, sejalan dengan kondisi nasional, harga daging dan telur ayam juga mengalami penurunan sehubungan dengan tercukupinya pasokan di saat permintaan cenderung menurun.

Di sisi lain, tekanan utama inflasi di Kota Tasikmalaya berasal dari kenaikan biaya kursus komputer sebesar 20,98 persen (mtm) dengan andil 0,018 persen dan bimbingan belajar yang meningkat 4,75 persen (mtm) dengan andil 0,016 persen.

“Perkembangan harga pada dua komoditas ini secara historis mengalami kenaikan 1 kali per tahun pada bulan Agustus atau September, hal ini berkenaan dengan masuknya periode tahun ajaran baru,” jelasnya.

Inflasi juga didorong dengan adanya kenaikan harga emas perhiasan yang turut didorong oleh tren kenaikan harga emas dunia.

“Pada Oktober 2019 Kota Tasikmalaya diperkirakan kembali mengalami deflasi yang masih didukung dengan normalnya harga cabai merah, cabai rawit, cabai hijau, daging ayam dan bawang merah,” kata dia.

Namun di sisi lain, tekanan inflasi juga diperkirakan berasal dari bahan bangunan seperti batu dan pasir sehubungan dengan perkiraan peningkatan pembangunan investasi pada triwulan III karena mengejar penyelesaian pembangunan tahun 2019.

“Potensi tekanan inflasi dari risiko kenaikan harga emas perhiasan juga masih dapat terjadi,” katanya. (ujg/rls)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.