Catatan Kecil dari Palu dan Sigi (5-habis), Biarkan Jadi Monumen, Bangun Kota Baru

15

Siapa Presiden Pilihan Mu ?

Karekteristik lumpur dan cerita-cerita bagaimana tahapan bencana itu terjadi relatif sama. Di Petobo, Balaroa maupun di Jono Oge.

Warna lumpurnya pun sama. Sementara jarak antara Petobo dengan Balaroa cukup jauh. Petobo di Palu Selatan, Balaroa di Palu Barat. Lebih jauh lagi jarak Jono Oge dari Petobo maupun Balaroa. Jono Oge di Kabupaten Sigi.

Fakta itu menimbulkan tiga pandangan. Pertama, tiga wilayah bencana itu memiliki karakter geologis yang relatif sama.

Kedua, daratan mulai dari Petobo, Balaroa sampai dengan Jono Oge kemungkinan memiliki karakter yang sama, yang tersambung satu sama lain.

Ketiga, semua daratan di Teluk Palu itu kemungkinan memiliki karakter geologis yang sama.

Hasil penelitian Risna Widyaningrum pada tahun 2012 menemukan bahwa memang hampir semua daratan di Teluk Palu memiliki potensi likuifaksi (perubahan wujud tanah dari padat menjadi cair akibat guncangan atau getaran skala besar).

Risna adalah peneliti dari Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Belum tau, sejauh apa hasil penelitian Risna itu sudah digunakan.

Secara gelogis, struktur lapisan tanah di sebagian besar daratan Teluk Palu itu terdiri dari pasir, lanau dan lempung. Lanau adalah lumpur yang disebabkan antara lain oleh debu batuan.

Sedangkan lempung adalah tanah liat. Tanah padat. Pasir ditambah lumpur, ditambah tanah liat, ketika digetarkan oleh gempa 7,4 SR, maka struktur tiga lapisan itu mencari menjadi satu. Terjadilah likuifaksi itu.

Ketebalan pasir di wilayah yang diteliti, antara 1 sampai 7,2 meter. Lanau di lapisan kedua, antara 0,2 sampai 0,7 sentimeter. Dan ketebalan lempung antara 0,1 sampai 2,7 meter.

Jadi total ketebalan lapisan yang memiliki potensi menimbulkan likuifaksi adalah 10,9 meter.

Itu belum ditambah kontribusi air tanah, yang di wilayah teluk Palu itu kedalamannya antara 0,5 sampai 16 meter. Entah ada jenis meterial apa lagi pada lapisan setelah lempung.

Kedalaman 10,9 meter itu-lah yang menyebabkan ada bangunan tinggi kehilangan sampai lebih dari satu lantai ke dalam tanah. Ribuan rumah hilang dari permukaan tanah. Ada bangunan-bangunan, pohon-pohon dan lahan-lahan berpindah tempat sangat jauh.

Secara resiko, lebih dari 60 persen wilayah Palu memiliki potensi terjadinya likuifaksi. Hampir 70 persennya berpotensi sangat tinggi, kira-kira 25 persen berpotensi tinggi dan sisanya kira-kira 5 persen berpotensi rendah atau sangat rendah.

Tiga hal penting yang bisa dilakukan oleh pemerintah prihal malapetaka di Palu dan Sigi itu. Pertama, daerah-daerah seperti Petobo, Balaroa dan Jono Oge, birkan saja begitu. Tidak perlu dibangun. Biarkan ia menjadi monumen sejarah yang besar.

Buatlah dinding besar di situ yang memuat semua nama pendudukknya yang tewas. Buatkan peta wilayah itu lengkap dengan simbol-simbol penting di dalamnya.

Tapi buatkan juga tempat yang memadai untuk siapa saja yang ingin menaruh karangan bunga di situ. Selain fakta sejarah, ia kelak menjadi daerah wisata yang sangat penting. Dan setiap 28 September orang akan mengenangnya.

Kedua, wilayah kota Palu tidak perlu ada izin pembangunan rumah lagi ataupun gedung. Hotel atau lainnya.

Biarkan saja seperti saat ini. Buat saja kota Palu baru di dataran tinggi yang membentang dari bagian atas Palu Selatan sampai wilayah Sigi.

Saya sudah melintasi dataran tinggi itu Jumat lalu. Sangat indah. Kita dapat menyaksikan keseluruhan Teluk Palu dari situ. Saat ini sebagian wilayah itu dijadikan tempat pengungsi. Lokasi dataran tinggi itu agak jauh dari sesar Palu Koro, juga sesar Matano.

Ketiga, semua bangunan baru di wilayah Palu, Sigi dan Donggala, salah satu persyaratan izinnya, tiang pondasinya harus jauh di bawah lapisan lempung. Atau jauh di bawah kedalaman 10,9 meter. Jangan menaruh pondasi di atas lapisan lempung, atau lapisan lanau. Apa lagi lapisan pasir.

Satu lagi, Bandara Mutiara juga harus ada pertimbangan. Wilayah itu dekat dengan jalur Palu Koro. Sangat dekat dengan Petobo. Memiliki potensi tinggi terjadinya likuifaksi.

Bencana 28 September 2018 hendaklah menjadi triger bagi pemerintah untuk segera melakukan penelitian yang lebih komprehensif lagi terhadap semua wilayah di Palu, Sigi, Donggala.

Daerah itu merupakan jalur sesar Palu Koro. Juga di wilayah-wilayah yang dekat dengan jalur sesar Matano.

CALEG KITA

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.