Siapa calon Bupati Tasikmalaya pilihan anda?

0.4%

0.9%

60.9%

2.3%

0.2%

4.4%

19.5%

11.3%

0%

0.1%

0%

0%

Cerita Siswa Kota Tasik yang Sukses Ciptakan Tangan Robot Khusus Disabilitas dalam Waktu 2 Bulan

4614
0

KOTA TASIK – Pelajar di Kota Tasikmalaya ternyata ada yang kreatif menciptakan teknologi dan bermanfaat untuk warga penyandang Disabilitas.

Dia adalah, Alwan Hanif Ramadhan (16), siswa kelas X Jurusan Mekatronika SMK Negeri 2 Kota Tasikmalaya.

Alwan mampu menciptakan tangan robot khusus untuk penyandang Disabilitas, dengan harga paling murah di pasaran.

Idenya ini berawal saat berkeinginan membantu teman dekatnya yang memiliki kekurangan fisik (Disabilitas) yang tak memiliki telapak tangan dan jari-jarinya.

“Awalnya ingin membantu teman saya yang difabel,” ujar Alwan saat mempraktikan pembuatan hasil karya di sekolahnya kepada radartasikmalaya.com, Selasa (21/1) sore.

“Saya cari-cari informasi pembuatan tangan robot di internet-internet ternyata sudah ada. Awalnya saya kira hanya ada dalam film saja,” sambungnya.

Dia menerangkan, saat akan mencoba membuatnya ternyata harga-harga bahan dan alatnya sangat mahal selama ini. Apalagi mengkoneksikan antara saraf otak dengan tangan robot tersebut.

Bahkan, beber dia, harga satu unit tangan robot di pasaran saat ini mencapai ribuan dollar US.

“Saya mulai putar otak, karena kasihan kan rata-rata orang Disabilitas di Indonesia berasal dari keluarga pra sejahtera,” terangnya.

Makanya, tambah dia, dirinya mencoba bagaimana caranya membuat tangan robot harga murah tapi fungsinya sama. akhirnya dia sukses membuatnya.

Produk buatannya ini pada umumnya berada di pasaran terbuat dari logam.

Dirinya pun melakukan Riset sejak kelas VIII SMP dan akhirnya menemukan bahan tangan robot dengan bahan alternatif plastik jenis PLA dan TPU atau bagian keras dan lentur.

Sehingga produk yang dihasilkan harganya murah dan dapat dijangkau oleh kaum Disabilitas di Indonesia.

“Kalau bahan pakai logam juga itu saya pikir berat bebannya. Saya pun berhasil dengan riset tangan robot dengan bahan plastik,” tambahnya.

Selanjutnya, Alwan mengaku mengembangkan hasil karyanya ke bagian sensor.

Produk pada umumnya di pasaran memakai sensor otak. Namun, menurutnya hal itu selain harga mahal juga mendapatkan kelemahan yakni pengoperasiannya sangat sulit.

“Kelemahannya mereka harus ke laboratorium terlebih dahulu untuk menyesuaikan syaraf dengan sensornya. Selain itu, latihannya harus dilakukan berbulan-bulan,” bebernya.

Riset sensornya terus dikembangkan hampir selama dua tahun lebih supaya saat dibeli produknya langsung bisa digunakan tanpa ribet.

Dirinya pun akhirnya memakai sensor FSR yang bisa dipasang di bagian tubuh mana saja.

“Tapi saya sarankan untuk diletakan di ibu jari kaki. Jadi dalam waktu beberapa menit bisa langsung digunakan,” katanya.

Setelah riset dan hasil karyanya berhasil dengan berbagai riset penelitian dan percobaan, jelas Alwan, dirinya mampu menciptakan tangan robot dengan waktu dua bulan yang harga bahannya hanya 35 Dollar US.

Namun, kekurangannya saat ini tangan robotnya hanya memiliki fungsi utama genggaman dengan kekuatan maksimal 40 kilogram.

“Hasil karya saya jari robotnya bersifat kapasitif terhadap layar telepon pintar. Lalu juga ada sensor temperatur. Selain itu, lengan ini juga anti air. Dengan begitu lengan masih bisa digunakan ketika terkena air,” jelasnya.

Kalau untuk power fungsi tangan robot ini memakai power bank untuk handphone.

Sementara itu, untuk sistem otaknya memakai mikrokontroler arduino nano. Semua bahannya selama ini bisa dibeli di Indonesia dan tak ada yang impor dari luar negeri.

“Tenaganya juga menggunakan power bank yang bisa dibeli di mana saja. Kalau yang ada di pasaran itu kan ada baterai khusus. Otaknya menggunakan mikrokontroler arduino nano,” tukasnga.

Seusai dirinya mampu menciptakan hasil karya tangan robot tersebut pernah dipamerkan pembuatan produknya di Kantor Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Jakarta.

Pernah juga di seminar teknologi ICE BSD Serpong dan pameran karya robotik di Filiphina.

“Ini sudah banyak yang tertarik. Tapi, saya belum memasarkan karena masih prototipe. Masih banyak yang harus diperbaiki. Saya ingin tiap jari itu bisa bergerak secara individual. Karya saya ini akhirnya sudah dipakai teman saya yang difabel, tapi dia masih malu-malu,” tandasnya.

(rezza rizaldi)

loading...