Ciptakan Gaya Mengajar Inovatif

6

TASIK – Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kota Tasikmalaya menggulirkan program Diajar Ulin sebagai salah satu implementasi dari Kurikulum 2013 (Kurtilas). Hal ini diungkapkan Ketua PGRI Kota Tasikmalaya Bangbang Hermana SPd MPd saat talk show di Studio Radar TV, Rabu (5/12).

Ia mengatakan, dengan konsep Diajar Ulin ini guru perlu mengemas pembelajaran menjadi lebih menyenangkan dengan muatan permainan. Dalam seminggu, minimal ada satu hari untuk implementasi program Diajar Ulin, yakni anak belajar sambil bermain baik di dalam atau di luar kelas.

Menurutnya, selama ini masih ada guru yang belum faham aplikasi dari Kurtilas dalam menciptakan pembelajaran yang menyenangkan. “Jadi selama ini guru masih terjebak dengan konsep belajar rutinitas di kelas,” tutur Kepala SDN 4 Pengadilan Tasikmalaya tersebut.

Dengan gerakan Diajar Ulin ini, sambungnya, bisa memberikan dorongan dan inspirasi pada guru lebih kreatif mengemas pembelajaran yang menyenangkan.

“Sesungguhnya kami hanya mengingatkan kepada guru, karena dari dulu konsep belajar sambil bermain ini sudah ada, hanya sekarang kita kemas dengan cantik dan bisa diimplementasikan dengan baik,” ujarnya.

Lanjutnya, untuk bisa mengoptimalkan program tersebut harus ada persamaan persepsi dari semua pihak, harus ada pengawalan dari semua pemangku kebijakan sehingga bisa sinkron.

“Kurikulum saat ini sudah merancang 60 persen tatap muka dan 40 persen mandiri, ini bisa dimanfaatkan dengan kemasan yang menyenangkan,” ungkapnya.

Ketua Asosiasi Guru Penulis (AGP) Kota Tasikmalaya Caswita SPdI MAPd menambahkan, konsep Diajar Ulin sebenarnya sudah diterapkan oleh tokoh pendidikan sejak zaman dulu. Melalui konsep ini, guru harus menggiring anak untuk menyukai atau senang dulu terhadap belajar.

“Target utamanya adalah anak senang dulu, ketika sudah senang dalam permainan disisipkan pelajaran akan mudah masuknya. Apalagi konsep bermain ini sesuai dengan dunia anak,” terangnya. Guru jangan takut dalam mengimplemtasikan program tersebut selama hal itu sesuai dengan aturan yang ada.

Sekreatris AGP Kota Tasikmalaya Budiman SPd mengatakan, tokoh pendidikan Ki Hajar Dewantara dalam sebuah buku menyatakan bahwa kognitif, apektif dan psikomotor harus terintegrasi dalam pendidikan. Hal ini sudah tertuang dalam Kurtilas. “Konsep Diajar Ulin ini tujuannya agar semua kecerdasan anak terintegrasi dan anak berkembang secara alamiah,” ungkap Budiman yang juga guru SDN 2 Pengadilan Tasikmalaya.

Ia mencontohkan, konsep Diajar Ulin ini bisa dilakukan dengan mengajak anak keliling lingkungan sekolah, atau menelusuri sungai dekat sekolah, bisa juga dengan menonton film bersama. “Jadi guru bebas berkreasi disesuaikan dengan tema pembelajaran” tuturnya. (ais)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.