Cantiknya Kamu, Nak, Cantik Sekali Kamu

147
Dziki Oktomauliyadi / Banten Pos IKHLAS. Ibunda Dianti Dyah Ayu Cahyani (Putri), Sudiana Susilaning menggenakan kerudung warna cokelat menangis saat melangsungkan prosesi pemakaman putrinya di Cipocok Jaya, Kota Serang pada Selasa (6/2).

Siapa Presiden Pilihan Mu ?

Ayah Ina turut menunggui proses evakuasi yang berlangsung belasan jam. Sedangkan Putri dikenang sebagai sosok yang taat beribadah dan berprestasi bagus di kantor.

FERLYNDA PUTRI-TAUFIQURRAHMAN, Serang

ISAK tangis Subiani Susilani terus terdengar di antara kerumunan pelayat. Saat jenazah sang anak, Dianti Dyah Ayu Putri, hendak diberangkatkan ke pemakaman, dia menghambur ke arah potret sang buah hati. ”Cantiknya kamu, Nak, cantik sekali kamu,” isaknya dengan parau.
Putri adalah korban meninggal longsor underpass Bandara Soekarno-Hatta. Dialah yang kali pertama dievakuasi setelah tertimbun di dalam mobil Brio yang disopirinya selama sekitar 10 jam.
Rekan sekantor yang satu mobil dengan dia, Mukhmainnah Syamsudin atau Ina, masih dirawat intensif di Siloam Hospital Lippo Karawaci. Dua karyawan PT Garuda Maintenance Facility (GMF) Aero Asia itu dalam perjalanan untuk berbuka bersama sepulang kerja pada Senin sore (5/2).
Jenazah Putri tiba kemarin pagi, pukul 09.45, di kediaman orang tuanya di Highland Rise Kota Serang Baru, Serang, Banten. Salat jenazah dilaksanakan mulai pukul 13.00.
Pemakaman berlangsung dengan khidmat di bawah rintik hujan. Yang mengantarkan Putri adalah sang ayah, Gatot Tjahjono Susanto, kerabat, dan warga sekitar. Tampak Direktur Keuangan PT GMF Insan Nur Cahyono, Gubernur Banten Wahidin Halim, serta Wali Kota Serang Tubagus Chaerul Jaman dan istri, Vera Nurlaela, turut melayat.
Di mata keluarga dan rekan, Putri dikenal sangat taat dalam ibadah. Salatnya selalu tepat waktu. Perempuan 24 tahun tersebut juga sering puasa sunah.
Kinerjanya di kantor pun sangat bagus. ”Masuk Juli 2017, langsung diangkat 1 Februari lalu, nggak sampai setahun,” tutur Hadi, rekan satu divisi Putri.
Ayah Putri tak banyak bicara. Tapi, dia memastikan tidak akan menuntut siapa-siapa atas kejadian tersebut. Sedangkan sang ibu meminta beberapa rekan kantor Putri untuk menyampaikan rasa terima kasih kepada semua orang yang telah membantu evakuasi anaknya. ”Saya nggak bisa balas apa-apa, cuma bisa berdoa,” ujarnya, masih terisak.
Sementara itu, ayah Ina, Syamsudin Ismail, turut menunggui proses evakuasi sang putri. Angin malam yang dingin tak mampu mengalahkan tekadnya untuk menyaksikan upaya penyelamatan sang anak.
”Mohon doanya, ya,” katanya saat salah seorang kerabat datang.
Wajahnya tampak tenang. Namun, sesekali bibirnya bergerak. Mungkin merapal doa untuk keselamatan Ina.
Sebelum mendapat kabar bahwa putrinya mengalami kecelakaan, Syamsudin menerima pesan lewat WhatsApp (WA). Kira-kira pukul 16.30 Ina mengabarkan akan pulang dengan Putri. ”Di sini gelap, hujan, serem,” kata pria 55 tahun itu, menirukan pesan WA Ina.
Tak berselang lama, firasat tidak enak mulai menghampiri Syamsudin. Apalagi, Ina tak kunjung bisa dihubungi. Hingga kemudian dia melihat berita mengenai longsor di area Bandara Soekarno-Hatta. ”Perasaan saya langsung mengatakan bahwa korbannya anak saya,” ujarnya saat ditemui di area evakuasi.
Syamsudin berusaha mengontak Putri. Namun, telepon seluler Putri tak bisa dihubungi. ”Ada WA foto mobil. Saya semakin yakin, lalu ke sini (jalan perimeter selatan bandara, Red),” ucapnya.
Setelah 14 jam tertimbun, akhirnya tubuh Ina berhasil dikeluarkan. Ina langsung dilarikan ke Siloam Hospital Lippo Karawaci. ”Diberi tahu kalau kondisi Putri baik-baik saja,” ujar Syamsudin.
Humas Siloam Hospital Lippo Karawaci Alexander Mutak mengatakan, saat ini Ina stabil. ”Dapat berkomunikasi dengan dokter serta keluarga. Tapi, memang ada keluhan di bagian kakinya yang sering mengalami kram,” katanya.
Dokter telah merontgennya. Selain itu, juga dilakukan CT scan. ”Nanti hasil dari rontgen, CT scan, ditambah dengan penilaian dokter spesialis ortopedi akan memengaruhi apakah Ina akan dirawat biasa atau seperti apa,” ungkapnya.
Puluhan kilometer dari Karawaci, di Serang, sebelum beranjak pulang, Fania, rekan kerja Putri, memberi tahu sang ibu bahwa mukena Putri masih tertinggal di musala kantor. Dia minta maaf karena belum sempat membawanya pulang. ”Nggak papa, Nak, tinggal aja di situ. Biar jadi amal buat Putri,” ujar Subiani. (*/c11/ttg/jpg)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.